Lihat ke Halaman Asli

Muhammad Natsir Tahar

TERVERIFIKASI

Writerpreneur Indonesia

Sastra Glorifikasi Versus Sains Sejarah

Diperbarui: 12 Desember 2018   23:15

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilusrtasi: stance.com

Bagian II

Makalah Seminar Internasional: Peran Penyair dalam Sejarah

Aston Hotel Tanjungpinang, 30 November 2018

Oleh: Muhammad Natsir Tahar

Ketika inspirator saya, Dato' Rida K Liamsi menyodorkan tema seminar ini: Sumbangan Sastra pada Sejarah, saya menganggapnya sebagai jebakan filosofis, mengenang beliau seorang tokoh sastrawan sekaligus budayawan yang punya samuderanya sendiri.

Sastra dan sejarah terlihat seperti dua sisi koin. Apakah sastra menyumbang kepada sejarah, sebaliknya atau saling. Dalam Klasika, sastra dan sejarah dihimpun bersama-sama dengan filsafat, seni, dan arkeologi sebagai bagian dari studi utama Humaniora.

Maka sejarah dan sastra sebahu dalam peradaban manusia. Mereka bahkan saling mengutangi. Sejarah sebagai mitologis -agar ia lebih leluasa mengungkapkan dirinya- membutuhkan sastra lebih dari teman seiringan. 

Hanya sastra lah yang ingin melihat sejarah tumbuh besar, untuk melengkapi kepingan fakta yang sangat terbatas dengan kelimpahan mitos sehingga ia menjadi bangunan istana yang megah.

Sebaliknya, jika sejarah tidak ingin mengalah untuk mengorbankan orisinalitasnya, sastra akan segera kelelahan di bait pertama. Sastra akan memetik mitos-mitos untuk membangun metabahasa, dan mendaki puncak estetikanya. 

Keduanya menjalin simbiosa mutualis ketika sejarah menjadi labil, hilir mudik antara logika, lagenda dan mitos. Ini demi tugas mulia para penulis (sastra) sejarah kuno untuk mengagungkan leluhurnya dengan majas-majas hiperbola hingga melahirkan sejarah virtual atau sejarah kontra-faktual.

Meminjam Stephen Palmquist tentang empat ide dasar sejarah umat manusia yakni mitos, sastra, filsafat, dan ilmu. Masih tersisa dua hal yakni filsafat dan ilmu. Filsafat dengan sifat dasar holistik dan kecenderungan metafisisnya tidak ingin lekas-lekas membuang mitos ke dalam tong sampah peradaban, tapi menjaga kemungkinan masih ada yang bisa digali darinya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline