Lihat ke Halaman Asli

Merza Gamal

TERVERIFIKASI

Pensiunan Gaul Banyak Acara

Mewujudkan Indonesia sebagai Destinasi Pariwisata Halal Utama Dunia

Diperbarui: 15 Juni 2022   18:10

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Image: Kongres Halal Internasional 2022 di Bangka Belitung 14-18 Juni 2022 (Photo by Merza Gamal)

Kongres Halal Internasional 2022 yang dibuka oleh wakil Presiden RI kemaren (Selasa, 14 Juni 2022) mengusung tema "Akselerasi Peningkatan Kontribusi Produk Halal dan Pariwisata Halal Dalam Mewujudkan Indonesia Sebagai Pusat Produsen Halal Dunia."

Bidang pariwisata halal merupakan salah satu sektor ekonomi yang dapat dikembangkan dan menjadi andalan kini dan masa datang. Rekonstruksi perekonomian dunia akibat melandainya Covid-19 dan pelonggaran ketentuan terkait prokes saat ini telah mendorong ke arah pemulihan pariwisata halal atau wisata ramah Muslim. Akibat pandemi Covid-19, menyebabkan sektor pariwisata halal Indonesia mengalami penurunan tajam pada tahun 2020 sesuai laporan State of Global Islamic Economy (SGIE) 2022. Industri pariwisata halal atau yang dikenal juga sebagai pariwisata ramah Muslim sangat berdampak. Terjadi penurunan hingga 70 persen dengan jumlah penurunan perjalanan hingga mencapai satu miliar wisatawan.

 Seiring perbaikan situasi akibat melandainya wabah Covid-19 dan faktor-faktor lainnya di akhir 2021/awal 2022, Laporan SGIE 2022 memberikan semangat akan bangkitnya kembali konsumsi Muslim untuk pariwisata yang meningkat dari 58 milyar dolar AS menjadi 102 miliar dolar AS pada 2021. Untuk tahun ini, 2022, SGIE 2022 memprediksi konsumsi Muslim ini naik lagi menjadi 154 miliar dolar AS.

Dengan demikian, situasi tersebut harus direspon secara komprehensif dan sistematis serta berkesinambungan oleh pemerintah, para pelaku usaha pariwisata halal, organisasi majelis ulama yang menerbitkan fatwa-fatwa terkait pariwisata halal serta berbagai pemangku kepentingan.

Sementara itu, di Indonesia istilah Pariwisata Halal menjadi menjadi problem akibat ketidaktahuan sebagian masyarakat. Beberapa pihak, akibat ketidakpahamnya, menganggap pengembangan pariwisata halal merupakan islamisasi destinasi wisata. Padahal, wisata halal berkembang pesat di negara-negara non Muslim seperti Jepang, Korea, Thailand, Canada, Spanyol, dan negara Non Muslim lain.

Pariwisata halal sebenar adalah tambahan layanan yang ramah Muslim. Meningkatnya kalangan menengah Muslim di berbagai belahan bumi termasuk di Amerika dan Eropa, menyebabkan pangsa pasar pariwisata ramah Muslim  turut meningkat. Dan, hal itu ditangkap sebagai peluang bisnis oleh banyak negara tujuan wisata.

Pariwisata halal adalah ekosistem pariwisata ramah muslim (moslem friendly) dengan layanan prima (service of exellence) dan mengusung nilai-nilai etika (ethical values). Sedangkan Pariwisata Ramah Muslim merupakan seperangkat layanan tambahan (extended services) terkait amenitas, daya tarik wisata, dan aksesibilitas yang ditujukan dan diberikan untuk memenuhi pengalaman, kebutuhan dan keinginan Wisatawan Muslim.

Perkembangan pariwisata halal ini menjadi perhatian anak muda dari Gen Y (millennial)  dan Gen Z.  Muslim muda dari Gen Y dan Gen Z menjadi lebih terinformasi tentang peran mereka dalam memastikan mereka berpartisipasi dalam bisnis yang menawarkan wisata ramah lingkungan, membuat kemajuan dalam inisiatif bebas plastik, dan mengurangi emisi karbon.

 Oleh karena itu, aktivitas dampak sosial akan sangat sesuai dengan segmen wisatawan muda Gen Y dan Gen Z. Mereka akan terus mencari hal-hal tersebut dalam perjalanan mereka untuk meningkatkan spiritualitas mereka lebih jauh. Pariwisata yang berkelanjutan dan bertanggung jawab memungkinkan pemahaman yang lebih besar tentang masalah budaya, sosial, dan lingkungan lokal, yang mengarah ke pengalaman yang lebih bermakna. Dan, kondisi tersebut terdapat dalam konsep pariwisata halal.

Survei yang dilakukan oleh CrescenRating pada September dan Desember 2021 mengungkapkan bahwa faktor esensial bagi Muslim ketika ingin melakukan sebuah perjalanan/berwisata ialah ketersediaannya Layananan Ramah Muslim. Faktor utama yang diperhatikan oleh wisatawan Muslim, terutama Muslim muda, adalah: fasilitas ramah Muslim (seperti masjid/mushalah, makanan halal, lingkungan yang bersih dan ketersediaan air untuk membersihkan diri), harga, akomodasi yang bersih dan disinfeksi, Faktor lain yang menjadi pertimbangan adalah: keamanan, transportasi, fasilitas publik, budaya, dan Bahasa.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline