Lihat ke Halaman Asli

Mutia AH

Penikmat Fiksi

Nostalgia Guru-guru Waktu SD: Pak Suwarno, Kepala Sekolah Nyentrik Pecinta Lingkungan

Diperbarui: 3 Mei 2023   09:04

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

kompas.com

Jangan bertanya dimana sekolah SD saya berada. Sampai ke ujung dunia, tak akan lagi ditemukan keberadaanya.

Bangunannya telah dibongkar beberapa tahun silam dan sekolahnya ditutup jauh sebelum pembongkaran. Tidak ada murid, alasan yang tak dapat diganggu gugat untuk menutupnya rapat. Jika bertandang ke lokasinya, tak ada sisa-sisa bekas sekolahan itu pernah ada. Sebab perubahannya sudah sangat jauh berbeda. 

Jika berkunjung ke sana, hanya ada Motor-motor berbodi ramping yang tangguh. Meliuk-liuk di jalanan becek berkelok, menanjak dan curam. Ya, Sekolah SD saya dulu, kini telah menjadi sirkuit balapan Motor Trail.

Meskipun tidak ada sisa-sisa bangunannya. Namun kenangannya masih melekat di hati dan kepala.  

Kali ini saya hendak mengenang dan bercerita tentang Bapak Suwarno Kepala Sekolah Nyentrik Pecinta Lingkungan. Lain kali, insyaallah saya juga akan bercerita tentang Guru-guru istimewa yang lain.

Pak Warno, kami memanggil beliau. Berpawakan kecil dan tidak terlalu tinggi. Sekilas orang memandang beliau sebelah mata, (menurut penilaian saya waktu anak-anak dahulu). Karena kebiasaannya tetapi sekarang saya mengerti kenapa dan menurut saya Pak Warno istimewa.

Beliau jarang sekali duduk-duduk di kantor, lebih sering di halaman atau di kebun sekolah. Untuk menanam dan merawat tanaman di lingkungan sekolah kami. Beliau kepala sekolah yang merangkap menjadi tukang kebun atas kemauan sendiri.

Ketika masuk kelas, menggantikan guru yang tidak masuk. Beliau tidak banyak menerangkan materi. Hanya memberi soal dan kemudian menilai tugas yang diberikan.

Namun yang beliau nilai hanya tulisannya saja. Rapi atau tidak. Sebal sampai ke ubun-ubun, dulu yang saya rasakan. Meskipun seratus persen benar jawaban yang saya tulis, nilai seratus tidak pernah saya dapatkan. Karena tulisan saya memang tidak rapi dan cenderung sulit dibaca, katanya. Namun hal itu memang tak bisa disangkal.

Meskipun demikian, saya senang mengingat bagaimana beliau membuat lingkungan sekolah menjadi nyaman dan menyenangkan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline