Lihat ke Halaman Asli

Kanopi FEBUI

TERVERIFIKASI

Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi FEB UI

Mengamuk, Lalu Viral: Akankah Kita Bisa Memahaminya?

Diperbarui: 28 Mei 2021   19:42

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokpri

Tanah air kembali digegerkan oleh kisah-kisah viral nan sensasional, beragam kisah yang menceritakan satu hal serupa: tindakan agresif masyarakat. Di Jakarta Barat, ada dua wanita yang memaki kurir karena menerima barang pesanan yang salah. Bergeser ke Jakarta Timur, seorang pria penabrak motor mengancam korban dan warga sekitar dengan pistol andalannya. Kita pergi lagi ke Sukabumi, maka kita akan menemukan seorang ibu yang mengumpat polisi karena dipaksa untuk putar balik.

Meski seluruh cerita di atas terkesan sepenuhnya berbeda, sebenarnya terdapat satu benang merah yang bisa kita tarik. Aktor utama pada ketiga cerita sama-sama diberikan pilihan untuk melampiaskan amukannya atau tidak. Hal ini kebetulan bersinggungan dengan ilmu ekonomi yang pada hakikatnya membahas pembuatan keputusan. Tanpa mengulur waktu, apakah ilmu ini bisa menjelaskan tindakan gegabah yang kian menjamur tersebut?

Mula-Mula, Perkenalkan sang Penyulut Perkara!

Banyak orang memanggilnya dengan nama "narsisisme". KBBI mendefinisikan kata tersebut sebagai keadaan mencintai diri sendiri. Keadaan ini menjelma menjadi perilaku narcissistic yang dicirikan oleh sense of entitlement, rasa arogansi, dan kekurangan empati.

Perilaku ini lalu bisa mengarah kepada Narcissistic Personality Disorder (NPD) jika terbukti mencapai tingkat yang ekstrem. Penentuan gangguan ini tentu tidak sembarangan dan membutuhkan diagnosis lanjutan. Walaupun begitu, karena masih berada dalam spektrum narsisisme, para pelaku dalam kasus di atas tetap layak disebut sebagai narcissists 'orang yang menunjukkan perilaku narcissistic'.

Bersama-sama, kita bisa menyaksikan bagaimana para narcissists berlagak di hadapan kamera. Sang penabrak merasa gagah dengan memegang pistol, dua wanita merasa pintar dengan memahami aturan Cash On Delivery (COD) yang ternyata salah kaprah, dan sang ibu pemudik merasa berkuasa dengan memiliki kerabat yang menjadi aparat.

Lantas, dengan modal "cinta diri yang berlebih", mereka berani melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Ada keinginan untuk terbebas dari tanggung jawab setelah menabrak motor. Ada pula keinginan untuk menerima barang pesanan yang benar. Serta, ada juga keinginan untuk dibolehkan mudik.

Tak ayal, semua imbalan itu juga datang bersamaan dengan risiko yang menunggu. Dua yang utama adalah dilaporkan ke polisi serta diviralkan di media sosial. Orang biasa seperti penulis seharusnya takut. Biarpun begitu, para pelaku seolah menghiraukan kemungkinan buruk yang menanti. Pertanyaannya sekarang: Mengapa narcissist tetap melakukannya?

Usut punya usut, narcissist ternyata memiliki cara pandang yang berbeda dengan orang kebanyakan. Menurut Foster, Shenesey, dan Goff (2009), perbedaan antara narcissist dan orang biasa terletak pada cara masing-masing memaknai reward dari tindakan yang berisiko. Sederhananya, seorang narcissist menilai risiko sama besarnya dengan yang dinilai orang biasa. Namun, narcissist menilai reward yang diterima jauh lebih besar daripada penilaian orang biasa. Alhasil, mereka berani mengambil risiko untuk hal-hal yang berada di luar nalar kita. Mereka memaki dan mengancam orang tidak bersalah secara berlebihan tanpa pikir panjang.

Menilai secara Lebih Objektif

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline