Lihat ke Halaman Asli

Trimanto B. Ngaderi

Penulis Lepas

Biarkan Uang yang Bekerja

Diperbarui: 17 April 2019   21:16

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

sumber gambar: kloponlinepaydayloans.com

Biarkan uang yang bekerja. Sebuah ungkapan yang pas untuk cara bekerja dan cara mencari penghasilan di Era Digital. Berbagai jenis pekerjaan baru bermunculan. Berbagai cara mendapatkan uang pun semakin beragam, bahkan tak pernah terbayangkan sebelumnya. Cara baru, metode baru, dan strategi baru merupakan wujud dari inovasi dan kreativitas kaum milenial.

Dunia digital adalah dunia yang terbarukan. Dunia yang dipenuhi oleh otomatisasi, mesin-mesin robot, dan seperangkat software (aplikasi) yang memiliki kecerdasan sendiri. Dunia yang memberikan kemudahan dalam bekerja, menghitung, menganalisis, membuat laporan, bahkan melakukan prediksi.

Era Industri 4.0 ditandai dengan bermunculannya startup-startup baru dalam berbagai bidang dan layanan. Ada startup di bidang media sosial, toko online, jasa online, pendidikan atau kelas-kelas daring, aplikasi pelayanan publik, dan lain-lain. beberapa startup kini telah menjadi perusahaan raksasa dunia (unicorn), seperti aplikasi Facebook, Whatsapp, Youtube, Google, Amazon, Alibaba, Lazada, Go-Jek, dan masih banyak lagi.

Perusahaan medsos mendapatkan keuntungan dari jumlah pengguna (user). Semakin banyak pengguna, semakin besar pula uang yang didapatkan. Sedangkan Google mendapatkan laba berdasarkan banyaknya orang yang melakukan search engine. Sementara itu, Youtube meraup dollar dengan banyaknya klik atau video yang ditonton. Sebuah website atau blog pun akan memperoleh uang dari banyaknya pembaca (viewer).

Perusahaan-perusahaan raksasa tersebut (big data) jika penggunanya semakin banyak, otomatis akan menarik minat para perusahaan lain untuk memasang iklan. Selain dari iklan, juga memperoleh penghasilan dari download aplikasi maupun update aplikasi.

Saham Unicorn

Ketika masih berstatus startup, sahamnya masih belum laku atau nilainya masih rendah. Mungkin banyak orang yang mengabaikannya atau enggan membelinya. Dan ketika telah menjadi sebuah unicorn, maka harga sahamnya bisa menjadi 10, 100, atau malah 1000x lipat.

Sebagai contoh, saham Google pertama kali buka di harga 0,2$ per lembar. Sekarang sudah mencapai 1.206,45$ per lembar atau sekitar Rp 17,5 juta. Demikian halnya ketika Whatsapp dibeli oleh Facebook senilai 19$ miliar atau Rp 222,7 triliun pada 2014.

Oleh karena itu, sangat beruntung bagi mereka yang ikut memiliki saham dari perul sahaan raksasa tersebut. Mereka akan mendapatkan capital gain berupa kenaikan harga saham karena jumlah pengguna yang terus meningkat pesat, juga bagi hasil dari perusahaan (deviden).  

Contohnya Facebook dan Whatsapp yang memiliki pengguna hampir dua miliar di seluruh dunia, bisa dibayangkan berapa harga saham atau nilai kekayaan yang dimiliki.

Kepemilikan saham inilah yang saya maksud sebagai "biarkan uang yang bekerja". Sebab, para pemilik saham tak perlu lagi bekerja. Tinggal duduk manis menunggu harga sahamnya naik. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline