Lihat ke Halaman Asli

Mutiara Dihati

Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia

Teman Bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)? Peran Teman Sebaya dalam Pendidikan Inklusi bagi ABK

Diperbarui: 5 Januari 2024   18:21

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Pendidikan merupakan hak yang seharusnya diterima oleh setiap warga negara. UU no. 20/2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional pasal 5 ayat 1 sendiri menyatakan bahwa setiap warga negara di Indonesia mempunyai hak yang sama dalam memperoleh pendidikan yang bermutu (Nurfadhillah, 2021). Melalui isi undang undang tersebut maka anak dengan kebutuhan khusus (ABK) juga memiliki hak dalam mendapatkan pendidikan yang sama dengan anak lainnya. Akan tetapi anak berkebutuhan khusus sering kali dibeda-bedakan bahkan dalam bidang pendidikan ini. Tetapi pada masa sekarang di Indonesia telah dilaksanakan pendidikan inklusi yang dapat membantu anak-anak berkebutuhan khusus mendapatkan pendidikan yang sama dengan teman-temannya.

Pendidikan inklusi dapat diartikan sebagai pemberian peluang kepada setiap anak mau itu anak reguler atau anak berkebutuhan khusus untuk mengikuti pembelajaran di satu lingkungan yang sama (Hasmyati dkk., 2022). Tujuan dari pendidikan ini adalah melibatkan anak dengan kebutuhan khusus untuk belajar bersama anak-anak sebayanya di sekolah reguler yang sama (Irdamurni, 2019). Pelaksanaan pendidikan inklusif ini apabila berhasil maka akan menjadi salah satu sistem layanan yang dapat membantu menyamaratakan setiap anak terutama anak-anak dengan kebutuhan khusus (Wijaya, 2019). Maka dari itu pada pelaksanaannya diperlukan berbagai pendukung supaya dapat mencapai keberhasilan.

Salah satu pendukung terkuat adalah teman sebaya. Pada pelaksanaan pendidikan di sekolah tentu orang yang akan selalu ada di sekitar anak berkebutuhan khusus adalah teman-temannya. Peran dari teman sebayanya akan mempengaruhi kenyamanan dan keamanan anak dengan kebutuhan khusus saat menempuh pendidikan. Teman sebayanya dalam hal ini dapat memberikan dukungan sosial berupa penerimaan terhadap anak berkebutuhan khusus bahkan membantu mereka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah (Hasan & Handayani, 2014). Selain itu dukungan sosial yang baik dari teman sebaya juga akan mengurangi stres sosial yang dialami anak berkebutuhan khusus (Fatmawati, 2020). Stress sosial ini biasanya disebabkan oleh penolakan orang-orang terhadap diri anak berkebutuhan khusus tersebut.

Pada lingkup bermain dan berteman juga anak-anak reguler dapat membantu teman mereka yang membutuhkan kebutuhan khusus. Hal ini misalnya membantu dalam memperkenalkan lingkungan pertemanan, sekolah, dan bermain mereka selama di sekolah inklusi bahkan hingga membantu anak berkebutuhan khusus untuk terhindar dari bahaya yang mungkin terjadi (Ermayuni & Fatmawati, 2019). Kualitas pertemanan antara anak berkebutuhan khusus dengan teman-teman sebayanya dapat meningkatkan keterampilan sosial dari ABK tersebut (Usup dkk., 2023). Anak-anak dengan kebutuhan khusus juga akan merasa nyaman untuk bermain dan belajar dengan teman-teman sebayanya di sekolah.

Teman sebaya pada hal ini juga berperan dalam kegiatan pembelajaran. Teman sebaya ini dapat membantu anak berkebutuhan khusus di kelas selama pembelajaran, bahkan guru dapat membentuk kelompok-kelompok kecil untuk berdiskusi bersama (Diantika dkk., 2020). Tetapi tetap saja dalam pemberian bantuan ini diperlukannya pengarahan dari guru. Hal ini dilakukan untuk menghindari perbedaan perilaku baik itu terhadap anak berkebutuhan khusus maupun siswa-siswa reguler lainnya (Jayanti, 2019). Pemberian bantuan oleh teman sebaya selama pembelajaran ini memberikan kenyamanan dan keterbukaan dari anak-anak berkebutuhan karena akan dibantu oleh teman-temannya.

 Peran terbesar yang dapat diambil oleh teman sebaya adalah menjadi tutor sebaya. Tutor sebaya adalah penempatan siswa-siswa tertentu untuk menjadi tutor atau guru bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Pembelajaran melalui tutor sebaya dapat meningkatkan keterampilan kognitif, motorik, dan sosial seorang siswa (Ciremay & Kartiko, 2020). Tutor sebaya juga membuat anak berkebutuhan khusus menjadi terbuka untuk bertanya karena dirinya bertanya kepada teman sebayanya, tidak seperti bertanya kepada seorang pengajar. Model dalam tutor teman sebaya ini juga dibagi menjadi empat sebagai berikut. (Hartinah & Hendriani, 2022).

  • Classwide Peer Tutoring (CWPT), pada model ini dibagi menjadi kelompok yang berjumlah 2-5 orang dengan didalamnya ada satu orang yang menjadi tutor sebaya.
  • Cross age peer tutoring, pada model ini siswa yang lebih tua di pasang kan kepada anak berkebutuhan khusus yang lebih muda
  • Peer Assisted Learning Strategies (PALS), pada model ini siswa akan berpasangan dengan tutor sebayanya dengan guru sebagai pemberian instruksi
  • Same age peer tutoring, pada model ini tutor yang dipilih memiliki umur yang sama dengan anak berkebutuhan khusus

Peranan dari tutor sebaya ini menunjukkan sifat positif dan juga efektif dalam membantu anak berkebutuhan khusus (Laila Romadlona & Wiryanto, 2023). Tutor sebaya akan ditugaskan akan membantu dalam menjelaskan materi dengan lebih baik kepada teman-temannya yang berkebutuhan khusus (Faiza dkk., 2020). Akan tetapi sebelum menjadikan seorang siswa sebagai tutor sebaya perlu diperhatikan juga karakteristik dari siswa tersebut. Salah satu karakteristik yang terpenting adalah bahwa tutor sebaya harus memiliki kesabaran dalam membantu teman-temannya dengan berkebutuhan khusus karena cara mereka memahami suatu pembelajaran pasti berbeda dengan dirinya. (Angelia Widyastuti & Widiana, 2020).

Berdasarkan apa yang telah dibahas bahwa teman sebaya memiliki peran yang cukup penting dalam pelaksanaan pendidikan inklusi. Teman sebaya dapat memberikan dukungan sosial, memperkenalkan lingkungan bermain, membantu dalam pembelajaran hingga menjadi tutor sebaya. Pada hal ini diharapkan teman sebaya dapat memberikan bantuan kepada teman-temannya yang berkebutuhan khusus dan anak-anak berkebutuhan khusus dapat belajar dengan lebih nyaman bersama teman-teman sebayanya.

Referensi

Angelia Widyastuti, P., & Widiana, I. W. (2020). Analisis Peran Tutor Sebaya Terhadap Sikap Sosial Siswa Tuna Rungu. Journal of Education Technology, 4(1), 46. https://doi.org/10.23887/jet.v4i1.24083

Ciremay, R. R., & Kartiko, D. C. (2020). Pengaruh Metode Pembelajaran Tutor Sebaya Terhadap Hasil Belajar Dribbling Sepakbola Pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Journal of Physical Education, 1(1), 712--717.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline