Lihat ke Halaman Asli

Laura Magvira

Mahasiswa

Hidup Itu Memajang Diri Bukan Merajang Diri

Diperbarui: 3 September 2020   23:45

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Manusia kerap disandingkan dengan kenestapaan. Prinsip konvensi yang ada di lingkungan sosial menjadi ajang bergengsi untuk meraih validasi di universitas kehidupan. 

Validasi yang diperoleh dapat menjadi pilar semangat agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi setiap harinya. Namun, perlukah memajang diri dengan validasi di universitas kehidupan? Apa dampak yang ditimbulkan jika hal itu terjadi? Hidup ini akan merajang atau sebaliknya?

Di universitas kehidupan ini kita hadir dan pulang bersama ketetapan. Kehadiran, selalu kita rayakan. Lihat saja sebuah kelahiran, banyak senyum yang terkumpul bukan? 

Lain hal dengan pulang atau kepergian, banyak yang membubarkan tanpa pernah bermaksud mengadakan. Menuju keabadian memang menjadi momok menakutkan, namun perlu diingat bahwa memajang diri sebaik mungkin merupakan pelajaran terpanjang yang harus kita lalui. 

Nanti hasil yang akan kita dapat lebih dari sebuah pencapaian, ada peradaban yang menunggu untuk dituliskan. Memajang diri bukan sekadar mengagungkan validasi. 

Lebih dari itu, menjadi versi terbaik dari setiap aspek kehidupan tanpa berpikir imbalan merupakan bagian dari memajang diri. Peningkatan kualitas hidup secara kontinu akan mempengaruhi cara seseorang untuk mati atau menghadapi kematian.

Kita dapat melakukan banyak kegiatan agar memajang diri selama hidup dapat memberi pengaruh yang pekat setelah kematian datang. Hal ini dapat dimulai dari sekarang, ya setelah membaca artikel ini dapat diterapkan. 

Mulailah dari diri sendiri, jangan takut. Bukankah jalan menuju keabadian dilakukan sendiri juga? Mulailah dari diri sendiri dengan semangat akan perubahan lalu selanjutnya dapat diterapkan di lingkungan terdekat. 

Layaknya pepatah gading mati meninggalkan gading kita yang telah dianugerahkan kehidupan harus meninggalkan jejak peradaban agar dapat berguna untuk kehidupan yang akan datang. 

Dalam video di kanal youtube Alijoyo Channel dengan judul Story of Life -- Bagaimana kita ingin dikenang, ada beberapa poin penting agar kita dapat memajang diri sebaik mungkin agar tetap dikenang ketika kematian datang.

Hal mendasar yaitu nilai luhur apa yang diyakini? Mulailah bertanya terhadap diri sendiri apa yang sudah dihasilkan di hidupmu? Sudahkah menghias muka kota dengan kegiatan yang bermanfaat? Atau mungkin selama ini sudah merobek harapan orang lain tanpa kita sadari?

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline