Lihat ke Halaman Asli

Juan Manullang

Penulis Lepas

Ketika Bu Megawati "Diserang" dengan Dugaan Elektabilitas Puan Rendah

Diperbarui: 29 Agustus 2020   00:16

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: dok Sindonews.com

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dianggap sedang cemas lantaran elektabilitas putri mahkotanya, Puan Maharani masih rendah.

Hal itu dikatakan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia atau KAMI Andrianto, "Sesungguhnya Mega sedang cemas. Dia kan menginginkan anaknya tampil, tapi banyak tokoh yang kini bermunculan sebagai capres sehingga kompetisinya lebih ketat yang dalam kacamata politik Mega tidak menguntungkan posisi anaknya," ujar Andrianto dilansir dari Sindonews.com, 27/8.

Hal itu juga berdasarkan survei Indikator Politik Indonesia pada 13-16 Juli 2020, elektabilitas Ketua DPP PDIP Puan Maharani hanya 2,0 persen. Perolehan ini terpaut jauh dengan kader PDIP Ganjar Pranowo dimana Ganjar di puncak dengan 16,2 persen.

Pertanyaannya, apa benar Bu Megawati cemas dengan elektabilitas Puan Maharani yang rendah?. Tentunya, hal itu harus dicari lagi kebenarannya.

Masalah elektabilitas rendah atau tinggi adalah hasil survei. Survei juga bisa berubah-ubah suatu saat. Lagipula belum tentu juga seorang Megawati pasti akan mencalonkan Puan Maharani di pemilu 2024 mendatang.

Sampai saat ini belum ada isu-isu dan berita hangat mengenai calon pemimpin tahun 2024. Kita tidak bisa melakukan spekulasi-spekukasi begitu.

Malah, apa yang disampaikan oleh Andrianto bagian dari KAMI itu sekedar membalas pernyataan Bu Megawati saja terkait tokoh KAMI banyak dihuni oleh mereka yang ingin jadi presiden dikatakan Bu Mega waktu lalu.

Ketimbang tidak dibalas maka dikatakanlah Bu Mega cemas dengan elektabilitas Puan Maharani yang rendah, padahal tidak demikian.

Beginilah bumbu-bumbu politik Indonesia. Yang dibahas adalah sesuatu yang lari dari konteks pilkada tahun ini.

Politik memang begitu, selalu terlihat panas ketika ada kontestasi tapi setelah selesai maka semua cair bahkan kembali bersahabat dan bisa jadi dapat hadiah berupa jabatan atau kekuasaan.

Jadi, penulis pribadi melihat politik di Indonesia ini bagaikan "sandiwara" saja. Pertama saling jawab menjawab dan saling serang padahal nantinya akan baik bahkan bersahabat lagi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline