Lihat ke Halaman Asli

Iis Siti Aisyah

Teacher | Reader | Freelance Writer

Alasan Wajib Nonton "212 The Power of Love"

Diperbarui: 12 Mei 2018   07:31

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

(Dok. Pribadi)

Sudah ada yang nonton film 212 The Power of Love kah?  Meskipun sudah banyak di luar sana yang sudah menulis tentang film ini, saya juga tidak mau ketinggalan menulisnya. Terlebih film ini memakai latar tempat saya lahir dan besar, yaitu Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Selain itu saya pun menontonnya di bioskop Ciamis, meskipun baru tadi sore menontonnya. :D

Sebelum saya menonton film ini, saya juga silaturahim ke tempat saya pernah menimba ilmu, yaitu Pondok Pesantren Alhasan Ciamis, di sana pula saya bertemu kawan lama yang masih mangabdikan diri di Ponpes, menambah keharuan karena saya ingat betul ketika aksi damai ini berlangsung pengasuh pondok pesantren saya juga ikut long march dari Ciamis menuju Jakarta. Meskipun di tengah perjalanan akhirnya disediakan juga angkutan umum.

Film yang sudah ditayangkan dari 9 Mei kemarin ini saya kira menjadi tontonan wajib. Saya pun tidak mau ketinggalan. Suka nonton film? Saya sarankan jangan ketinggalan nonton film ini, kenapa?

Mengajarkan Kita Untuk Mempertahankan Pendapat, dan Belajar Mengolah Pola Pikir

Rahmat, adalah pemain utama pada film ini merupakan lulusan jurnalistik Universitas Harvard yang bekerja di salah satu penerbitan yaitu Tabloid Republik di Jakarta. Kerennya pada cerita ini ternyata Rahmat adalah orang Ciamis. Ketika berpendapat dan menulis selalu keukeuh dengan pemikirannya, meskipun pemimpin redaksinya menolak tulisannya.

Dari sana kita bisa belajar bahwa apa yang kita yakini jangan pernah ditukar dengan hal lain yang bersifat popularitas dan materi. Tetapi menjadi hal lain lagi jika kita berpikir untuk bisa mengubah pola pikir dan terus belajar melihat situasi yang sebenarnya. Itulah nantinya yang terjadi pada Rahmat, mendapat cahaya lain dari Islam yang sesungguhnya.

Bisa jadi pula itu terjadi pada saya atau kita. Terlalu yakin pada sesuatu yang kita sendiri belum paham betul kebenarannya.

Orang Tua Adalah Salah Satu Jalan Kesuksesan

Pada film ini, Rahmat adalah anak seorang kiayi yang mashur dari Ciamis Ki Zainal. Tetapi melihat anaknya menulis tentang Islam yang selalu disudutkan, membuat Abahnya tersebut tidak menyukainya. Jalan Rahmat juga begitu rumit sehingga memiliki kepribadian yang kurang simpatik, terkesan apatis dan selalu skeptis melihat kejadian.

10 tahun Rahmat hidup jauh dari keluarga, karena kebencian pada ayahnya yang memasukkan dirinya ke pesantren yang banyak anak bandelnya, bukan tanpa sebab. Tetapi rasa cinta antara ayah dan anak memang tidak mungkin begitu saja terpisah, akhirnya...(mau tahu? nonton ya)

Di sini, saya langsung mengingat kedua orangtua saya. #nangiis

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline