Lihat ke Halaman Asli

Rupa Mangu, Anak Kampung yang Membiayai Kuliah dari Menulis

Diperbarui: 11 Februari 2019   00:29

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kondradus Rupa Mangu/ Penulis. Dokumen pribadi

Sebuah pengalaman luar biasa dialami oleh Kondradus Rupa Mangu. Seorang anak kampung  yang sukses di jalan literasi. Dengan menulis, ia mampu membiayai kuliah dan pendidikan anak-anaknya.

Putra asli Honihama, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT ini, tinggal di Tagerang Jawa Barat. Sebagai seorang penulis kawakan, namanya sudah tidak asing lagi. 

Karena berasal dari satu kampung, sejak kecil, kami sudah mengenalnya.Ia disapa wartawan, jarang ia disapa dengan nama aslinya. Jika waktu kecil, kami sangat segan dengannya,  saat ini tidak! Kami sudah sama sama memiliki minat yang sama yakni menulis.

Yang menarik dari sosoknya  adalah, ia sudah memiliki hobi membaca dan menulis sejak kecil. Dua dunia ini, sangat asing di kalangan anak anak kampung saat itu. Sangat asing, aneh dan bisa dianggap gila seorang anak SD,SMP, mengumpulkan koran, majalah dari gurunya dan dijadikan sebagai bahan bacaan di rumah dan di kebun. Baginya, itu adalah hobi.

"Saya mulai  termotivasi untuk memulis dari guru Bahasa Indonesia, Pa Andreas Eban Ola. Selain materi dan gaya mengajar, ia menyediakan ruang untuk kami menulis, yakni di Majalah Dinding sekolah. Kebiasaan menulis di Mading sekolah, terus mengasah kemampuan saya untuk belajar menulis,'tuturnya

Hingga melanjutkan pendidikan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Podor putra ke dua dari delapan bersaudara ini menjadi Pemimpin Redaksi untuk penerbitan Mading di Sekolah.

Akumulasi kebiasan menulis ini, mendorongnya untuk mengirim tulisan ke media. Dan tulisan pertamanya yang dimuat di Koran Dian saat itu adalah sebuah Cerita Pendek ( Cerpen) "Derita yang Tak Pernah Berakhir" sebuah karya imajinasi luar biasa, yang menggambarkan kebiasaan masyarakat (Kepala Keluarga) yang memilih merantau  tapi kemudian mengorbankan keluarganya. 

"Tulisan saya tembus di koran, bagi saya adalah sebuah kebangaan dan saya catat dalam lembaran sejarah hidup saya. Kenapa..? Puluhan kali saya mengirim tulisan namun baru kali ini lolos dan dimuat. Kebanggaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata - kata. Pengalaman mendapat imbalan pertama kali dalam menulis dari redaksi Rp. 7500," katanya.

"Sejak itu saya sangat aktif menulis. Tidak hanya cerpen, berita seputar pristiwa dan kejadian di desa dan kecamatan selalu saya tulis, kirim dan muat. Dalam keterbatasan, menggunakan mesin ketik, mengirim via pos tidak men yurutkan semangat kami untuk menulis. Pernah satu kali saya menulis tentang angka kematian yang tinggi di Honihama Desa Tuwagoetobi sempat membuat geger satu kecamatan, karena isi tulisan mengkritisi pelayanan Puskesmas dan pihak gereja. Itu menjadi pengalaman untuk terus memberi kabar ke publik melalui tulisan", terangnya.

Alumni SMPN 2 Adonara Timur Witihama ini, mengaku orang yang membuatnya, tetap termotivasi dan terbantu menulis adalah figur Thomas Akaraya Sogen yang saat ini sebagai Ketua Asosiasi Guru Penulis (Agupena) Wilayah NTT.

"Thomas Sogen, bagi saya, adalah figur yang selalu memberi teladan. Dia selalu memotivasi dan mengajar saya tentang menulis, mulai dari menyusun kalimat, mencari ide hingga menyusun paragraf. Saat di SPG tidak hanya Koran Dian yang memuat tulisan kami namun beberapa majalah seperti Mingguan Hidup," ujarnya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline