Lihat ke Halaman Asli

Latifah Maurinta

TERVERIFIKASI

Penulis Novel

Anak-anak di Keluarga Besar Calvin Wan "Series"

Diperbarui: 31 Juli 2019   06:24

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pixabay.com

*Jose*

Orang pertama yang kulihat saat membuka mata. Orang terakhir yang membersamaiku sebelum tidur. Itulah Ayahku, Ayah Calvin Wan.

Tiap pagi, Ayah Calvin membangunkanku dengan kecupan hangat. Ayah mengecup keningku, membelai rambutku, sambil menyapa dengan senyuman.


"Selamat pagi, Sayang."

Tangan Ayahlah yang selalu mengoleskan selai ke roti panggangku, membetulkan lipatan bajuku, dan mengobati lukaku. Aku mudah terluka seperti Ayah. Bila aku terluka dan darahnya tak juga berhenti, aku bisa melihat kecemasan terpancar di mata Ayah Calvin.

Suatu sore berhujan, Ayah Calvin melarangku bermain di luar rumah. Sebagai gantinya kami bermain di ruang piano. Tiba-tiba kulihat darah segar mengalir dari hidung Ayah. Ayah Calvin meninggalkanku sebentar. Rasa penasaran membuatku mengikutinya. Ternyata Ayah Calvin muntah darah. Hatiku berantakan. Rasanya ingin menangis, tapi aku anak laki-laki. Dengan lembut, Ayah Calvin menenangkanku. Diyakinkannya aku kalau ia baik-baik saja.

Kematian tiga sahabatku mengubah keadaan. Aku sangat, sangat kesepian. Belakangan ini aku jadi suka menggigit-gigit jari, melukai tanganku, memukulkan martil ke kakiku, menyayat lenganku, dan menusuk pergelangan tangan dengan jarum. Ayah Calvin sedih melihatku melukai diri. Ayah selalu ada di saat-saat terkelam hidupku. Sering kali dia merelakan dirinya kulukai. Asalkan bukan diriku yang terluka.

Sekali-dua kali kulihat kelelahan di mata Ayahku. Meski begitu, Ayah tetap lembut dan penuh kehangatan. Ayah mengantarkanku ke sekolah, menjemputku pulang, main basket bersamaku, menonton film kesukaan kami berdua, membawaku liburan ke luar negeri, menemaniku sampai tertidur, membacakan buku, membantuku menulis, memasakkan makanan Oriental, dan menyuapiku. Ms. Erika menyebutku bodoh dan malas, tapi Ayah Calvin berkeras kalau aku hanya punya kemampuan berbeda. Aku lebih suka diajari Ayah dibandingkan guru-guruku.

Masa ujian tiba. Kupikir aku tidak akan lulus. Hasilnya, aku malah jadi lulusan terbaik. Ayah Calvin begitu bangga padaku. Dia memelukku erat sekali.

Ayah, aku ingin tetap begini. Aku ingin selamanya bersama Ayah. Hanya Ayah yang memahamiku. Seluruh waktu Ayah habis untukku. Aku tahu, Ayah jarang sekali ke kantor dan mengurus yayasan. Itu semua karena Ayah ingin mendampingiku. Ayah, dengan kekayaanmu, Ayah ajarkan aku untuk berbagi dan peduli pada sesama. Ayah selalu menemaniku, dari pagi hingga pagi lagi. Terima kasih untuk waktumu, Ayah. Jose cinta Ayah Calvin karena Allah.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline