Lihat ke Halaman Asli

FX Aris Wahyu Prasetyo Saris

Menikmati menulis dan membaca dalam bertualang makna kehidupan menuju kebijaksanaan abadi.

Pendidikan Itu Sosial dan Humoris, Bukan Egois dan Sadis

Diperbarui: 16 Januari 2021   08:29

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Pendidikan sejatinya bukan mendidik pribadi yang unggul, tetapi pendidikan sesungguhnya mendidik pribadi yang sadar secara mendalam bahwa dirinya membutuhkan orang lain. Dari sekolah dasar hingga pendidikan tinggi, kita terbiasa dididik untuk menjadi pribadi yang unggul, tepatnya unggul dalam bidang akademik yang terarah pada kemampuan kognitif belaka. Skor di laporan belajar beserta peringkat menjadi tolok ukur yang jelas dan nyata tentang pribadi yang unggul. Mereka yang terbiasa ada di peringkat satu tentunya terbiasa juga dengan pujian dari guru, dosen, orang tua, teman, teman orang tua, dan yang lainnya. Sedangkan mereka yang terbiasa ada di urutan belakang akan terbiasa juga umpatan, amarah, cemoohan, sindiran, dan ejekan dari banyak pihak. Sungguh mengerikan belajar di sekolah.

Pendidikan seringkali melupakan aspek-aspek di luar pencapaian akademik yang sebenarnya sangat penting dalam kehidupan nyata, seperti kekeluargaan, kejujuran, ketekunan, menghargai sesama, dan nilai-nilai kehidupan yang lain. Sekolah sering terjebak dalam putaran pemahaman materi dan tes untuk mengukur pencapaian pemahaman. Tidak heran jika kegiatan-kegiatan kepanitiaan, ekstrakurikuler, organisasi hobi, unit kegiatan tidak terlalu diminati karena dirasa mengganggu tugas utamanya dalam belajar, yakni mendapat nilai yang baik. Di pendidikan tinggi gejala ini akan mudah dijumpai, yakni mahasiswa yang hanya mengejar nilai dan indeks prestasi baik tanpa ambil bagian secara aktif dalam kegiatan kemahasiswaan.

Pendidikan sesungguhnya mendidik anak-anak didik untuk membangun relasi sosial yang baik dengan media keilmuan yang dipelajarinya. Bukan malah terbalik, pendidikan justru mendidik anak-anak didik untuk menguasai keilmuannya dengan mengabaikan relasi sosial yang baik. 

Dalam kehidupan nyata di masyarakat, output pendidikan yang berupa nilai-nilai kehidupan seperti relasi sosial, ketekunan, kekeluargaan, empati lebih bermanfaat dalam berinteraksi dengan berbagai karakter orang yang ada. Sedangkan keilmuan yang dikuasai hanya berperan dalam keterampilan kerja.

Non schoale sed vitae discimus, bahwa belajar bukan sekadar untuk mendapatkan nilai (skor) tetapi lebih dari itu, belajar untuk hidup. Ungkapan ini sebenarnya roh dari pendidikan yang seutuhnya, bahwa orang belajar sukses secara akademik, juga sukses dalam non akademik karena keduanya saling mendukung dan berguna dalam kehidupan nyata. Keduanya bagaikan sekeping uang yang saling melengkapi, tanpa salah satu sisi uang itu, maka uang itu tak ada harganya lagi. Pendidikan holistik sejatinya mampung mengedepankan dan mengusahakan keduanya dalam keseimbangan dan kebersamaan.

Presiden Lyndon Johnson pernah berkata, "Tidak ada masalah yang tidak dapat kita selesaikan bersama, dan sangat sedikit yang dapat kita selesaikan sendiri".  

Pernyataan ini ingin menegaskan bahwa dalam kehidupan yang kompleks ini membutuhkan kebersamaan, kekeluargaan, dan relasi baik untuk menjalani berbagai pengalaman dan dinamika hidup. Pendidikan sebagai pondasi pribadi manusia dalam menjalani kehidupan hendaknya mempertimbangkan nilai-nilai kebersamaan itu dalam proses pendidikan yang berlangsung di sekolah atau kampus.

Presiden Theodore Roosevelt pun semakin menegaskan, "Unsur terpenting dalam rumus meraih kesuksesan adalah mengetahui cara menjalin hubungan baik dengan orang lain." Kembali lagi ditegaskan pentingnya hubungan atau relasi dalam kehidupan, dalam bidang apapun. Kebersamaan dan kerjasama menjadi hal vital dalam bidang apapun. Sebuah klub sepak bola dengan dana yang melimpah, manajer yang hebat, dan bertabur pemain bintang tidak menjamin keberhasilan dengan tropi yang begitu banyak tanpa adanya kerjasama yang baik di dalam dan luar lapangan.

Dalam kehidupan ini kadangkala kita harus meluangkan waktu untuk membiarkan orang-orang di sekitar kita tahu bahwa betapa kita membutuhkan dan menghargai mereka. Orang tua kadangkala butuh meluangkan waktu bersama anak-anak untuk sekadar ngobrol, jalan-jalan, atau beraktivitas bersama untuk meyakinkan bahwa anak-anak penting bagi orang tua. Bahkan, seorang guru atau dosen sekalipun bukanlah siapa-siapa tanpa anak-anak atau mahasiswa, begitupula sebaliknya. Penting bagi kedua pihak untuk saling meyakinkan bahwa keduanya saling membutuhkan dan menghargai.

Pianis jenaka, Victor Borge, berkata, "Tawa adalah jarak terdekat antara dua orang." Dalam berelasi, bekerjasama, dan berkomunikasi diperlukan humor, tidak hanya sebagai pencair suasana namun juga sebagai media membangun ikatan batin antar pribadi. Pribadi yang humoris akan membantu pribadi-pribadi di sekitarnya tidak enggan untuk berelasi dan berkerjasama. Bandingkan saja dengan sosok yang sangat serius ada dalam sebuah tim atau komunitas, segala sesuatu menjadi pembicaraan yang serius pula dan bisa jadi melelahkan secara jasmani dan rohani.

Betapa indahnya komunitas jika ada selera humor di dalamnya. Belajar di kelas akan menjadi menyenangkan dan gembira, ketika ada selera humor dari pendidik sehingga kelas bukanlah sebuah rungan yang menengangkan dan menyeramkan. Keluarga dengan selera humor akan memberi nuansa indah dan santai dalam berelasi sehingga keluarga bukanlah sebuah komunitas yang kaku dan serius setiap saat. Bahkan ketika mendapati seorang pemimpin dengan selera humor yang baik di sebuah kantor, bekerja bukan lagi sebagai tekanan yang sadis tetapi bekerja menjadi sebuah proses membangun kreativitas dan loyalitas.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline