Lihat ke Halaman Asli

Ang Tek Khun

TERVERIFIKASI

Content Strategist

Bertualang Rasa dan Sensasi di Aplikasi Online

Diperbarui: 4 Desember 2019   23:36

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Foto: Pixabay

Yuk. Mari kita berbincang soal makan.

Makan bukanlah sekadar aktivitas menjemput sesuatu dan mengantarkannya ke dalam mulut. Untuk dikunyah dan ditelan, sebagai asupan yang membuat perut kenyang. Atau, dalam bahasa yang lebih canggih, sebagai kegiatan penyediaan nutrisi dan energi yang berlangsung pada makhluk hidup.

Perkara bersantap ini, kini telah bergeser (move on). Ia menyandang banyak balutan fungsi lain bagi manusia, setidaknya dalam lingkar aktivitas bersosialisasi dan bergaya hidup. Cobalah bertanya pada pasangan yang sedang dalam proses pendekatan dan menjalani masa berpacaran. Makan selalu termasuk sebagai agenda krusial yang dijalani dalam merekatkan dua hati.

Elizabeth Gilbert, pernah menulis buku memoar berjudul Eat, Pray, Love (2006). Buku ini melejit dan bertahan lama dalam daftar Buku Terlaris New York Times. Kisah dalam buku ini kemudian dialihwahanakan dalam rupa film (2010) dengan judul yang sama. Bagi Liz, hidup tidaklah melulu dalam pusaran uang, karier, dan cinta.

Liz mengambil keputusan yang terasa tidak populer. Ia memilih berpisah dan menghibahkan seluruh harta miliknya kepada mantan suaminya. Lalu, sepenuh hati ia menempuh jalan panjang untuk menemukan jatidirinya. Roma, India, dan Bali membuatnya dalam garirah menikmati makanan, pengalaman spiritual, dan kedamaian hati serta keseimbangan hidup.

Beralih sosok, Brad Pitt juga cukup unik saat ia mengucapkan kalimat ini. "Being married means I can break wind and eat ice cream in bed." Ada soal makanmeski cuma es krim. Kalau Mark Twain, agak lebih serius. Ia berucap, "Part of the secret of a success in life is to eat what you like and let the food fight it out inside."

Ringkas kata, topik perbincangan tentang makan, sudah jauh melampaui persoalan kegiatan pemenuhan perut agar kenyang. Ada aspek gaya hidup di situ. Ada unsur petualangan di dalamnya. Tak luput, ada upaya perjumpaan dengan sang jatidiri. Hhm, bagaimana kalau kita klasifikasikan secara sederhana dan unik seperti ini.

Makan di mana? Makan apa? (Foto: Pixabay)

Saya nekad membaginya dalam tiga kategori, yang tentu saja didasarkan pada perkembangan zaman. Kategori pertama, jelas. Latarnya pada fase hidup susah. Inilah yang terjadi: Kita makan di rumah saja. Makan apa adanya. Memilih makanan untuk disantap, apalagi makan di luar rumah, adalah sebuah kemewahan.

Kedua, kita makan di luar rumah. Cozy dan romantis. Itu sebabnya, apa-apa diadakan, mengelilingi makanan. Makan di resto berkelas dan kafe-kafe cantik. Dengan musik syahdu atau bahkan live music. Berbasah-basah dengan santapan di tengah kolam renang. Atau, di tepi sawah dan di atas kolam ikan. Agar bernuansa ndeso, tapi elegan.

Ketiga, makan sesuai aplikasi. Pintu masuk ke dunia bersantap, sekecil layar smartphone. Namun di dalamnya, kamu tuh ibarat memasuki kulkas besar ukuran enam pintu. Apa-apa ada. Di sini, ada petuangan menguber rasa. Seperti gabungan antara mencari jejak di masa pramuka dan aktivitas menyusun puzzle.

Mari kita lanjut, membicarakan pola yang ketiga ini. Makan di era digital. Bahasa kerennya, bersantap di era Revolusi Industri 4.0.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline