Lihat ke Halaman Asli

Suprihati

TERVERIFIKASI

Pembelajar alam penyuka cagar

Senyum Tersungging di Geosite Tongging, Geopark Kaldera Toba

Diperbarui: 14 April 2019   03:50

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Geosite Tongging, Geopark Kaldera Toba (dok pri)

Bulan April selalu menghadirkan debar tersendiri bagi penyuka Taman Kebumian (Geopark). April menjadi awal harapan apakah pengajuan pengakuan UNESCO Global Geopark Network (UNESCO GGN) diagendakan dalam rapat penetapan. Tahun 2019 ini sebanyak 14 geopark dari seluruh penjuru dunia yang lolos seleksi dan dinyatakan layak menuju rapat penetapan.

Bersyukur Indonesia lolos dengan usulan Geopark Belitong, bersama sesama anggota ASEAN yaitu Filipina dengan Bohol Island dan Vietnam dengan Dak Nong. Mari bersama menopang harap dan doa semoga geopark Belitong lolos menjadi UNESCO GGN. Menambah perolehan pengakuan 4 UNESCO GGN yaitu Batur, Gunung Sewu, Rinjani dan Cileteuh.

Pengumuman 2019 New UNESCO Global Geopark Applications ini juga sekaligus meruntuhkan harapan beberapa geopark nasional kita semisal Geopark Kaldera Toba (GKT) di Sumatera Utara. Pemda Sumut melalui dinas pariwisata menjadikan GKT sebagai ikon wisata Sumut. Tetap berupaya memelihara anugerah dan meningkatkan layanan.

Geosite Tongging sebagai bagian dari Geopark Kaldera Toba
Geopark kaldera Toba (GKT) mencakup area danau Toba dan daerah sekitarnya. Komponen geopark meliputi diversitas (keragaman) geologi, keragaman flora fauna dan keragaman budaya. Keragaman geologi di GKT ini sungguh luar biasa. Danau dengan panjang 100 km, lebar 30 km dan kedalaman 505 m ini merupakan danau terbesar di Indonesia.

Berada di kaldera gunung berapi Toba Purba. Letusan dahsyat yang menghasilkan kaldera cekungan yang akhirnya terisi air, inilah danau Toba. Proses geologis, memunculkan pengangkatan dasar kaldera di bagian tengah ke permukaan menjadi Pulau Samosir yang berada di tengah danau Toba. Secara periodisasi, kaldera Toba kini merupakan akumulasi dari 3 (tiga) letusan.

Berada diantara Bukit Barisan dan Samudera Indonesia, GKT memiliki keelokan alam yang beragam. Laboratorium geologi juga geomorfologi alam yang pastinya tak lekang dari mitologi alias aneka dongeng penyerta. Pun keragaman budaya dari suku Batak yang mengelilingi danau Toba.

Mengacu sebaran dan identifikasi singakapan batuan dan situs-situs geologi, Kaldera Toba terdiri dari 16 geosite yang dikelompokkan menjadi 4 (empat) Geoarea. Berdasarkan pertimbangan kondisi geografisnya, dipilah menjadi geoarea Kaldera Porsea, Kaldera Haranggaol, Kaldera Sibandang dan Geoarea Pulau Samosir.

Nah, berada di ujung Utara GKT adalah geoarea Kaldera Haranggaol yang terdiri dari beberapa geosite (situs kebumian). Salah satunya adalah Geosite Tongging Sipiso-piso.

Senyum Tersungging di Geosite Tongging
Serasa menjadi pintu gerbang memasuki GKT dari jalur Medan -- Berastagi -- Danau Toba. Geosite Tongging secara administrasi berada di desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Berada pada ketinggian 1400an mdpl dengan udara nan sejuk.

Selaku simbok kebun yang terprovokasi Pamannya si Poltak (kompasianer Felix Tani), tentunya tak melewatkan singgah di geosite Tongging saat berkesempatan macul di Siantar. Meski tak lulus pelajaran geologi dan saudaranya geomorfologi, secara awam masih bisa menikmati keelokan bentang lahan.

Melongok Danau Toba dari Tongging (dok pri)

Seruan woow...spontan menguar dari mulut kami saat tiba di kawasan wisata Sipiso-piso. Udara sejuk, sejauh mata memandang terlihat hamparan biru danau Toba dengan latar Pulau Samosir nun di tengah sana. Hutan pinus menghijau, tebing-tebing terjal memagari tepian danau dengan aneka ragam rupa bentang alam.
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline