Lihat ke Halaman Asli

Korban Rayuan Petugas Gadungan

Diperbarui: 4 Januari 2018   08:46

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

www.rebanas.com

Anakku sayang sebentar lagi engkau akan hadir menghiasi jagat raya. Satu pinta dari bunda jangan pernah bertanya atau mencari tahu siapa ayahmu sebenarnya. Bundapun tak akan pernah memberitahu karena kelak engkau akan mengerti dan merasakan sendiri betapa kejamnya dunia ini. Biarlah bunda menyimpan sendiri cerita memilukan ini. Bisik Wenda lirih sembari telapak tangan kanannya mengusap lembut mengikuti gerakan manja anaknya.

Malam kian larut menyisahkan mereka yang masih di landa gunda gulana. Tak terkecuali bayangan Wenda  membawanya kembali ke sembilan bulan lalu. Kala itu dua orang petugas terpaksa menggiringnya ke sel tahanan atas kasus penggelapan dana perusahaan sebesar 500 juta rupiah. Sebenarnya sudah ada kesepakatan antara pihak perusahaan dan keluarga Wenda agar masalah ini tidak di bawa sampai ke jalur hukum namun di selesaikan secara kekeluargaan saja. Dan sebagai jaminan pihak keluarga Wenda memberikan  sertifikat rumah mereka.

Namun hingga batas waktu pelunasan yang telah di sepakati kedua belah pihak tak membuahkan hasil akhirnya kasus ini di meja hijaukan. Wenda hanya bisa pasrah menerima kenyataan pahit. Sementara uang sebanyak itu habis tak tersisa untuk bergaya hidup mewah, berplesiran ke luar negeri dan mentraktir beberapa temannya liburan gratis ke pulau Dewata. Ia harus menanggung semua praktek kecurangannya selama ini sebagai akuntan. Siap mengenakan rompi orange dan hidup terkurung di balik jeruji besi.

Wenda yang berambut panjang, cantik dan bertubuh sexi menjadi primadona di sel tahanan wanita. Kasusnya pun di bilang terpandang di mata tahanan lain. Sehingga Ia tak harus menghadapi cercaan dan atau hinaan seperti yang di alami tahanan lain karena kasus kekerasan seksual. Namun secara diam - diam Ia malah menjadi incaran rayuan petugas.

Hujan deras di sore itu menyisakan hawa dingin dan genangan air di beberapa sudut lapas. Para penghuni sudah terbuai dalam kebisuan malam. Wenda terjaga ketika indra pendengarnya menangkap bunyi langkah sepatu berhenti di sel nya. Seseorang bertubuh tinggi besar membuka pintu sel dan memintanya keluar mengikutinya ke ruang pemeriksaan.

"Ada apa pak.. panggil saya malam - malam??"

"Udah ... duduk saja dulu. Tu bersantailah dulu di sofa." Kata pak Bonang sambil menyodorkan air minum kemasan gelas. Pak Bonang berbalik badan lalu melangkah menuju rak TV, meraih remote dan switch on the TV.

Suasana di ruang pemeriksaan kembali terasa hening. Hanya suara dari TV yang sesekali sayup terdengar. Pak Bonang sengaja mengecilkan volume agar tidak berisik. Kemudian pak Bonang melepas baju dinasnya dan di gantung di sandaran kursi lalu berjalan menghampiri Wenda yang sedang menghisap lembut sedotan air. Pak Bonang nampak lebih gagah bila hanya mengenakan kaos oblong. Otot lengannya semakin terlihat kekar.

"Sayang sekaliii... gadis secantik kamu harus mendekam dan terkurung di balik jeruji besi. Masih lama juga masa tahananmu. Kurang lebih 10 bulanan lagi bukan waktu yang singkat." Katanya ketika mendaratkan pantatnya di sofa di samping kanan Wenda.

"Iya mau gimana lagi pak! Udah terlanjur."

"Jangan nyerah gitu dunkkk cantikk." Katanya sambil mencubit lembut pipi wanita itu. Kemudian lanjutnya, "saya bisa kok membantu membebaskan kamu tanpa harus menunggu lama. Sudah banyak wanita secantik kamu yang saya bebaskan. Asalkan Wenda mau penuhi syaratnya."

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline