Lihat ke Halaman Asli

Himam Miladi

TERVERIFIKASI

Penulis

Jangan Pernah Membandingkan Anak Kita dengan Anak Lainnya

Diperbarui: 21 November 2020   07:16

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tak ada anak yang sempurna sebagaimana kita orangtua tidak sempurna dalam mendidik anak (dokpri)

Ini adalah secuil pengalaman saya sebagai orangtua. Kejadiannya sewaktu kedua anak saya masih duduk di bangku SD. Putri sulung saya di kelas 4, sedangkan adiknya laki-laki di kelas 1.

Setelah menerima rapor, wajah sang kakak berseri-seri karena targetnya terlampaui.  Dari 10 besar menjadi 4 besar di kelasnya. Sementara sang adik, terlihat cuek-cuek saja meski peringkatnya harus turun lumayan drastis. 

Saat keduanya tiba di rumah usai mengambil rapor di sekolah, sang kakak dengan antusias bercerita perihal prestasinya dan nilai rapor adiknya yang anjlok. Kakak istri saya yang kebetulan sedang menginap di rumah kemudian menasehati sang adik, agar lebih giat belajar lagi dan mengurangi waktu bermainnya. Hal yang sama diutarakan juga Eyangnya, yang mengatakan turunnya nilai sang adik lantaran terlalu banyak bermain.

Awalnya, saya tidak menaruh perhatian khusus pada momen tersebut. Baru ketika saya masuk kamar, dan mendapati sang adik menangis sampai sedemikian tersedunya, saya mulai menaruh perhatian penuh: Ada apa dengan si bungsu ketika dinasehati bibi dan eyangnya tadi?

Saya lalu bertanya pada istri, mengapa adik tiba-tiba menangis usai dinasehati eyangnya?

Istri saya pun bercerita, mungkin sang adik merasa tidak dihargai jerih payahnya selama masa sekolah kemarin. Menurut istri saya, sang adik memang banyak bermain, tapi dia berusaha keras dalam hal pelajaran sekolah.

Setiap PR dari sekolah, pasti dikerjakannya dahulu sampai selesai sebelum dia bermain dengan temannya. Pernah ketika ada waktu libur seminggu, sang adik diberi PR yang menumpuk dari sekolahnya. Usai pulang sekolah, dia bergegas mengerjakan PR itu, sampai selesai semua. Istri saya malah jadi khawatir, karena sang adik mengerjakannya mulai pulang sekolah sampai sore hari tanpa mau berhenti! Dia hanya berhenti sejenak ketika adzan tiba dan pergi ke masjid. Setelah itu, dilanjutkannya kembali pekerjaan rumahnya tersebut.

Begitu pula jika ada tugas-tugas pra karya sekolah, sang adik berusaha mengerjakannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Meski hasilnya jadi seadanya.

Hargai Setiap Kelebihan dan Kekurangan Anak Kita

Dari situlah kemudian saya berpikir, mungkin perasaan sang adik terluka karena orangtua hanya ingin melihat hasil akhir, tapi tidak mau melihat dan menghargai proses yang dia kerjakan.

Setiap anak pasti punya bakat, kemampuan dan keistimewaan yang berbeda. Begitu pula kedua anak saya. Sang kakak, memang relatif berbakat dalam kemampuan akademik. Cepat menangkap pelajaran, mudah dalam hal menghafal, dan senang membaca. Sebuah kebiasaan yang dibawanya semenjak masih berusia 5 tahun.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline