Lihat ke Halaman Asli

Neni Hendriati

Guru SDN 4 Sukamanah

Cerpen: Kapok

Diperbarui: 18 Januari 2023   06:57

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Pohon-pohon besar itu tampak angker menjulang. Kami menuruni jalanan licin di sebelahnya. Tampak di baliknya, sebuah telaga yang cukup besar dan bening, sehingga kami dapat melihat dasar kolam. Keadaan agak gelap, terlindung rimbunnya dedaunan. Akar-akar menjuntai, sebagian membelit pohon kian kemari. Aku terpana, dan diam mematung dan refleks menjauhi pohon itu.

       Dengan penuh percaya diri, Kak Ina, pimpinan geng, segera mendekati telaga.

       "Ayo kita coba airnya!"

       Dia menciduk air dengan kedua telapak tangannya, dan tanpa ragu diusapkan ke wajahnya.

       Kami yang terdiri dari enam orang, hanya melongo melihat aksinya.

       "Ayolah, coba rasakan dinginnya air di sini!"

       Kak Reni, kakakku, menggelengkan kepalanya, begitu pula teman kakak yang lainnya.

       "Kita pulang saja, di sini serem!" Kak Reni memegang tengkuknya.

       Akupun merasakan hal yang sama, bulu kudukku tiba-tiba meremang.

       "Ayo, cobalah, Lita!"

       Tiba-tiba Kak Ina menarik tanganku, secepat kilat, dicelupkannya tanganku. Cess, air dingin mengenai tanganku. Sejuk sekali, membuatku menggigil.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline