Lihat ke Halaman Asli

Gunung Ijen yang Memukau (Bagian 1)

Diperbarui: 26 Juni 2015   01:27

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sebenarnya yang akan saya sampaikan sudah setahun lalu (lebih) kejadiannya, tapi apa yang saya alami benar-benar membuat saya makin mengagumiNya. Sekaligus mencoba bikin artikel di kompasiana untuk saling berbagi cerita.

Gunung Ijen yang berada di daerah Jawa Timur tepatnya perbatasan Banyuwangi dengan Bondowoso, merupakan daerah yang masih asing buat saya. Kebanggaan akan danau asam terbesar di dunia yang ternyata ada di Indonesia, membuat saya ingin sekali pergi jalan-jalan ke sana.

Berangkat bersama rekan dan istri dari daerah Kuta, Bali, sampailah kita sampai di pos terakhir dimana mobil dan kendaraan bisa lalui. Pos ini bernama Paltuding.

Di pos ini terdapat beberapa warung, kamar mandi umum, tempat sembahyang dan juga penginapan seadanya. Kita memutuskan menginap di penginapan yang mirip sekali dengan kamar kost. Hanya berukuran 3x3.5m. Jangan berharap ada TV atau AC, di sini tempat tidur tersedia seadanya. Tetapi itulah menariknya berlibur (menurut saya) dimana kita bisa menginap, makan, dan melakukan aktifitas layaknya penduduk setempat lakukan.

Awal perjalanan dimulai sekitar pukul 2-3 dini hari. Diawali dengan jalan mendatar sekitar 1,5 km. 'Baterai' kami semua yang masih penuh membuat jalan datar ini serasa sangat mudah dilalui. Dilanjutkan jalanan yang makin menanjak dan makin menanjak. Di sela-sela penanjakan itu, kami sesekali dilewati oleh orang-orang penambang belerang yang hilir mudik membawa keranjang.

'Nafas-nafas kuda' dari kami mulai terdengar. Suhu badan naik dan keringat mulai membasahi pakaian. Jaket rasanya menjadi barang yang saya ingin tanggalkan, tetapi tiupan angin dingin membuat saya membatalkan niat saya itu.

Di pos penimbangan atau dikenal dengan nama pos bunder, kita bertemu dengan seorang penambang yang menawarkan jasa 'guide'nya kepada kita. Karena suasana yang sangat gelap serta pengalaman dari anggota yang sangat minim, membuat kali mengiyakan tawaran sang bapak.

Berbekal obor berbahan bakar minyak tanah, kita berjalan beriringan layaknya film The Lord of the Ring yang terkenal itu. Hehehe..

Perjalanan yg ditempuh mulai menunjukkan tantangan yang makin ganas. Sudut tanah semakin curam dan stamina benar-benar diuji disini. Gelapnya malam membuat saya terbantu untuk tidak melihat seberapa jauh sebenarnya perjalanan ini. Tiba di puncak gunung, berarti perjalanan belum selesai. Karena sebenarnya kita ingin sekali sampai ke danau asamnya yang artinya perjalanan menuruni kawah mesti dilakukan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline