Lihat ke Halaman Asli

Toba: Siap Kembali Menggemparkan Dunia dengan Pesona Pariwisatanya

Diperbarui: 26 September 2021   10:35

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber Foto: Kemenparekraf.go.id (Shutterstok/FransHendrikTambunan)

Aku berada di sebuah kapal besar. Berdiri di  geladak utama. Sedang terpesona dengan panorama yang indah luar biasa. Memandangi perbukitan megah, dirimbuni pepohonan hijau. Jernihnya air dengan gelombang yang tenang. Menghayati hembusan angin nan sejuk. Seketika terhanyut dalam kesunyian yang menghadirkan rasa damai. Tiba-tiba aku melihat sekelompok remaja melompat dari kapal. Menceburkan diri ke air, kemudian berenang riang. Lalu, beberapa penumpang kapal melemparinya koin. "Ini Danau Toba!" seruku dalam batin.

Itu adalah visi yang benar-benar pernah kulihat dalam mimpi beberapa tahun silam, saat aku masih tinggal di Pulau Kalimantan. Mimpi itu terasa begitu nyata! Padahal tak pernah terlintas dalam benakku untuk mengunjungi Danau Toba. Namun entah kenapa, tiba-tiba malam itu aku bermimpi berada di sebuah danau paling terkenal di Indonesia, yang terletak di Pulau Sumatera.

Tak hanya paling populer, Danau Toba ternyata juga merupakan danau terluas di Indonesia, dan merupakan salah satu danau vulkanik terbesar di dunia. Berdasar data di situs resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Danau Toba memiliki panjang 100 kilometer, lebar 30 kilometer, dengan kedalaman mencapai 500 meter, yang menjadikan Danau Toba sebagai danau terdalam kedua di Indonesia.

Sejak bermimpi tentang Danau Toba, aku mulai tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang salah satu wisata andalan Provinsi Sumatera Utara ini. Di tengah danau tersebut ternyata ada pulau besar yang luasnya hampir sama dengan negara Singapura. Pulau Samosir namanya. Di pulau inilah peradaban Batak Kuno lahir, dan sebagian tradisinya masih bertahan hingga sekarang, sehingga dijuluki sebagai Heritage of Toba.

Warisan berupa tradisi budaya dapat dijumpai di Desa Wisata Tomok, salah satu perkampungan tua yang ada di Samosir. Di desa itu kita dapat mengenal budaya serta artefak leluhur Batak Toba, mulai dari rumah adat, makam raja-raja, hingga peninggalan zaman megalitikum.

Tomok bukan satu-satunya desa wisata yang ada di sana. Karena masih ada Desa Lumban Suhi Suhi yang tersohor sebagai desa penghasil kain tenun khas suku Batak, yakni Kain Ulos. Dan ada juga Huta Siallagan yang terletak di Desa Ambarita. Di perkampungan tua itu, kita akan mendapati peninggalan berupa sekumpulan meja dan kursi batu yang dikenal sebagai Batu Persidangan, yang memuat kisah mengerikan tentang eksekusi penjahat di masa lampau.

Tak hanya mewariskan budaya, Toba juga memberikan peninggalan berupa alam yang amat mempesona. Sukar mendeskripsikan keindahan itu dalam kata-kata. Tonton saja video Youtube di kanal resmi Kemenparekraf yang berjudul The Heart Beat of Toba. Niscaya kamu akan meneriakkan kata "Wonderful Indonesia!" saking terpesona akan keindahannya.

Bukit Holbung Sipege, Air Terjun Efrata, Pantai Indah Situngkir, dan Bukit Sibea-bea adalah sebagian kecil dari keindahan surgawi yang dititipkan Tuhan di Toba. Masih banyak keindahan alam lain yang sudah, sedang, dan akan dikembangkan di sana. Apalagi setelah Presiden Joko Widodo menetapkan Danau Toba sebagai satu diantara sepuluh Destinasi Super Prioritas (DSP). Maka aku yakin Danau Toba akan benar-benar tumbuh menjadi tujuan wisata yang sangat mengagumkan!

Dengan status sebagai DSP Toba, maka infrastruktur dan fasilitas pendukung untuk pengembangan Danau Toba akan ikut diprioritaskan pula. Karena itulah dibentuk Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) yang salah satu tugas utamanya adalah melakukan perluasan Bandara Silangit, yang telah selesai diwujudkan sehingga kini bandara tersebut resmi menjadi bandara internasional, dan dapat didarati oleh pesawat sekelas Boeing 737.

Bandara Silangit yang berjarak hanya satu setengah jam perjalanan darat dari Danau Toba tentu membuat wisatawan yang ingin datang ke sana menjadi lebih nyaman. Jauh berbeda dengan sebelumnya jika mendarat di Bandara Kualanamu yang memerlukan waktu  sekira 5 jam perjalanan darat. Tentu kemudahan akses ini akan menarik lebih banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk datang ke Danau Toba.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline