Lihat ke Halaman Asli

Ima Rochmawati

lihat.dengar.rasa.laku

Mengelola Kemampuan Anak Disleksia Melalui Seni

Diperbarui: 10 Januari 2021   05:10

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dok. pribadi

Akhir tahun 2019 sampai sekarang Ayah mengajar di sekolah Indigrow Bandung, sebuah sekolah tumbuh kembang anak khusus disleksia dan berkebutuhan lainnya. Sekolah ini dikelola dan dikembangkan oleh dr. Purboyo Solek dan dr. Kristiantini Dewi, pasangan dokter anak yang mensosialisasikan disleksia dari 11 tahun yang lalu. 

Saya tidak mengajar di sana, tapi sedikit banyak ikut belajar saat suami mengikuti seminar, pelatihan, pengajaran menggunakan aplikasi zoom. Pemaparan dari para ahli, dokter maupun psikolog dan diskusi bareng Ayah menjadi momen instimewa buat saya berkenalan dengan disleksia, memahami gelagat anak-anak kami dan mengenal diri kembali. Karena anak disleksia itu faktor keturunan.

Melalui proses pemaparan para dokter dan psikolog, saya akhirnya mengerti aktivitas seni dapat mengelola mental dan kemampuan seseorang bertambah baik.

Dari pemaparan mereka pun saya akhirnya mengerti, kemungkinan besar kesulitan saya berkomunikasi dan kesulitan menyampaikan emosi dengan cara yang tepat karena faktor disleksia. Dari beberapa ciri dan kejadian masa kecil-remaja-dewasa mendekati cirri khas disleksia.

Hanya saja, saya sering kali dipertemukan dengan kegiatan-kegiatan yang mengintervensi kemampuan berbahasa dan merelease emosi semakin rapi. 

Kesukaan saya memebaca komik, majalah, ketertarikan saya pada warna, bentuk, gambar, senang ikut cross country alias tadabur alam bersama guru dan teman-teman (trekking), lalu saat kuliah beralih pada kegiatan seni teater.

Ternyata kegiatan-kegiatan ini melatih kemampuan interaksi, emosi dan berbahasa saya semakin baik meski tertatih dan bisa dibilang terlambat. Melalui puisi, menggambar dan beragam bacaan yang saya serap membawa saya menjadi lebih baik. Meski kesulitan mengingat objek dan nama orang masih menjadi kendala. 

Dok. pribadi

Melihat anak-anak yang mendapat terapi seni di Indigrow, saya sedih sekali. Saya melaluinya dengan pelan dan tertatih. Tapi satu sisi banyak hal yang disyukuri, perkenalan saya dengan seni, secara tidak langsung melatih executive function anak disleksia.

Executive function adalah kemampuan seseorang untuk meregulasi dirinya, meliputi bagaimana anak dapat mengelola rencana, menyusun sesuatu, memulai tugas, fokus, mengatur diri sendiri dan mengontrol diri untuk fokus pada tugas yang sedang dikerjakan.

Persoalan dasar anak disleksia adalah kesulitan dalam berbahasa, mengidentifikasi objek. Maksudnya, mereka seringkali kesulitan mengidentifikasikan huruf, objek, kejadian maupun emosi dirinya.

Seringkali apa yang dia fikirkan sulit dijabarkan dalam kalimat atau penuturan yang tepat. Sehingga lawan bicara seringkali kesulitan memahami maksudnya. Dalam perjalanannya dalam kehidupan sosial, anak ini akan kesulitan berinteraksi dan sering disalah fahami. Situasi ini berbahaya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline