Lihat ke Halaman Asli

Iwan Setiawan

Menulis untuk Indonesia

Abah di Simpang Jalan

Diperbarui: 17 November 2022   09:50

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

photo diunduh dari pixabay.com

Sosok Abah sudah tidak asing bagi siapa pun. Di persimpangan Jalan Abdul Muis dan Jalan Cimande, Kota Bunga, Abah biasa berada. Saban pagi dan petang ia turut mengatur kendaraan. Membantu Polisi membukakan jalan bagi para pengendara yang akan memasuki atau keluar dari jalan yang cukup ramai.

Para pengemudi biasa  memberi Abah uang receh atau sebatang rokok. Hal yang dianggap sebagai ungkapan terima kasih. Menyeberang di persimpangan ini memang perlu sedikit perjuangan. Arus kendaraannya begitu rapat sehingga sering terjadi kemacetan.  Belum lagi kebiasaan buruk pengguna jalan yang ada kalanya tak saling memberi kesempatan satu sama lain.

 "Sabar, sabar, nggak akan lama" kata Abah kepada setiap pemotor yang terlihat gak sabaran. Di perempatan itu ia seperti Polisi lalu lintas yang sedang bekerja. Melaju atau terhentinya kendaraan tergantung pada perintahnya.

Meski begitu, ada saja pengguna jalan yang tak mau diatur. Mereka seenaknya membawa kendaraan. Tak jarang tingkah mereka jadi penyebab kemacetan. Kendaraan terhenti dari segala arah. Dalam situasi seperti ini, kerja Abah begitu berat.

Suatu hari Abah pernah keserempet motor. Saat itu Abah berdiri sedikit ke tengah badan jalan. Ia hendak menyeberangkan kendaraan seperti biasa. Tiba-tiba sebuah motor nyelonong dari arah belakang Abah. Kejadian ini membuat betis kaki kanan Abah terluka cukup parah.

Saat hujan turun di perempatan itu tercipta genangan. Linangan air sedalam mata kaki yang merata di setiap permukaan jalan. Akibat banjir kecil ini, arus kendaraan jadi terhenti. Kemacetan panjang pun terjadi. Abah tak bisa berpangku tangan. Ia nyemplung ke tengah genangan air, berusaha mengurai kemacetan dengan badan basah kuyup.

Setiap hari Sabtu digelar pasar dadakan tak jauh dari perempatan jalan. Orang-orang datang silih berganti berbelanja aneka keperluan. Kendaraan mereka terparkir di tepi jalan sehingga menghambat kendaraan  yang lain. Keadaan ini memaksa Abah bekerja lebih keras lagi. Perempatan jadi pertemuan kendaraan yang datang dan meninggalkan pasar tersebut.

Pada hari-hari besar umat Khonghucu perempatan jadi pintu masuk yang ramai. Warga keturunan Tionghoa berdatangan menuju permakaman El Rose, tak jauh dari perempatan jalan. Di sini mereka merayakan Tahun Baru Imlek, Hari Raya Chengbeng dan yang  lain bersama arwah para leluhur. Kesibukan Abah tentu berlipat ganda. Membantu membukakan jalan bagi mobil-mobil mewah milik para peziarah.

Melihat keseharian Abah yang berat aku sebetulnya tak tega. Abah yang sudah renta berada dalam suasana bising dan keras seperti itu. Seharian Abah berada di tengah jalan. Berharap kepingan rupiah dari para pelintas.

Sementara kami anak-anaknya seakan tak acuh pada penderitaannya. Aku pernah meminta abah untuk menyudahi kegiatannya menyeberangkan mobil. Menjadi "Polisi Cepek" yang kehadirannya kadang dianggap menyebabkan kemacetan alih-alih melancarkan jalan.      

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline