Lihat ke Halaman Asli

MUHAMMAD ILHAM FATWA

Mahasiswa Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Sistem Irigasi Pertanian dan Aksi Sultan dalam Membangunnya di Banten

Diperbarui: 14 Juni 2022   20:59

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gambar 1 Saluran Irigasi Sawah di Banten (Sumber: titiknol.co.id)

Pertanian merupakan sumber utama dalam memenuhi kebutuhan pangan. Salah satu pertanian yang ada di Banten adalah tanaman padi. Menurut Badan Pusat Statistik Provinsi Banten, luas panen padi pada 2021 mencapai sekitar 318,25 ribu hektar dengan produksi sebesar 1,60 juta ton. 

Jika dikonversikan menjadi beras, maka produksi beras pada 2021 mencapai 913,10 ribu ton. Selain untuk memenuhi kebutuhan pangan, pertanian juga menjadi sektor penting dalam pembangunan perekonomian. 

Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh Kepala SNVT PJPA BBWSC3, Daniel, S.T, M.T, yang mengatakan bahwa sektor pertanian dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan penduduk.

"Sektor pertanian mempunyai sumbangan signifikan dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB), peningkatan devisa dan peningkatan kesejahteraan petani, sehingga pembangunan pertanian dapat dikatakan sebagai motor penggerak dan penyangga perekonomian nasional, " ujar Daniel seperti yang dikutip dari serang.indonesiasatu.co.id.

Hasil panen pertanian sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air dalam memenuhi kebutuhan tanaman. Untuk mengatur ketersediaan air tersebut dibutuhkan suatu sistem pengairan yang dikenal dengan sistem irigasi. Sistem ini berupa bangunan-bangunan dan saluran-saluran yang dibuat dalam upaya mendatangkan atau mengalirkan air ke sawah-sawah secara teratur.

Pada masa kesultanan, ada satu sosok yang memiliki gagasan di bidang pertanian, yakni Sultan Ageng yang berasal dari Kesultanan Banten. Selain sebagai penggagas, Sultan Ageng juga menggerakan dan mengawasi langsung proses pembuatan irigasi. Berkat pergerakannya membangun irigasi, Sultan Ageng diberi gelar "Tirtayasa" yang dapat diartikan sebagai "Sang Pembangun Pengairan". Nama asli dari Sultan Ageng sejatinya adalah Abul Fat Abdul Fattah.

"Irigasi yang berada di kanan-kiri saluran, sangat penting bagi sawah-sawah yang sebagian besar baru dibuka. Oleh karena usaha yang dilakukannya tersebut, Abul Fat Abdul Fattah mendapat gelar Sultan Ageng Tirtayasa," dikutip dari penjelasan di laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Gagasan Sultan Ageng diteliti oleh Sonny C. Wibisono dalam artikel penelitian yang berjudul "Irigasi Tirtayasa: Teknik Pengelolaan Air Kesultanan Banten Pada Abad ke-17 Masehi." Dalam artikel tersebut, terdapat sisa-sisa bangunan yang digalakan oleh Sultan untuk pengendali air pada masa itu, seperti pintu air, saluran pengontrol, jembatan, dan bendungan.

Gambar 2 Jembatan (Sumber: Sonny, 2013)

Gambar 3 Pintu Air (Sumber: Sonny, 2013)

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline