Lihat ke Halaman Asli

Tragedi Sukhoi Terkuak, Faktor Pilot dan Petugas Menara?!

Diperbarui: 25 Juni 2015   03:49

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Majalah Tempo edisi senin 18 Juni 2012 dalam Laporan Utama yang bertajuk " Musabab Jatuhnya Sukhoi" memuat Wawancara Tempo dengan salah seorang Investigator asal Rusia yang mengetahui analisa sementara Kotak hitam menceritrakan bahwa Kapten Pilot Yablontsev berniat melakukan manuver setelah permintaan turunnya disetujui menara Cengkareng, katanya Dia mau terbang di celah dua puncak gunung Salak, untuk diketahui bahwa Gunung Salak mempunyai Tiga puncak dengan tebing yang curam dan lembah-lembah yang dalam.


FAKTOR PILOT.


Dari Data rekaman Kotak Hitam Sang Investigator asal Rusia itu mengungkap bahwa Beberapa saat sebelum menabrak tebing Gunung Salak Kapten Pilot Yablontsev sempat berteriak yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia " Ya Tuhan Apa Ini ".


Faktor pilot diduga menyumbang peran dalam kecelakaan tersebut dimana Pilot Aleksander Yablontsev pilot senior ( 57 tahun ) yang sudah menerbangkan 221 jenis pesawat dengan 14 ribu jam terbang. Bekas pilot tempur ini juga terlibat membangun Sukhoi sejak 2004. Dengan pengalaman dan keahlian itu, kata investigator ini, Yablontsev diduga berniat menunjukkan kecanggihan pesawat Sukhoi Super Jet 100 kepada para tamunya menjadi salah satu penyebab Tragedi ini terjadi. Ditambah lagi Yablontsev belum paham kontur jalur ke Pelabuhan Ratu itu, Dia terkejut ketika membelokkan pesawat ke kanan justru mengarah ke tebing Salak.


Dari Data Rekaman Kotak Hitam pula diketahui bahwa oleh Investigator Rusia itu setelah permintaan memutar disetujui oleh Petugas Menara bahwa Pilot sempat menjerit dan mengeluarkan kalimat terakhirnya " O Bozhe, chto eto takoe? sebelum menabrak dinding tebing, dan dari luka tebing akibat benturan badan pesawat diketahui oleh Petugas Investigator Luka tebing akibat benturan menunjukkan Yablontsev berniat menaikkan pesawat tapi tak cukup jarak dan waktu buat menghindar.


Presiden IATCA I Gusti Ketut Susila mengatakan, jarak koordinat pesawat saat kontak terakhir dengan Gunung Salak hanya 14 kilometer. Dengan kecepatan 290 knot atau 450 kilometer per jam, pilot hanya punya waktu sembilan detik menghindari tebing.


Menteri Perhubungan E.E Mangindaan kepada Tempo mengatakan bahwa, Yablontsev dan kopilot Aleksandr Kochetkov mengabaikan peringatan sistem yang berbunyi sebelas kali--tanda pesawat menuju bahaya. Tapi seorang petugas di Cengkareng menyimpulkan, pemandu memiliki andil dalam kecelakaan. "Semestinya pemandu tak menyetujui permintaan pilot berbelok ke kanan karena di monitor radar sebenarnya tercantum gunung.


FAKTOR MENARA.


Mari kita simak percakapan terakhir antara Pilot Aleksandr, dan N, petugas pengatur lalu lintas udara di Terminal East Bandar Udara Soekarno-Hatta, yang penulis kutip dari Tempo.co Edisi Senin 18 Juni 2012, seperti ini :

“Tower 36801 good afternoon, establish Radial 200 degrees VOR ten thousand feet…(Selamat siang tower 36801, ada di ketinggian 10.000 kaki)” ucap sang pilot pada pukul 14.24. Petugas menara pengatur lalu lintas udara (Air Traffic Controller), sebut saja bernama N menjawab, “RA36801 radar contact, maintain ten thousand proceed area. (RA36801 kontak rada, jaga ketinggian di 10.000 kaki di area itu)” Sesuai dengan prosedur, pilot Aleksandr mengulang instruksi petugas: “Maintain level 10.000 feet 36801 (jaga ketinggian di 10.000 kaki).”


Dua menit terbang di ketinggian 10 ribu kaki, pilot menghubungi petugas: “Tower, 36801 request descend 6.000 feet. (Tower, 36801 meminta turun di 6.000 kaki).” Petugas N menjawab, “36801 say again request (36801 kembali meminta turun).” Pilot Aleksandr mengulang permintaan untuk menurunkan pesawat ke ketinggian 1.828 meter di atas permukaan laut. N segera membalas, “Ok, 6.000 copied. (Ok. 6.000 kaki diterima).” Sang pilot mengulang, “Descend to 6.000 feet 36801 (turun ke 6.000 kaki).”

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline