Lihat ke Halaman Asli

Muhamad Husni Tamami

Penulis, Jurnalis, dan Entrepreneur

Tanpa Desa Tak Ada Istilah Kota

Diperbarui: 11 Oktober 2020   22:25

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Desa Pasir Angin, Megamendung, Bogor

Bicara soal desa ada ribuan cerita di sana. Saya lahir di desa, dibesarkan di desa, dan sekarang masih di desa sembari menimba ilmu di tanah Sunda, IPB Univeristy. 

Secara konstitusi desa merupakan wilayah administratif di bawah kecamatan, contohnya Desa Pasir Angin yang terletak di Kabupaten Bogor. Orang yang memimpin di desa disebut kepala desa. Desa juga terdiri dari beberapa RW dan RT yang merupakan wilayah adminstratif di bawah desa yang tujuannya untuk mempermudah pemerintah desa dalam melaksanakan tugasnya.

Tidak hanya desa, ternyata ada juga wilayah administratif di bawah desa, yakni kelurahan yang pemimpinnya sering disebut lurah.

Perbedaan antara desa dan kelurahan dapat ditemukan dari pemimpinnya. Desa dipimpin oleh kepala desa yang berasal dari rakyat kemudian dipilih oleh rakyat melalui Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sementara  lurah dipimpin oleh seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang pengangkatannya ditunjuk oleh bupati/ walikota.

Kembali lagi ke pembahasan desa. Tadi pengertian desa secara konstitusi. Bagaimana pengertian desa yang dilihat dari kenyataannya? 

Menurut saya, desa adalah suatu wilayah yang penduduknya homogen, tingkat kedekatannya masih erat, masih menggunakan cara-cara tradisional, dekat dengan alam, dan mata pencahariannya hampir sama.  Orang yang tinggal di desa kemudian tinggal di kota akan menyebut bahwa desa itu adalah tempat yang nyaman, jauh dari polusi, atmosfer masih segar, pemandangannya indah, tempat untuk me-refresh diri, dan kenikmatan-kenikmatan lainnya. Ya, sejatinya desa memang begitu. Apakah sekarang demikian?

Sekarang kita temui bahwa ternyata desa tak semua begitu. Seiring berjalannya waktu desa mulai berubah. Alih fungsi lahan di desa sudah banyak. Contohnya saja di wilayah saya, awalnya lahan pertanian sekarang menjadi tempat pemancingan. Untung saja lahan pertanian kakek saya tidak dijual kepada pihak yang akan menjadikan tempat pemancingan itu.

Atmosfer di desa tidak seperti dulu. Memang masih ada desa yang asri, tetapi tidak semua desa demikian. Ini adalah tantangan kita sebagai generasi muda untuk menyikapi hal-hal seperti ini. Generasi muda yang peduli terhadap desa berarti peduli terhadap masa depan bangsa Indonesia.

Saya ingin berbagi pengalaman. Setelah IPB melakukan proses perkuliahan secara daring, saya berinisiatif untuk lebih dekat dengan masyarakat desa. Saya ikut program di kampung, yaitu ronda dan HUT RI ke- 75.

Saya berdinamika dengan masyarakat desa. Melihat langsung bagaimana kondisi desa di lapangan. Beragam permasalahan di desa saya temukan. Hasil pengamatan saya masih ditemukan konflik antar individu, perbedaan pandangan, adanya kubu-kubu, ketidakpedulian terhadap program kampung, dan kurangnya motivasi untuk memajukan kampung halamannya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline