Lihat ke Halaman Asli

Felix Tani

TERVERIFIKASI

Sosiolog dan Storyteller Kaldera Toba

Binda, Tradisi Tahun Baru Batak yang Memudar

Diperbarui: 29 Desember 2019   05:54

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi Marbinda | Foto: Tribun Medan/Arjuna Bakkara (medan.tribunnews.com)

Setiap etnik nusantara, khususnya penganut Protestan dan Katolik, punya cara tersendiri menyambut Tahun Baru. Satu dan lain etnis saling beda cara, tergantung pada kultur atau sistem pemaknaan masing-masing.

Etnik Batak Toba punya cara yang unik yaitu binda atau marbinda. Secara harafiah, binda (Bah. Batak) berarti "menyembelih hewan secara gotongroyong, mulai dari proses pembelian sampai penyembelihan". Hewan yang disembelih lazimnya adalah babi atau kerbau, tergantung ukuran kelompok binda.

Binda adalah aktivitas budaya komunitas. Aslinya adalah komunitas huta, kampung asli Batak. Kemudian berkembang menjadi kegiatan komunitas marga. Bahkan lebih luas lagi, komunitas marga hulahula dohot boru/bere (kelompok marga pemberi mempelai perempuan dan marga penerima mempelai berempuan berikut keponakan).

Sebagai sebuah pranata sosial, binda memiliki fungsi sosial, manifes dan laten. Fungsi manifesnya sebagai bagian dari ritus kolektif orang Batak merayakan pergantian tahun, dari Tahun Lama ke Tahun Baru. Fungsi latennya untuk mengukuhkan kebersamaan dan solidaritas sosial dalam komunitas.

Suasana kegiatan binda pada satu komunitas Batak (Foto: jurnalasia.com)

Sudah menjadi tradisi bagi orang Batak untuk merayakan pergantian tahun. Ini sebenarnya bukan tradisi asli. Tradisi ini tumbuh dan berkembang sejalan dengan masuknya agama Protestan dan Katolik ke Tanah Batak. Perayaan Tahun Baru adalah tradisi Barat yang diadopsi orang Batak.

Tapi orang Batak kemudian memasukkan unsur budaya lokal ke dalam perayaan itu. Itulah tradisi binda, gotongroyong pembelian dan penyembelihan hewan (ternak) berkaki empat. Pranata binda memungkinkan setiap keluarga dalam komunitas memperoleh daging dalam jumlah yang memadai, untuk bahan santapan dalam perayaan pergantian tahun.

Hari pertama Tahun Baru, tepatnya 1 Januari, adalah "hari makan daging" untuk orang Batak. Ini berlaku untuk semua kelas sosial. Kaya dan miskin haram hukumnya tidak makan daging. Pranata binda memastikan setiap keluarga dalam satu komunitas akan mendapatkan bagian daging untuk keperluan itu.

Makan bersama keluarga, baik keluarga inti maupun keluarga luas, untuk perayaan Tahun Baru, lazimnya dilaksanakan tepat tanggal 1 Januari siang. Ini momen ritus kolektif untuk keluarga, mirip Lebaran. Momen para anak dan cucu dari perantauan berkumpul di rumah orangtua mereka di kampung halaman.

Acara makan daging bersama itu sebenarnya kelanjutan dari acara saling bermaafan dan doa bersama keluarga tepat pada malam pergantian tahun. Tepat setelah lonceng gereja berdentang pukul 00.00, mengumumkan pergantian tahun, kepala keluarga akan memimpin doa bersama dan doa syafat.

Acara kemudian dilanjutkan dengan permintaan maaf setiap anggota keluarga akan kekurangannya di tahun lalu dan janji perbaikan diri di tahun baru. Akhirnya ditutup dengan makan kue-kue Tahun Baru, lazimnya lampet (bugis) dan sasagun (sagon).

Makan siang bersama pada tanggal 1 Januari adalah pesta keluarga. Pesta untuk mengucap syukur atas karunia Tuhan tahun lalu. Sekaligus pesta menyambut Tahun Baru dengan harapan memperoleh karunia yang lebih besar dari Tuhan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline