Lihat ke Halaman Asli

Parlin Pakpahan

TERVERIFIKASI

Saya seorang pensiunan pemerintah yang masih aktif membaca dan menulis.

Kereta Cepat Jakarta-Bandung Terancam Menjauh dari Harapan Masyarakat

Diperbarui: 21 April 2023   15:09

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Foto :  finance.detik.com

Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) menjadi polemik besar, ketika China belum lama ini dikabarkan meminta APBN Indonesia sebagai penjamin pinjaman utang proyek tsb. Menko Marinvest Luhut Binsar Panjaitan, mengungkapkan tuntutan dari pemerintah China agar APBN Indonesia bisa menjadi jaminan pembayaran utang proyek KCJB.

Beaya proyek yang semula 7,27 miliar dollar AS atau setara Rp 108,14 triliun itu, mengalami pembengkakan 1,24 milyar dollar menjadi 8,51 milyar dollar. Sangat mengejutkan.

Tuntutan itu tidak bisa langsung dipenuhi. Luhut menawarkan alternatif dengan penjaminan utang melalui PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) atau PII.

Sementara parlemen menginginkan agar pemerintah berpikir matang soal kasus ini, agar anggaran yang saat ini stabil tidak terguncang oleh isu tsb.

Kesepakatan sebelumnya menyatakan pembangunan kereta cepat tidak akan menggunakan dana dari APBN. Tapi ini pun berubah ketika belum lama ini Jokowi membuat Perpres terkait penggunaan dana APBN untuk proyek-proyek strategis.

Masalah psikologis yang dihadapi sekarang adalah China ingin APBN menjadi penjamin. Tetapi exit kesitu tak mudah. Dengan kata lain prosedurnya akan menjadi panjang. China tengah mempertimbangkannya, dan itulah kesempatan bagi Indonesia untuk melobbynya lebih jauh.

Proyek kereta cepat adalah gagasan Jepang. Karena bunga pinjaman rada miring, yang mendapat proyek malah China. Awalnya mudah, tapi dalam perjalanan waktu terjadi sentakan China seperti ini di luar perkiraan awal.

Mengenai besaran bunga utang, pemerintah juga mengakui gagal melakukan negosiasi. Pemerintah China bersikukuh bunga yang harus dibayarkan sebesar 3,4 persen per tahun.

Suku bunga yang diajukan 2 persen merupakan suku bunga yang diajukan pada 2017. Ketika itu suku bunga industri rendah. Kalau dilihat cost overrun 3,4 persen, itu sekitar 0,2 persen di bawah obligasi pemerintah AS selama 30 tahun.

Pinjaman dimanapun bunganya sekarang bisa 6 persen. Jadi kalau 3,4 persen tak tertawar lagi misalnya, yang penting masih mampu membayar. Pemerintah tetap optimis bisa membayar utang tsb karena capaian pajak saat ini, mengutip Menko Marinvest, sebesar 48,6 persen. Nggak ada masalah dengan suku bunga pinjaman 3,4 persen, Negara kita ini semakin efisien, demikian Luhut Binsar Panjaitan -- lih https://tinyurl.com/2aooujcr

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline