Lihat ke Halaman Asli

Abdul Azis Al Maulana

Mahasiswa UIN Mataram

Klitih sebagai Permasalahan Sosial Dalam Tinjauan Sejarah

Diperbarui: 13 April 2022   18:09

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber gambar: pixabay/Cesar Augusto Ramirez Vallejo

Klitih Sebagai Permasalahan Sosial Dalam Tinjauan Sejarah

Naiknya nama Klitih karena kasus pembunuhan yang menjeratnya memang semestinya membuka mata kita lebih lebar mengenai dampak buruk yang bisa dilakukan anak-anak remaja yang tidak terorganisir, apalagi mereka cenderung menghabiskan waktu dalam hal keburukan.

Kita sebagai komponen masyarakat mungkin tidak seleluasa pemerintah yang bisa membangun Undang-Undang serta aturan untuk melawan mereka, namun tentu saja, sebagai komponen masyarakat kita bisa memperbaiki hubungan sosial serta terus memantau anak didik kita agar tidak jatuh pada pergaulan yang salah.

Adanya penanaman nilai moral, norma, dan agama tentu akan sangat membantu anak-anak kita untuk mengedepankan nilai sosial serta spiritualitas yang mereka miliki daripada langsung menggunakan emosi negatif untuk bertindak. Namun yang sama pentingnya tentu saja melakukan pengawasan terhadap anak kita, memenuhi emosi mereka dengan kasih sayang agar mereka tidak keluar mencari perhatian maupun adrenalin dengan membunuh orang.

Sebenarnya fenomena Klitih bukanlah hal yang asing untuk didengar, namun semakin lama nama tersebut menjadi semakin berkonotasi negatif untuk masyarakat Indonesia. Berbeda dengan kata anjay yang malah menjadi kalimat netral, kata Klitih sama seperti kata bajingan, mereka menjelma negatif dari waktu ke waktu.

Klitih sebenarnya berasal dari istilah yang merujuk kepada Pasar Klitikan Yogya yang memiliki arti melakukan aktivitas yang tidak jelas namun bersifat santai sembari mencari barang bekas dan Klitikan. Sementara sebutan Nglitih digunakan untuk menggambarkan kegiatan jalan-jalan santai.

Namun dalam kurun waktu yang cukup lama, Klitih yang awalnya hanya keluar karena gabut perlahan-lahan mulai berubah karena tercemari kondisisi sosial yang buruk. Hal itu karena di Yogyakarta sendiri budaya kekerasan yang dilakukan pelajar disana sudah marak semenjak tahun 1980 dan 1990-an.

Pada masa itu kekerasan yang dilakukan pelajar dipelopori oleh dua geng besar yang legendaris, yaitu QZRUH dan JOXZIN. QZRUH adalah kependekan dari Q-ta Zuka Ribut Untuk Tawuran. Yang dimana Geng ini merajai wilayah Yogyakarta pada bagian utara.

Sementara JOXZIN itu sendiri merupakan singkatan dari Joxo Zinthing atau Pojox Benzin (pojokan pom bensin alun-alun) atau Jogja Zindikat. Geng ini memiliki kuasa pada bagian besar Malioboro hingga Yogyakarta bagian utara.

Kendati tidak pernah ada yang mengetahui kapan Klitih mengalami pergeseran makna namun pada akhirnya nama itu bergeser menjadi negatif, bahkan kini Klitih identik dengan nama 'tawuran'.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline