Lihat ke Halaman Asli

Kerasnya Hidup Bukan Hanya di Jakarta

Diperbarui: 26 Maret 2017   11:00

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dokumentasi Pribadi

Tepat hari ini, Sabtu 25 Maret 2017, aku mengikuti kegiatan rutin memulung sampah di salah satu aliran sungai Ciliwung.

Beberapa minggu yang lalu seorang teman akan kembali ke kampung halaman dan aku membantunya berkemas. Ada beberapa potong kaos yang masih baru dan dia enggan untuk menyimpannya. Aku langsung berpikir untuk memberi kaos tersebut kepada pemulung yang sering memulung di dekat kost-an-ku. Hari ini rencanaku akhirnya terealisasi. Sebelum beranjak dari kost-an aku membungkus kaos tersebut dengan kantong plastik dan berharap menjumpainya di bak sampah yang sering kulalui. 

Di sepanjang jalan aku memandang melalui sela-sela tanaman untuk memastikan dia ada di sana. Tampak dari kejauhan ada yang bergerak-gerak. Dan benar, itu adalah dia. Aku mendekat ke arah tumpukan sampah dan memanggil dia yang sedang asyik mencari sampah sembari menyodorkan plastik yang kupegang. Segera setelah memberikan kantong plastik yang berisi dua potong kaos kepada bapak itu aku berjalan cepat. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat menerima kantong plastik tersebut, tapi aku mendengar dia mengucapkan terima kasih.

Sesampainya di bawah jembatan tempat kami akan melalukan aksi memulung sampah, seorang teman terlihat mendekati seorang bapak. Bapak itu tidak sendiri, dia dan beberapa bapak-bapak lain sedang sibuk beraktivitas. Ya, mereka adalah “Manusia Ciliwung”, begitu aku menyebut mereka. Beberapa kali memulung di sana, aku melihat mereka tinggal di bawah jembatan. Aku langsung mendekati mereka dan terlihat si bapak tersebut sedang menyuci pakaian dan menjemurnya di atas batu-batu besar di pinggir sungai. 

Dari cerita teman itu aku mengetahui bahwa bapak tersebut harus tinggal di pinggir kali karena diusir oleh isterinya. Setelah kami membiarkannya beraktivitas, aku dan teman langsung membuat pengandaian. Aku mengatakan padanya, “Nggak kebayang seandainya aku mengusir suamiku.” Dan temanku itu membalas, “Bayangkan jika aku suamimu, dan kamu mengusir aku.”

Sosok yang aku lihat adalah seorang bapak yang kulitnya sudah mengeriput, menua dan gelap dengan rambut yang memutih menutupi kepalanya. Di masa tua seperti itu aku mendambakan hidup yang tenang dan tak susah payah bekerja, namun apa yang kulihat sangat jauh dari semuanya. Dia ternyata sedang melalukan rutinitas pagi sebelum berangkat bekerja, membersihkan badan, memasak air, membersihkan sepatu dan menyuci pakaian dan kemudian berkemas, berjualan kopi sachet atau mungkin melakukan pekerjaan lain. Dengan tas baby tersandang di pundaknya, bersepatu pantofel, mengenakan batik yang dimasukkan ke celana bahan panjang dan tak lupa memakai kopiah, dia kemudian melangkah gagah menaiki anak tangga dan siap untuk bekerja.

Hampir selesai kami memulung sampah yang tersangkut di bebatuan sungai, aku melihat dari jauh, teman yang sama, sedang duduk dengan seorang bapak yang lain. Dia tersenyum kepadaku dan memanggilku. Dia mengenalkan padaku bahwa bapak yang duduk di depannya adalah orang dari Sumatera. Setelah berkenalan, aku penasaran dengan kehidupan mereka dan menanyakan beberapa hal. Bapak tersebut benama Jul Nasution dan berasal dari Tebing Tinggi. 

Dari marganya dapat kita ketahui bahwa dia adalah orang Mandailing. Ibunya seorang Aceh. Dia memiliki kakak yang masih tinggal di Sumatera. Dia pernah menikah sebelumnya, namun rumah tangganya harus berakhir dengan tanpa memiliki anak. Kedatangannya ke Pulau Jawa ini dua tahun yang lalu dengan menggunakan bus, adalah untuk merantau, mencari pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik.

Dia tinggal tidak menetap, dari satu pinggiran sungai ke pinggiran sungai lainnya. Semalam dia menginap di bawah jembatan Jalak Harupat. Melalui temanku tadi, dia bercerita pernah diberi modal untuk berjualan kopi sachet, namun beberapa dagangannya dicuri saat dia tidur, jadi yang tersisa tinggal sedikit. Baju batik yang dikenakannya hari itu belum kering benar, namun karena tidak punya baju lain, dia tetap mengenakannya. Sama seperti bapak yang sebelumnya, mereka tetap berusaha berpenampilan rapi dan bersih. 

Saat temanku menanyakan mengapa tidak bekerja di tempat lain, misalnya di pasar, bapak tersebut bercerita bahwa kehidupan di pasar sangat sulit. Secara tersirat dia bercerita bahwa ada oknum-oknum tertentu yang menguasai pasar sehingga orang tidak leluasa mendapatkan pekerjaan di sana sekalipun (mungkin) jadi buruh angkut. Itulah sebabnya dia memilih berjualan kopi keliling, baginya sudah biasa untuk berjalan kaki dengan jarak tempuh yang cukup jauh.

Sebenarnya dia ingin sekali kembali pulang ke rumahnya di Sumatera Utara, namun baginya tidak mudah untuk mengumpulkan ongkos pulang. Saat dia bercerita bahwa dia ingin pulang, aku jadi teringat tentang perumpamaan anak bungsu yang hilang dan harus hidup susah, kemudian ia menyadari keadaannya dan kembali ke rumah bapanya. Sewaktu memulung di tempat yang cukup jauh dari tempat mereka duduk, aku melihat temanku itu memberi uang kepada bapak tersebut tetapi si bapak terlihat menolaknya. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline