Lihat ke Halaman Asli

LindungiHutan

LindungiHutan.com

Teh Aas dan Upaya Kolektif Perempuan Menjaga Pulau Pari Tetap Lestari

Diperbarui: 1 Maret 2024   00:49

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: Dokumentasi pribadi

Aktivitas perempuan nyatanya tidak hanya tersubordinasi di beberapa sektor penting yang sifatnya publik dan punya pengaruh atau kuasa. Namun, menyeluruh dan hampir di setiap lini kehidupan, termasuk lingkungan.

Seperti diketahui, aktivisme dan kerja-kerja pelestarian lingkungan sebelumnya didominasi oleh laki-laki. Sebab, perempuan dianggap kurang lazim. Kalaupun ada sepak terjang dari sosok perempuan di lingkungan, kabar yang tersiar tak begitu santer terdengar. Peran perempuan dalam menjalin relasi dengan alam masih dalam kadar yang minim dan seperlunya. Justru acapkali perempuan lah yang menjadi korban eksploitasi lingkungan dan alam.

Mengingat, perempuan memiliki banyak aktivitas yang beririsan dengan lingkungan. Kondisi tersebut lantas membuatnya mafhum akan berbagai bentuk perubahan dan kerusakan lingkungan. Seperti yang terjadi pada Teh Aas, perempuan, ibu rumah tangga, nelayan, dan pegiat lingkungan asal Pulau Pari Jakarta ini terus berupaya menjaga kelestarian alam setempat.

Dulu Lestari, Kini Reklamasi?

Suara perjuangan Teh Aas dan perempuan Pulau Pari lainnya memang tak sekeras aktivis lingkungan kebanyakan. Akan tetapi, bukan berarti kita tak bisa mendengarkannya. Jauh di seberang pesisir utara Jakarta tersebut, Teh Aas senantiasa menjaga semangat pelestarian lingkungan dan seisi pulaunya demi mengupayakan kesejahteraan bersama.


Pulau Pari yang kita kenal sebagai destinasi wisata unggulan di sekitar Jakarta menyimpan sengkarut masalah lingkungan yang hingga kini masih menyisakan bekas. Teh Aas menjadi saksi bagaimana rumput laut yang dahulunya menjadi komoditas unggulan Pulau Pari, kini hilang tergerus roda pembangunan.

"Reklamasi itu menyebabkan rumput laut banyak yang mati karena kan terumbu karangnya juga digerus, nah itu reklamasi udah lama sampai sekarang masih terjadi terus-terusan, kita kan udah pengaduan ke pihak pemerintah sama dinas, tetapi hanya di-monitoring belum ada tindak lanjutnya," Ujar Teh Aas ketika dihubungi melalui telepon.

Akibatnya, minat dan aktivitas masyarakat dalam mencari rumput laut pun ikut menurun. Terhitung sejak tahun 2006 dan 2007 rumput laut mulai langka karena faktor iklim tidak menentu, kondisi air laut yang berubah, yang mana juga salah satu akibat dari aktivitas reklamasi. Menurut keterangan Teh Aas, kini terhitung tinggal sekitar 6 orang yang masih menekuni profesi nelayan rumput laut. Banyak yang kemudian pindah bekerja di sektor wisata Pulau Pari.

"Reklamasi mulai dari tahun 2010, kami bukan hanya keberatan tetapi dah menolak, karena rumput lautnya rusak, apalagi sekarang bagian untuk cari ikan rusak semua akibat reklamasi," Ungkap Teh Aas.

Perempuan Pulau Pari Punya Aksi

Teh Aas bersama perempuan Pulau Pari lainnya tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Perempuan Nelayan Pulau Pari. KWT tersebut punya fokus utama dalam pemeliharaan kelestarian Pulau Pari. Berbagai aktivitas dilakukan, mulai dari pengelolaan Pantai Renggek, penanaman mangrove untuk mencegah abrasi, hingga mengurus kebun kolektif.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline