Lihat ke Halaman Asli

Mustika Ayu Rusanty

Mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Darussalam Gontor

Review Film "Blood Diamond"

Diperbarui: 18 Oktober 2019   22:27

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Di dalam film ini menceritakan tentang perang saudara yang terjadi di Afrika yang terletak di Sierra Leone dalam memperebutkan pertambangan berlian tahun 1999. Besarnya kekayaan di sana menyebabkan segala cara tetap dilakukan untuk mendapatkan keuntungan, meskipun sampai harus menghabisi nyawa musuh. Konflik ini telah memakan banyak korban, ribuan tewas dan jutaan mengungsi untuk bertahan diri dan menyelamatkan keluarganya.

Di film ini terdapat adegan sidang PBB dan menyebutkan adanya laporan Global Witnes yang menyatakan bahwa berlian digunakan untuk membeli senjata dan membiayai perang saudara itu sendiri. Hal ini seharusnya menjadi bukti kuat agar dibentuknya suatu kebijakan untuk membatasi impor-impor ilegal terkait berlian-berlian yang beredar. 

Namun, karena AS yang bertanggung jawab atas 2/3 pembelian berlian dunia mengakibatkan hukum untuk membatasi impor berlian mentah dari daerah konflik tidak mendapat persetujuan ataupun ditolak.

Dengan adanya tujuan kuat untuk memberontak kepada pemerintah terbentuklah Kelompok Pemberontak Revolutionary United Front. Mereka meyakini bahwa pemerintah Freetown yang kepemimpinannya diambil alih oleh ras kulit putih telah menghancurkan desa dan memperbudak mereka sehingga muncullah para pemberontak ini. 

RUF berpendapat bahwa mereka adalah pejuang rakyat namun, tindakan maupun aksi mereka tak jauh berbeda dengan terorisme yang meresahkan bagi masyarakat Sierra Leone sendiri. 

Mereka menyerang tentara yang bergerak dibawah pemerintah, membantai warga sipil, menculik anak-anak, membunuh perempuan bahkan menyiksa para tentara meskipun tentara-tentara itu sudah menyerah. Anak-anak kecil yang berhasil diculik dipaksa untuk belajar senapan, membunuh warga sipil bahkan di didik sebagai pembunuh sampai tidak mengenal orangtua mereka sendiri.

Kelompok RUF yang merupakan kelompok pembelot negara menguasai wilayah tambang. Mereka memaksa warga sipil untuk bekerja mencari tambang, apabila ada yang memberontak maka mereka tidak akan segan-segan memotong tangan mereka bahkan membunuhnya. Berlian yang dihasilkan oleh kerja paksa ini dijual dan hasilnya digunakan untuk membeli senjata secara ilegal.

Di dalam film ini saya melihat bahwa adanya kerjasama antara pemerintah Freetown dengan perusahaan besar yaitu perusahaan berlian milik Van De Kaap. Pemerintah Freetown menginginkan adanya bala bantuan dari London lebih tepatnya perusahaan Van De Kaap untuk menangani kelompok pemberontak RUF dan sebagai gantinya Van De Kaap mendapatkan berlian yang yang berasal dari pertambangan tersebut. 

Dalam hal ini, kedua belah pihak melakukan transaksi black market yaitu melalui tentara bayaran yang bernama Danny Archer. Penyelundupan senjata diberikan kepada kelompok pemberontak RUF dan berlian yang di selundupi di bawa dan diletakkan di dalam badan kambing.

Diceritakan juga perjuangan seorang ayah yang bernama Solomon Vandy untuk menyelamatkan anaknya yang telah diculik dan dipaksa menjadi anggota RUF. Agar dapat menyelamatkan anaknya ia pun melakukan perjanjian dengan Danny Archer. 

Solomon akan memberikan Danny Archer sebuah berlian yang berwarna merah muda dan sebesar telur puyuh yang ia temukan saat ia dipaksa bekerja oleh RUF. Sebagai gantinya Danny Archer akan membantunya untuk menyelamatkan anaknya. Singkat cerita, mereka pun bertemu seorang wartawan bernama Maddy Bowen dan Maddy pun membantu mereka untuk menyelamatkan anaknya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline