Lihat ke Halaman Asli

Nursalam AR

TERVERIFIKASI

Konsultan Partikelir

Ibu Guru Spesial dan Murid Malin Kundang

Diperbarui: 25 November 2020   20:16

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi guru dan murid/Foto: shutterstock.com

"Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali amal kebaikan." (Hadis Riwayat Ahmad, Nasa'i dan Ibnu Majah)

Di Hari Guru Nasional ini, 25 November, aku teringat hadis Rasulullah tersebut saat mengenang seseorang yang spesial dalam hidupku. Aku teringat pertemuan dengannya kala itu.

"Berangkat, Bu?" sapaku pada seorang ibu tua berjilbab yang sedang berjalan tertatih-tatih menuju halte bus. Ia menggunakan tangkai payung panjang sebagai tongkat.

Wajah tuanya terperangah. Kacamata minusnya masih seperti dulu. Hanya bertambah tebal. 

Di tengah kebingungannya berusaha mengenaliku, aku menjumput lengan keriputnya dan mencium tangannya. Penghormatan untuk guruku. Ibu guru spesialku.

Keberkahan dan panjangnya umur, itulah yang aku mohonkan kepada Allah untuk ibu yang satu ini. Di manapun ia berada saat ini. Ia bukan ibuku. Bukan juga saudara atau kerabatku. Namun ia, dalam salah satu fase perjalanan hidupku, sangat berarti.

Dan tidaklah hidupku yang sekarang ini lengkap, atau bahkan mungkin aku tidak akan seperti sekarang ini, jika tanpa amal kebaikannya untukku saat aku masih di bangku Sekolah Dasar (SD).

Bu Satimah, demikian kami memanggilnya. Ia guru kelas satu SD. Ialah orang pertama yang mengajariku baca tulis. Tentu itu memang tugas setiap guru kelas satu, setidaknya di angkatan SD era 80-an, yang barangkali terasa wajar dan tidak istimewa. Barangkali demikian.

Dan memang amal kebaikan Bu Satimah, tanpa mengecilkan jasanya yang satu itu, yang teramat istimewa padaku bukanlah saat ia memposisikan diri khusus sebagai guru. Justru ketika ia memposisikan diri sebagai ibu, sebagai manusia yang punya kepekaan dan nurani, di situlah ia menjadi sangat berarti dan tak tertandingi.

Sewaktu kecil, aku menderita penyakit kencing batu sejak usia 4 tahun. Konon sebabnya karena aku terlalu banyak mengonsumsi makanan dan minuman yang manis-manis. Sakitku itu terus berlanjut ke tahun-tahun berikutnya hingga sukses mengubahku yang semula bayi montok yang aktif menjadi balita yang kuyu dan penyakitan. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline