Lihat ke Halaman Asli

Mang Pram

TERVERIFIKASI

Rahmatullah Safrai

Lelucon Legalisasi Ganja oleh Kader PKS Berakhir Garing

Diperbarui: 4 Februari 2020   20:28

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi Ganja (Dok. Humas Polres Lombok Utara)

Anggota Komisi VI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Rafli sepertinya sedang menjadi pelawak. Sayangnya legalitas ganja yang dijadikan punch line dalam narasi bit yang dibawakan rupanya berujung garing (bomb).

Rafli membangun set up dengan narasi komoditas ekspor yang bisa meningkatkan devisa negara. Namun punch line berupa legalitas ganja sebagai komoditas ekspor itu berakhir bomb atau garing.

Rapat koordinasi DPR bersama Menteri Perdagangan Agus Suparmanto yang sedang membahas perjanjian dagang ASEAN dengan Jepang pun menjadi krik...krik...krik...

Apa yang dilakukan Rafli terkesan hanya membuat sensasi saja. Maklum saja setelah Pilpres selesai, PKS seperti kehilangan pamor. Tagar "Ganti Presiden" sudah tidak sepopuler dulu di media sosial.

Menyoal legalitas ganja, semua orang juga tau jika PKS secara gamblang turut mendukung fatwa rokok haram. Kader-kadernya anti asap tembakau. Lalu Rafli mengeluarkan joke ganja yang memiliki kadar bahaya lebih tinggi dari rokok, tentu sudah gagal paham.

Menurut Rafli, ganja bisa digunakan sebagai obat. Terlebih lagi ganja bisa tumbuh subur di Aceh. 

Rafli benar, ganja bisa saja digunakan sebagi obat. Seperti yang dilakukan di Swiss yang sudah melegalkan ganja dan dijual bebas layaknya sayur kangkung di pasar.

Youtuber Syarif Zapata mengunggah video tentang penjualan ganja di Swiss pada 22 Juli 2018 lalu meyebutkan, ganja dipercaya dapat menyembuhkan epilepsi, membunuh sel kangker, hingga mengatasi kesulitan tidur. 

Jika pun kini PKS peduli terhadap manfaat ganja, kenapa baru dimulai sekarang? 

Rafli mungkin lupa, meski ganja punya banyak manfaat, aturan hukum sudah menetapkan ganja sebagi barang haram. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline