Lihat ke Halaman Asli

Lulusan "Siap Pakai", Apakah Lembaga Pendidikan Kita Memproduksi Celana?

Diperbarui: 13 Juli 2018   20:48

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber ilustrasi: istimewa

Saya paling heran dan masygul membaca promosi banyak kampus yang mengandung kalimat "kami melahirkan lulusan yang siap pakai".

Siap pakai?

Pertama, dari segi bahasa saja, penggalan kata yang lazim disebut frasa itu sudah layak dipertanyakan keakuratannya. "Pakai" adalah kata kerja yang umumnya dilekatkan dengan pakaian, topi, sepatu, atau apapun yang dikenakan di tubuh.

Maka kalimat "saya memakai celana jins" adalah berterima karena jins memang sejenis pakaian yang kita kenakan di badan. Untuk mengungkapkan makna "mengambil manfaat dari sesuatu barang dengan cara mengoperasikannya" ada kata "guna". 

Maka, kalimat "saya menggunakan gunting untuk memotong tali itu" adalah berterima. "Saya memakai gunting untuk memotong tali itu" secara semantik akan mengandung arti bahwa saya mengenakan gunting di kepala atau kaki saya untuk bisa memotong tali itu. Aneh, tidak lazim, dan menggelikan.

Kembali pada hal "lulusan siap pakai". Maka, ungkapan itu menyiratkan makna bahwa setelah lulus dari kampusnya, para insan muda terdidik itu akan dikenakan oleh pihak majikan. Jika Anda adalah majikan itu, di bagian tubuh mana Anda akan memakai para lulusan itu? Mungkin akan enak kalau dipakai di perut supaya tidak masuk angin. Atau lebih enak lagi dipakai di bagian sedikit di bawah perut supaya . . . Ah, sudahlah.

Kedua, ungkapan "lulusan siap pakai" menyiratkan makna bahwa lembaga pendidikan tinggi tak ubahnya seperti mesin pabrik yang bekerja sesuai standar tertentu dengan urutan yang sudah baku pula untuk menghasilkan para lulusan yang "siap dikenakan (dipakai)".

Kalau demikian, apa bedanya perguruan tinggi dengan pabrik celana dalam? Keduanya sama-sama berfungsi dengan mengoperasikan mesin-mesinnya sesuai dengan SOP dan standar baku sehingga menghasilkan lulusan yang mutunya sesuai standar pula.

Maka rasanya tidak salah grup band Pink Floyd dengan lagunya "The Wall" mengkritik pedas sistem pendidikan yang hanya mencetak manusia-manusia berpikiran seragam seperti ini. Tidak keliru pula seorang pembicara di TED bernama Sir Ken Robinson menceramahkan dengan elok pemikirannya bahwa sekolah telah membunuh kreativitas.

Kenapa perguruan tinggi bisa seperti ini? Mungkin tidak terlalu keliru untuk menduga bahwa kampus telah menjadi subordinat kaum industrialis. 

Disadari atau tidak (mungkin lebih banyak tidaknya), para pendidik di kampus telah mengikuti dan mengaminkan cara pikir kaum industri yang mengutamakan keseragaman, kecakapan kognitif akademis, dan pembakuan perilaku dan cara berpikir.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline