Lihat ke Halaman Asli

Kamaruddin

Mengingat bersama dengan cara menulis

Tuntutan Perempuan dan Kaum Millenial di Aceh di Peringatan Hari Perempuan Sedunia

Diperbarui: 8 Maret 2021   12:34

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi International Women Day (IWD), tribunnews.com

Banda Aceh - Memeringati Hari Perempuan Sedunia yang jatuh pada 8 Maret, sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan kaum millenials di Aceh mengagendakan aksi kampanye virtual International Woman Day (IWD) 2021 dengan tema "Generasi muda memandang martabat manusia (Human Dignity) dan ke- Indonesiaan" yang diselenggarakan oleh Institut Ungu, di Caf Ivory, Seutui, Baiturrahman, Kota Banda Aceh, pukul 09.25 hingga pukul 11.45 WIB.

"Kami mengambil tema 'Generasi muda memandang martabat manusia (Human Dignity) dan ke -- Indonesiaan'. Disini kita ingin generasi muda terus menyuarakan martabat manusia terkait apapun kebijakan yang tidak pro kesetaraan," kata Pengelola Sekolah Hak Asasi Manusia (HAM) Flower Aceh, Gabrina Rezky, Senin, 8 Maret 2021.

Gaby yang juga mewakili kaum perempuan dan millenials ini menyebutkan perempuan punya peran strategis dalam pemenuhan HAM di Aceh. Pada masa konflik perempuan di komunitas mengambil alih peran sosial ketika laki-laki meninggalkan desa untuk mencari perlindungan karena ancaman di masa konflik.

Selain itu, perempuan secara terorganisir mendorong penyelesaian konflik Aceh secara damai melalui pelaksanaan kongres perempuan Aceh atau dikenal dengan Duek Pakat Inong Aceh (DPIA) pada Febuari 2000 menghadirkan 437 orang perempuan dari berbagai wilayah di Aceh yang merekomendasikan penyelesaian Aceh secara damai.

"Hari ini, partisipasi gerakan perempuan berlanjut dengan berbagai aksi, pengorganisasian kelompok perempuan di desa, diskusi kritis untuk peningkatan kapasitas,membangun dukungan, kampanye dan advokasi terkait pemenuhan hak asasi perempuan dan HAM di Aceh," imbuh Gaby.

Sementara itu, Pembina Yayasan Suara Aksi Orang Muda (YouthID), Farhan Atidi Dhaifullah, mengatakan, berdasarkan hematnya banyak kelompok  muda  yang sudah melakukan aksi baik diberbagai bidang dan isu. Namun aksi tanpa jaringan advokasi tidak cukup untuk membuat perubahan yang besar.

"Perlu adanya aksi kolaborasi dan jaringan yang luas untuk tujuan yang lebih besar," kata Farhan. 

Dalam hal ini, YouthID hadir untuk memberi ruang aman dalam mendukung penguatan dan pengembangan kapasitas kelompok muda. "Karena kami percaya, saat anak muda diberdayakan, harga dirinya lebih tinggi dan kualitas hidupnya lebih baik," ujarnya.

Bersamaan dengan itu, Fasilitator Young Voices, Heriyan Tuan Miko, menyampaikan pemenuhan HAM dimulai dari pengertian HAM itu sendiri, HAM melekat pada diri manusia sejak lahir dan berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat. Termasuk bagi penyandang disabilitas.

Ada sejumlah praktik baik saat ini yang masih perlu di tingkatkan yaitu, tersedia aksesibilitas di tempat umum, kesehatan, pendidikan dan ketenagakerjaan, peluang yang setara untuk disabilitas bisa terlibat aktif dalam perumusah kebijakan, hak untuk berpartisipasi dalam memilih maupun dipilih, terbebas dari stigma negative, mendapatkan pelindungan hukum yang aksesibel dan lain sebagainya.

Koordinator Millennials Empowerment, Syarifah Zahra Salsabila, menyebutkan setiap kita memiliki peran dan tanggungjawab yang sama, baik itu dari orang tua atau orang muda, pria atau wanita ketika berbicara mengenai perempuan, banyak hal yang bisa kita lakukan mulai dari aksi sederhana sampai aksi yang sangat luar biasa menuju "#ChooseToChallenge".

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline