Lihat ke Halaman Asli

Pendidikan Indonesia Perlu Belajar dari Jepang

Diperbarui: 17 Juni 2015   15:06

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gadget. Sumber ilustrasi: PEXELS/ThisIsEngineering

Mungkin jika kita bicara tentang negara Jepang kepada para pejuang angkatan 45, mereka pasti apatis dan antipati karena negeri Indonesia pernah dijajah selama tiga setengah tahun. Pada masa itu cukup membuat kenangan buruk bagi rakyat Indonesia yang pernah mengalami romusha (kerja paksa). Konon, penjajahan jepang lebih ganas atau lebih keji dibanding dengan penjajahan Belanda. Meskipun demikian, jika kita melihat perkembangan negara Jepang yang sangat cepat bangkit dari kehancuran akibat di bom Atom oleh Amerika.

Membaca Sistem Pendidikan Jepang tidak Mengenal Ujian Nasional, saya jadi terinspirasi untuk membagikan tentang bagaimana pendidikan di Jepang yang perlu kita tiru. Di artikel tersebut dijelaskan tentang pendidikan Jepang yang tidak mengenal tentang Ujian Nasional. Mungkin pertanyaannya, bagaimana bisa berkualitas pendidikan siswanya jika tanpa Ujian Nasional? Jawabannya adalah mungkin iya dan mungkin tidak.

Jika sekolah tersebut berkualitas ditunjang dengan guru yang standarnya sudah berkualitas, minimal lulusan S1 dan mengerti tentang psikologi pendidikan anak, pasti sekolah tersebut semakin berkembang dan berkualitas. Pertanyaanya, bagaimana dengan sekolah yang gurunya tidak berkualitas seperti di pelosok desa atau pedalaman negeri.

Namun, yang perlu kita pelajari dari tulisan tersebut yakni, pelajaran bahasa Inggris semakin ditekankan agar pelajar Jepang dapat lebih siap bergaul dengan kalangan internasional. Kebijaksanaan PM Jepang Shinzo Abe ingin sebanyak mungkin pelajar Jepang pergi belajar atau internship ke luar negeri sehingga wawasan anak muda Jepang jadi luas nantinya, wawasan internasional.

Kyoukasho atau buku pelajaran Jepang dibagikan gratis oleh pemerintah Jepang dengan berbagai perbaikan. Kalau dulu sejarah hitam Jepang dengan penjajahannya berusaha tidak dimunculkan, kini sejarah Jepang sudah berisi apa adanya, menuliskan sesuai sejarah di masa lalu.

Pendidikan di Jepang sampai dengan SMP Umumnya mendapat subsidi uang dari pemerintah sehingga pelajar dapat belajar gratis. Uang untuk anak kita bukan untuk orangtuanya. Tetapi ditransfer uang ke rekening orangtuanya, buat uang sekolah, beli makanan, transportasi sekolah dan sebagainya keperluan si anak.

Ada pula sekolah yang sampai dengan SMA memberikan subsidi kepada muridnya. Tetapi yang SMA itu tampaknya untuk warga negara Jepang. Hal subsidi ini khususnya yang SMA masih lebih kepada kebijaksanaan sekolah masing-masing. Tetapi sampai dengan SMP semua warga negara yang ada di Jepang, miskin, asal visa sah dan lapor pajak dengan benar di Jepang, anaknya sampai dengan SMP akan mendapat subsidi.

Ujian masuk sekolah di Jepang memang sangat sulit. Kalau lulus, umumnya lulus semua, kalau tidak lulus (ryunen) biasanya ada pendidikan tambahan bagi pelajar tersebut. Pada dasarnya sekolah mau meluluskan semua murid sampai dengan SMA asal si anak benar-benar belajar dengan baik sesuai petunjuk sekolah dan pendidikan yang diberikan gurunya. Jadi lulus dapat dikatakan dengan mudah. Bahkan sampai dengan S3 (tingkat Doktor) pun dapat lulus dengan mudah asal wajar-wajar saja. Namun masuk sekolah, apalagi masuk S1, S2 dan S3 sangat sulit sekali di Jepang.

Sehingga ada kegiatan Juken atau semacam bimbel (bimbingan belajar) di Jepang agar si murid bisa masuk sekolah yang diinginkan dengan baik. Orangtua murid seringkali berjuang habis-habisan untuk memasukkan anaknya ke sebuah sekolah (favorit) karena tahu masa depan akan baik. Misalnya masuk ke Universitas Tokyo (seperti Universitas Indonesia), maka masa depan si anak biasanya baik. Ini salah satu sekolah impian di Jepang.

Tapi SMA adalah tanggung jawab masing-masing sehingga di sinilah mulai persaingan dengan kegiatan JUKEN ang harafiahnya mengikuti ujian masuk, tetapi secara umum merujuk pada kegiatan belajar untuk mempersiapkan ujian masuk. Dan biasanya murid akan mengikuti pelajaran tambahan di bimbingan belajar, bimbel (Aku ingat topik ini yang membawaku ke blog Bang Hery Azwan tahun 2008 lalu).

Ada pula sistem undian atau Chuusen. Murid tertentu bisa ikut ujian dan lulus lebih awal kalau beruntung terpilih dalam undian. Logika penulis, mestinya chuusen tersebut dilakukan setelah ujian. Kalau ada yang tidak lulus, masih dimungkinkan ikut undian sehingga bisa ikut lulus, bisa masuk sekolah tersebut. Tapi di Jepang justru terbalik. Yang tidak mendapat undian, yang gagal, tentu tidak bisa ikut ujian dan tak bisa masuk sekolah yang diinginkan tersebut. Jadi di Jepang masuk sekolah bukan soal uang. Kalau benar sudah lulus ujian masuk sekolah, sudah diterima, barulah bicara uang masuk sekolah. Lain kalau di Amerika Serikat, yang penting ada uang, berapa bisa bayar, walau mahal, pasti bisa masuk sekolah.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline