Lihat ke Halaman Asli

Menyembuhkan dengan Menghambat

Diperbarui: 23 Oktober 2017   21:13

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Contoh Obat Antiinflamasi

Selamat datang pada artikel ketiga, pada kesempatan ini penulis akan membahas tentang sejauh mana efek samping dari obat inflamasi, khususnya pada pertumbuhan dan perkembangan otot.

Inflamasi adalah respon perlindungan dari cedera jaringan yang disebabkan oleh trauma fisik, bahan kimia berbahaya, atau antigen. Reaksi vaskular akan terjadi saat proses inflamasi berlangsung. Reaksi vaskular adalah berkumpulnya cairan, elemen -- elemen darah, leukosit, dan mediator kimia pada tempat yang mengalami cedera atau peradangan. Salah satu solusi untuk mengatasi inflamasi tersebut adalah dengan mengonsumsi obat antiinflamasi. Obat antiinflamasi sendiri dibagi menjadi dua, yaitu obat antiinflamasi kortikosteroid dan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID).

Obat antiinflamasi kortikosteroid adalah obat dari senyawa sintetis yang dimodifikasi struktur kimianya sehingga menyerupai hormon steroid alami dengan dosis yang lebih tinggi daripada senyawa alaminya. Hormon steroid alami dihasilkan oleh korteks kelenjar adrenal. Hormon ini mempunyai dua efek, yaitu glukokortikoid dan mineralokortikoid. Glukokortikoid berfungsi untuk mengatur metabolisme glukosa, sedangkan mineralokortikoid berfungsi untuk mengatur keseimbangan air dan garam mineral dalam tubuh. Obat -- obat yang termasuk golongan kortikosteroid ini adalah hidrokortison, deksametason, betametason, beklometason. Obat ini bekerja dengan cara mempengaruhi kecepatan sintesis protein. Biasanya digunakan untuk meredakan peradangan , seperti asma, reumatik, radang usus, radang ginjal, dan lain -- lain.

Obat antiinflamasi nonsteroid adalah obat yang mempunyai efek pereda nyeri (analgesik), penurun panas (antipiretik), dan anti radang (antiflogistik). Mekanisme kerja obat ini adalah dengan menghambat enzim siklooksigenase, sehingga dapat mengganggu perubahan asam arakhidonat menjadi prostaglandin. Obat ini efektif digunakan untuk peradangan akibat trauma (pukulan dan benturan), pembedahan, nyeri haid, dan lain -- lain. Beberapa obat yang termasuk golongan ini adalah salisilat, asetat, propionat, oxicam.

Hampir setiap obat, khususnya obat sintetis memiliki efek samping. Meskipun memiliki banyak manfaat, obat antiinflamasi pun tetap memiliki efek samping. Walaupun sama -- sama merupakan obat antiinflamasi, namun efek samping yang ditimbulkan oleh obat antiinflamasi kortikosteroid dan antiinflamasi nonsteroid berbeda.

Seperti yang telah diketahui di atas, obat antiinflamasi kortikosteroid memiliki dua efek yaitu glukokortikoid dan mineralokortikoid. Efek glukokortikoid akan meningkatkan pembentukan glukosa dari protein (glukoneogenesis), sehingga hal ini akan meningkatkan kadar gula darah dalam tubuh. Maka dari itu, tak dapat dipungkiri lagi bahwa orang yang mengonsumsi obat ini secara berlebihan resiko untuk terserang diabetes meningkat. Efek glukokortikoid yang kedua adalah mengurai protein, sehingga secara tidak langsung protein yang akan digunakan untuk pembentukan tulang juga akan berkurang. Hal ini akan menyebabkan keroposnya tulang pada orang dewasa dan mengganggu pertumbuhan tulang pada anak -- anak jika digunakan dalam jangka waktu lama. Ketiga, glukokortikoid akan mempengaruhi metabolisme lemak sehingga terjadi penumpukan lemak di bagian -- bagian tubuh tertentu. Keempat, menurunkan fungsi jaringan limfa sehingga menyebabkan sel limfosit mengecil dan berkurang. Hal ini akan menyebabkan menurunnya kekebalan tubuh.

Penggunaan kortikosteroid yang tinggi, pasti juga akan meningkatkan kadar glukokortikoid. Kadar glukokortikoid yang tinggi akan menyebabkan degradasi otot melalui lintasan katabolisme protein. Tingginya kadar glukokortikoid ini akan menghambat proses katabolisme protein. Katabolisme sendiri adalah proses penguraian senyawa organik yang kompleks (karbohidrat, lemak, atau protein) menjadi senyawa yang lebih sederhana (anorganik) dan menghasilkan energi. Energi yang dihasilkan ini kemudian diubah menjadi ATP (Adenosin Tri Phosphat) agar dapat digunakan oleh sel. Sedangkan katabolisme protein sendiri, berfungsi untuk membentuk jaringan atau bagian tubuh, pertumbuhan dan perkembangan, membentuk sel darah, dan memberikan energi atau tenaga. Hal ini menjadi bukti bahwa jika lintasan katabolisme protein terhambat, fungsi -- fungsi di atas tidak dapat dijalankan dengan maksimal. Sementara itu, kita tahu bahwa pertumbuhan dan perkembangan jaringan dipengaruhi oleh proses katabolisme protein. Maka dari itu, dengan terhambatnya proses katabolisme protein yang disebabkan oleh tingginya kadar glukokortikoid dari antiinflamasi kortikosteroid akan menyebabkan gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan otot.

Insufisiensi kelenjar adrenal juga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan otot. Insufisiensi kelenjar adrenal adalah ketidakmampuan kelenjar adrenal untuk menghasilkan hormon kortisol (steroid) selama beberapa minggu, hingga berbulan -- bulan. Ganguan ini juga dapat menyebabkan gangguan sirkulasi hormon di dalam tubuh. Hal ini dapat disebabkan karena penggunaan antiinflamasi kortikosteroid. Meskipun pada penjelasan di atas antiinflamasi kortikosteroid dapat struktur kimianya hampir sama dengan hormon steroid, namun penggunaan obat ini tidak dapat menggantikan hormon steroid alami. Hal ini dapat terjadi karena reaksi autoimun yang disebabkan oleh tingginya kandungan steroid dalam tubuh hanya akan merusak kelenjar adrenal itu sendiri sehingga kemampuannya untuk menghasilkan hormon steroid menurun. Sementara itu, hormon steroid alami sangat berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan otot. Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa penggunaan kortikosteroid dalam dosis yang berlebihan akan menyebabkan insufisiensi kelenjar adrenal sehingga pertumbuhan dan perkembangan otot juga dapat terganggu. Selain itu, insufisiensi kelenjar adrenal juga dapat menyebabkan disfungsi jaringan otot. Disfungsi jaringan otot adalah ketidakmampuan otot untuk melakukan fungsi semestinya.

Seperti yang telah diketahui di atas, kadar glukokortikoid yang terlalu tinggi akan menyebabkan menurunnya kekebalan tubuh karena fungsi jaringan limfa menurun dan hanya dapat menghasilkan sel limfosit yang kecil dan sedikit. Sementara itu, inflamasi merupakan suatu peradangan yang dapat menyebabkan rusaknya suatu jaringan, dalam bahasan ini adalah otot. Rusaknya jaringan otot ini disertai dengan aktifnya prostaglandin. Prostaglandin sendiri merupakan zat kimia di dalam tubuh yang aktif ketika terjadi inflamasi dan zat ini akan menimbulkan rasa sakit, bengkak, dan memar. Meskipun prostaglandin dapat menimbulkan rasa sakit, zat ini juga berperan dalam menghasilkan sitokin. Prostaglandin E2 merupakan prostaglandin yang memproduksi sitokin. Sitokin merupakan molekul protein yang dan berperan dalam membawa pesan antar sel yang membentuk sistem kekebalan. Hal ini dapat berakibat fatal ketika sel limfosit yang berfungsi sebagai sistem pertahanan atau imun tubuh tidak mampu memperbaiki jaringan otot yang mengalami inflamasi karena ukurannya yang terlalu kecil dan jumlahnya di bawah batas normal. Akibatnya adalah pada jaringan otot yang mengalami inflamasi, proses regenerasi akan berjalan dengan sangat lambat atau bahkan tidak berjalan sama sekali jika konsumsi antiinflamasi kortikosteroid melebihi batas wajar. Dari pernyataan tersebut, berarti pertumbuhan otot bukan hanya menyangkut tentang pertambahan massa dan ukuran otot, namun juga menyangkut tentang perbaikan jaringan otot yang rusak. Maka dari itu, konsumsi obat antiinflamasi dapat menghambat proses regenerasi jaringan otot yang rusak.

Setelah membahas tentang efek glukokortikoid, sekarang penulis akan membahas tentang efek mineralokortikoid terhadap pertumbuhan dan perkembangan otot. Senyawa utama mineralokortikoid pada manusia berupa aldosteron yang diproduksi oleh zona glumerulosa. Aldosteron dalam tubuh tidak akan berbahaya jika berada dalam batas wajar. Namun, mineralokortioid yang banyak juga akan menyebabkan aldosteron meningkat. Aldosteron yang terlalu tinggi malah akan menimbulkan penyakit hipokalemia. Hipokalemia merupakan keadaan dimana kadar kalium dalam darah berada di bawah batas wajar (kurang dari 3,8 mEq/L). Penderita hipokalemia biasanya mengalami kelemahan otot, kram otot, kejang otot, kelumpuhan otot pernapasan, bahkan hingga detak jantung berdebar yang disebabkan karena kontraksi otot jantung tidak normal. Kekurangan kalium ini bisa terjadi karena kadar aldosteron yang tinggi dapat menghambat reabsorpsi kalium dalam ginjal. Jika hal ini terjadi, kalium akan keluar bersama urine dan otomatis tubuh akan kekurangan kalium. Sementara itu, kalium sangat berfungsi untuk menyediakan kontraksi otot. Kalium akan melintasi membran sel, lalu melepaskan energi listrik dan mengaktifkan impuls saraf sehingga terjadi kontraksi otot. Ketika kalium dalam darah tidak mencukupi untuk menembus membran sel dan melepaskan energi listrik, maka kontraksi otot pun tidak akan terjadi. Dibandingkan dengan efek glukokortikoid, efek samping mineralokortikoid dapat dikatakan lebih ringan.

Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) yang bersifat analgesik, antipiretik, dan antiflogistik tidak akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan otot. NSAID bekerja dengan cara menghambat enzim siklooksigenase. Dengan terhambatnya enzim siklooksigenase, perubahan asam arakhidonat menjadi prostaglandin juga akan terganggu.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline