Lihat ke Halaman Asli

irvan sjafari

TERVERIFIKASI

penjelajah

"Mereka Kembali", Film Perjuangan Pertama yang Memikat Saya

Diperbarui: 21 Agustus 2017   17:59

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Poster | bambangssantoso.wordpress.com

Suatu hari pada pertengahan 1970-an, kami sekeluarga menonton film di Drive In, saya lupa film apa. Waktu istirahat di resto saya melihat poster dan adegan film Indonesia berjudul "Mereka Kembali" sebagai film yang akan diputar atau "Akan Datang". Saya baru bisa baca waktu itu dan tahu itu film perjuangan kemerdekaan (yang sejarahnya masih sedikit saya ketahui).

Yang saya tahu Indonesia itu melawan Belanda, tetapi ada adegan pejuang Indonesia bertempur dengan pasukan yang berpakaian hitam-hitam. "Siapa mereka Papa?" dan "Film apa ini?" saya bertanya. Ayah saya menjawab, "Itu tentang Long March Siliwangi kembali ke Jawa Barat dan itu pasukan Darul Islam," jawab ayah saya. Itu awal saya tertarik pada film perjuangan.

Pada waktu itu belum mengerti mengapa dan buat apa mereka baku hantam? Bukankah musuh Indonesia itu Belanda? Saya langsung memasukan film ini sebagai buruan yang harus ditonton. Akhirnya kesampaian kami sekeluarga menonton film itu.

Bagi saya (kecil) film itu luar biasa karena bukan saja film perang (kemerdekaan), tetapi juga petualangan mendebarkan. Saya bayangkan kalau berada di tengah pasukan Siliwangi kembali ke daerah yang ditinggalkannya dan tidak pernah tahu mereka menghadapi apa di depan mereka.

Perjalanan pulang sejauh sekitar 450 Km, jalan kaki pula dan memakan waktu sekitar dua bulan (menurut berapa referensi) bagi saya luar biasa. Saya menontonnya beberapa kali di video dan Youtube.

Plot dan review: romantisme dan tragedi selama perjalanan
Opening scene sejumlah tentara Siliwangi sedang mandi bersama di sungai. Tentara yang mandi itu kemudian bersiaga setelah mendengar tembakan yang mereka ketahui tentara Belanda menyerang. Untuk sinematografi masa itu adegan pertempuran bisa digambarkan dengan baik. Baku tembak di Maguwo begitu seru.

Adegan Agresi Belanda ini diselingi narasi tentang Perjanjian Renville 18 Januari 1948 yang mengharuskan tentara Siliwangi hijrah ke Yogyakarta meninggalkan Jawa Barat. Mereka hijrah membawa keluarga mereka. Belanda kemudian membatalkan Perjanjian Renville dengan menyerang Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Panglima Sudirman akhirnya memerintahkan: Perintah Siasat Nomor 1, yang intinya Pasukan Siliwangi kembali ke Jawa Barat.

Pasukan Siliwangi kembali dan ada yang membawa keluarga mereka membuat cerita menjadi dramatis. Misalnya saja seorang tentara yang istri yang sedang hamil tertembak pesawat mustang Kerajaan Belanda. Tentara itu meraih senjatanya dan mencoba menembak mustang itu dan akhirnya ia sendiri tertembak dan gugur di samping istrinya. Begitu romantis.

Ada adegan romantis lain: pasangan yang ingin sehidup dan semati dalam perjuangan. Hingga tidak mau dipisahkan dan akhirnya malah pasangannya yang gugur.

Namun adegan yang paling menegangkan di segmen ini ialah pasukan Siliwangi hendak melalui sebuah kolong jembatan. Konvoi pasukan Belanda berada di atas jembatan karena sebuah kendaraan mengalami kerusakan. Jika sampai terjadi baku tembak maka korban sipil di pihak Siliwangi akan jatuh.

Ketika itu Udin, seorang serdadu Siliwangi diberitahu istrinya hendak melahirkan malam itu. Padahal Sang Istri sedang bereda di seberang kolong. Dia harus merayap bersama seorang kawannya yang bisa membantu melahirkan ke dalam kolong dan tanpa harus diketahui Belanda. Bayi berhasil dilahirkan dan tangisannya bisa didengar tentara Belanda. Beruntung mesin mobil berbunyi menutup suara tangis itu dan mereka berlalu tanpa pertempuran.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline