Lihat ke Halaman Asli

Mario Fernandes

Sekolah Kajian Strategik dan Global Universitas Indonesia

Sinopsis The End of History and The Last Man by Francis Fukuyama

Diperbarui: 1 November 2020   09:12

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

amazon.com

Runtuhnya rezim sosialis di Eropa Timur pada akhir 1980-an telah mendorong euforia yang mengagungkan politik kapitalis dan demokrasi liberal hingga munculnya tesis Francis Fukuyama dalam bukunya The End of History and The Last Man (1992).

Sebelumnya pada 1989, Fukuyama telah menulis artikel dengan judul yang sama dan mendapatkan sejumlah kritik. Buku ini mencoba membahas secara mendalam argumen-argumen yang dia usung sambil menanggapi kritik-kritik tersebut.

Secara umum, Fukuyama sepertinya hendak memberikan jawaban-jawaban terhadap dua pertanyaan mendasar: Apakah idealisme demokrasi liberal telah menang di seluruh dunia, sehingga kita bisa katakan bahwa ini merupakan akhir dari pengembangan ideologis umat manusia, dan, dengan demikian, akhir dari sejarah (end of history)?

Jika ya, apakah ini adalah hal yang baik? Dalam menjawab kedua pertanyaan tersebut, Fukuyama membahas sejumlah konsep, seperti dialektika Hegel, teori dependensia, hingga tymos.

Fukuyama menata pembahasannya ke dalam lima bagian. Gambaran ringkas dari kelima bagian tersebut beserta bab-bab yang ada di dalamnya bisa dilihat dalam penjabaran berikut ini:

Bagian 1:  Pertanyaan Lama yang Baru Ditanyakan

Our Pesimism -- Fukuyama menjelaskan bahwa Abad ke-20, bisa dikatakan, telah membuat kita semua menjadi sangat pesimis akan sejarah, yang memperlihatkan perkembangan dan pergerakan dari keseluruhan institusi politik ke arah institusi politik yang oleh masyarakat barat anggap sebagai institusi yang layak dan manusiawi yang disebut Demokrasi Liberal.

Lahirnya Pesimisme ini disebabkan oleh berbagai peristiwa politik yang terjadi pada paruh pertama abad ke -20, antara lain dua perang dunia yang destruktif, kemunculan ideologi Totalitarianisme, dan pembalikan ilmu pengetahuan yang mengancam manusia dalam bentuk senjata nuklir. 

Sementara itu pada seperampat terakhir Abad ke-20 terjado kekalahan besar dari kepemimpinan Negara (dictator) yang kuat baik dari Otoritarianisme-Militer Kanan maupun Totalitarianisme-Komunis Kiri. Dari Amerika Latin ke Eropa Timur, dari Uni Soviet ke Timur Tengah dan Asia, dimana pemerintah yag kuat telah jatuh setelah dua decade terakhir.

Ada kecenderungan demokrasi liberal menjadi pilihan aspirasi politik yang logis dan koheren, yang menyebar ke berbagai daerah dan kebudayaan di seluruh dunia.

The Weakness of Strong States - Terjadinya Krisis Otoritarianisme saat ini tidak dimulai dengan krisis Gorbachev perestroka atau runtuhnya Tembok Berlin. Ini dimulai kembali satu setengah dekade sebelumnya, dengan jatuhnya serangkaian pemerintah Otoriter sayap kanan di Eropa Selatan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline