Lihat ke Halaman Asli

Johan Japardi

Penerjemah, epikur, saintis, pemerhati bahasa, poliglot, pengelana, dsb.

Memaknai Kanji dengan Logika Bahasa Indonesia: Sebuah Sim-ak

Diperbarui: 19 April 2021   19:52

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

https://www.bbc.com/

Ini adalah sebuah aplikasi lagi dari metode invensi saya, Metode Sim-ak (Simplifikasi-akselerasi) Johan Japardi dengan Aplikasi pada Pembelajaran Apa Saja (antara lain baca artikel saya: Cara Baca Kanji Berdasarkan Komparasi dengan Dialek Hokkien, dan artikel-artikel yang mengulas tentang Sim-ak kode morse, harmonika, dll.

Kenapa kebanyakan orang berpendapat bahwa Kanji pada khususnya dan bahasa Jepang pada umumnya, sulit untuk dipelajari? Karena belum menggunakan metode Sim-ak, dan kesulitan itu timbul karena:
1. Bahasa Jepang bukan menggunakan sistem penulisan alfabet, tapi:
- Syllabary* (aksara tertulis yang merepesentasikan suku-kata: a-i-u-e-o, ka-ki-ku-ke-ko dst., yang saya singkat dari awalannya menjadi a-ka-sa-ta-na-ha-ma-ya-ra-wa ditambah dengan "n" (satu-satunya akhiran konsonan dalam bahasa Jepang) beserta turunan-turunannya.
Syllabary Jepang ini digunakan oleh Hiragana yang membentuk kata-kata asli Jepang dan Katakana yang membentuk kata-kata yang diadopsi dari bahasa selain China.

*Syllabary juga digunakan dalam aksara Jawa dan surat Batak, dengan kaidah yang berbeda. "Surat" adalah bahasa Batak untuk aksara.

Dokpri.

Senarai Hiragana, dibaca dari atas ke bawah dan kanan ke kiri.

Dokpri.

Senarai Katakana, dibaca dari atas ke bawah dan kanan ke kiri .

Catatan: 
Bunyi wi dan we sudah tidak digunakan dalam bahasa Jepang karena bisa digantikan dengan i dan e. Bentuk kedua aksara ini saya tampilkan di sini karena masih digunakan dalam buku lama. Saya memanfaatkan bentuknya (wi) dalam Katakana sebagai radikal.

- Sebelum sistem syllabary diciptakan, bahasa Jepang menggunakan sistem ideogram atau ideograf atau piktogram (jika mirip dengan benda fisik), yakni 漢字 Kanji, untuk kata-kata yang diadopsi dari bahasa China.
Data terbaru yang saya simpan menunjukkan bahwa di China, jumlah aksara 漢字 Hanzi (sebutan Kanji di China, dari mana Kanji berasal) adalah 70.000-an. Di Jepang sendiri jumlah ini sudah dibatasi menjadi hanya 1.945 aksara, yang sudah memadai untuk penggunaan dalam komunikasi sehari-hari, tapi memiliki konsekuensi bagi para peneliti sejarah Jepang, yang harus mengacu ke Kamus Hanzi untuk menelaah naskah-naskah kuno.

Singkat cerita, orang Jepang sekaligus menggunakan: 2 sistem penulisan (syllabary dan ideogram) atau 3 bentuk aksara tulisan (Kanji, Hiragana dan Katakana).

Cerita dari seorang teman saya dari Tokyo, berusia 60-an tahun, dia sendiri kadang-kadang lupa bagaimana menuliskan sebuah Kanji, namun dia tidak pernah salah dalam mengetikkannya. Mengapa? Karena  kamus di smartphone akan menampilkan aksara berdasarkan frekuensi penggunaannya. Agar lebih jelas, saya bawakan sebuah contoh Hanzi (dalam bahasa Mandarin):

Tidak jadi masalah jika Anda tidak ingat cara menulis kata xiexie (terimakasih), Anda cukup mengetikkan, misalnya di Whatsapp (dengan terlebih dulu mengunduh keyboard Mandarin): xiexie (dalam ejaan pinyin) dan pilihan pertama yang keluar adalah  謝謝 (Mandarin Tradisional) atau 谢谢 (Mandarin sederhana). Dalam bahasa Jepang, cara baca onyomi atau bunyi atau cara China: 感謝 kansha dan cara baca kunyomi atau pola atau cara Jepang: 有り難う arigatou.

Saya menduga bahwa "keenceran" otak orang Jepang ada keberkelindanannya dengan kebiasaan mereka menggunakan sekaligus 3 bentuk aksara tulisan ini, dan mereka sejak kecil melatih Kanji dengan bantuan Hiragana yang paling awal dipelajari. Hiragana dalam fungsi membantu pembacaan Kanji ini disebut Furigana, yang biasanya ditulis lebih kecil di atas Kanji, jika tulisannya menyamping ke kanan, atau di kanan Kanji, jika tulisannya ke bawah. Contoh:

Dokpri.

Semakin tinggi tingkat pendidikannya, seorang orang Jepang akan semakin berkurang ketergantungannya pada Furigana.

Kanji sendiri bisa terdiri dari jumlah guratan (stroke) paling sederhana sampai dengan paling "rumit." Yang paling rumit yang saya temukan daring adalah Hanzi "biang" (Gambar Judul) invensi Wang Sijun, seorang dosen universitas di Sichuan, terdiri dari 56 guratan, maknanya belum didefinisikan dan media lokal menyebutkan bahwa Wang Sijun mendapat inspirasi menulis Hanzi ini dari makanan bakmi ketika dia berkunjung ke provinsi Shaanxi. Jadi untuk sementara kita maknai "biang" sebagai "sejenis bakmi dari Shaanxi." "Biang" digunakan oleh Wang Sijun untuk menghukum mahasiswa yang telat, dan sudah 2 mahasiswa yang terkena hukuman menuliskan aksara ini 1.000 kali, yang lain mungkin sudah takut telat.

Aksara ini sampai sekarang belum bisa saya temukan dalam halaman aksara Unicode (Unicode Character Page) mana pun.
Lantas, kenapa saya menampilkan contoh bunga mawar dengan bakmi ini?

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline