Lihat ke Halaman Asli

Luqman Aryowidi

Just a passionate geek

Sepak Bola dan Komunitas, Arena Gladiator Modern

Diperbarui: 7 September 2018   19:13

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bola. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

-Dalam kesempatan kali ini, penulis ingin mencari tahu mengapa Sepak Bola Eropa, terutama para komunitas dan fansnya, menjadi satu kesatuan akibat faktor historis.Juga ingin mengeksplorasi mengapa pertandingan besar atau Derby Day mengandung isu kebencian antar fans dengan fans lainnya.

Sebagai salah satu pecinta dan memiliki semangat tinggi dengan dunia sepak bola, memang saya sadari ketika memasuki stadion dan permainan dimulai, sisi liar saya seakan tidak bisa dibendung, dikontrol, pokoknya saya menjadi orang yang berbeda karena terbawa semangat dan atmosfir stadion yang sungguh membara. 

Namun saya sendiri masih bisa tahu diri, mana aksi yang masih diterima oleh masyarakat umum dan mana tidak. Terkadang banyak berita yang menyebarkan aksi fanatik fans sepak bola akhirnya terkadang membuat citra semua fans menjadi buruk, kampungan, tidak ada moral atau beradab, tapi saya akui ada beberapa atau sekelompok yang sangatlah fanatik sampai berurusan dengan pihak keamanan seperti polisi, tapi sekali lagi saya tidak ingin menulis tentang aksi-aksi mereka semata, saya ingin mengapa ?? 

Langsung saja... Mengapa saya kasih judul sepak bola dan komunitas :arena gladiator baru ?? alasan pertanyaan yang saya selalu pikirkan karena.. jika melihat para aksi fansnya... mereka seakan menjadi "tentara mental", bernyanyi, yel-yel dukungan atau hujatan untuk musuh, koreografi, banner dan flare menjadi senjata utamanya. Bagi para fans dan komunitasnya, ini adalah tugas mereka sebagai pendukung dan sifatnya sangatlah wajib.Akan tetapi, terkadang banyak hujata, banner atau koreografi mengandung unsur kebencian, dan itu bisa dilihat di kiblatnya pecinta Sepak Bola, yaitu Eropa. Disini saya akan mengambil beberapa contoh, yang dimana unsur kebencian itu mengandung kelas sosial, politik hingga agama atau kepercayaan.

Yang pertama saya akan bahas isu kebencian akibat faktor kelas sosial, dengan contoh klub AC Milan dan Internazionale, atau dikenal Inter dengan istilah Derby Della Madoninna. Istilah pertandingan antar kedua tim tersebut bukan hanya sekedar pertandingan antar klub di kota yang sama dengan mempertaruhkan kebanggaan klub masing-masing, namun menjadi simbol representatif kelas sosial. Pada awal pembentukan klub AC Milan, memiliki kebijakan ketat terkait pemain, yaitu para pemainnya adalah asli warga Italia, meskipun salah satu tokoh yang membentuk klub tersebut berasal dari Inggris. 

Seiring berjalannya waktu, beberapa petinggi dalam klub tersebut merasa tidak suka dengan kebijakan pemain yang mengharuskan pemain asli Italia, bukan pemain asing. Para petinggi yang keluar dan memisahkan dari Ac Milan akhirnya membentuk Internazionale Milan, dan sesuai namanya, ingin menjadi klub elit dengan beberapa talenta asing. Hal tersebut memunculkan identitas masing klub-klub, dimana Inter menjadi simbol kelompok atau golongan elit Milan, sedangkan AC Milan menjadi simbol kelas pekerja Milan. 

Hal tersebut disebabkan karena efek masing-masing kebijakan klub terkait pemain, yang dimana Inter ingin menjadi salah satu klub elit dengan mendatangkan pemain Internasional, yang berarti butuh usaha dan dana yang cukup besar untuk menarik talenta asing, sedangkan Ac Milan yang mengandalkan Homegrown Player dan tidak butuh dana besar untuk menarik pemain.  Hal ini bisa disimpulkan jika kedua klub bertanding, bukan hanya sekedar "siapa yang menguasai Milan ?", tetapi kelompok atau golongan mana yang mempresentasikan karakter kota Milan atau golongan mana yang membentuk kota Milan.

Yang kedua adalah politik, dengan contoh salah satu pertandingan yang banyak ditonton oleh banyak masyarakat di dunia ini,El Classico.  El Classico, yang mempertemukan dua klub eropa raksasa, Real Madrid dan FC Barcelona. Isu kebencian yang berbau politik sangatlah jelas jika bermain di kandang FC Barcelona, Camp Nou. Warna merah dan oranye saat menjadi mozaik bukan hanya sekedar warna klub, namun itu warna dari identitas masyarakat Katalan, Senyera. Konflik kedua klub pada umumnya sudah diketahui oleh banyak pecinta bola, namun saya ingin mencoba memperdalam tentang sejarah-hingga era modern. 

Faktor sejarah akibat dari peraturan ketat dari diktator Spanyol, yaitu Jendral Fransico Franco. Identitas masyarakat Katalonia sangatlah kuat dan bangga menjadi masyarakat Katalan, dan saat era Jendral Franco, demi menyatukan bangsa Spanyol menjadi satu kesatuan, harus ada beberapa nilai-nilai yang harus diganti, dan masyarakat Katalonia tidak suka dengan sikap Jendral Franco. 

Salah satu sikap agresif Jendral Franco yang memberikan dampak trauma terhadap Katalonia adalah melarang hal-hal yang mengandung nilai dan budaya yang bersangkutan dengan kebudayaan Katalonia. Meskipun sekarang wilayah Katalonia memperoleh wilayah otonomi, kebijakan pemerintah Spanyol masih memberatkan wilayah tersebut, salah satunya dari faktor ekonomi, yang dimana salah satu pendapatan negara tetinggi negara tersebut berasal dari Katalonia. 

Kebencian masyarakat Katalonia terhadap pemerintah Spanyol sampai sekarang masih intens, bisa dilihat para aksi fans Fc Barcelona saat final Copa Del Rey beberapa tahun belakang, selalu menghasut atau memaki saat lagu kebangsaan Spanyol dimainkan, atau saat pertandingan El Classico bukan hanya mengibarkan bendera Senyara, spanduk atau banner Catalan is not Spain dipajang sepanjang permainan tersebut.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline