Lihat ke Halaman Asli

Tangisan Ibu di Negeri Cahaya

Diperbarui: 1 Januari 2019   23:08

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Cuaca di luar kamar yang masih gelap serta sejuk menenangkan hati, alunan adzan di dalam kamar membuatku terbangun dan bersujud syukur bisa menikmati kesan yang tidak pernah kudapatkan di kampungku. 

Semua bentuk ibadah berupa berdiri, rukuk, sujud, dan berdoa menjadi hal yang tidak bisa kutinggalkan setiap detiknya di kota mulia ini. Semua pada asalnya adalah berpahala, tetapi hanya di kota mulia ini aku merasakan betapa masyarakat Muslim adalah masyarakat yang kaya, beda dari anggapan orang orientalis yang merasa bahwa masyarakat Muslim itu hanya sekumpulan orang miskin tak berdaya.

                "Mas, ayo kita shalat Tahajud di masjid, mumpung masih panjang waktunya!", teriak istriku yang bernama Risa.

                "Iya my darling, aku tak wudhu sek yo." Balasku dengan sedikit bahasa Jawa logat Palembang yang bisa disebut bahasa Jombang, singkatan dari Jowo Palembang.

Setelah mengambil wudhu, kami pun pergi menuju Masjidil Haram yang berjarak sekitar 100 meter dari hotel Tower Zam-zam, tempat aku dan istriku menginap. Buru-buru aku dan istriku berjalan ke masjid agar tidak ketinggalan waktu shalat Tahajud layaknya Zorro dikejar oleh musuh-musuhnya, mendadak kami melihat dari jarak 30 meter seorang kakek tua renta sedang berjalan menuju Masjidil Haram dengan merangkak.  Aku dan istriku saling menatap satu sama lain antara keheranan dan kasihan dengan kakek tua renta tersebut.

                "Mas, ayo mas kita harus shalat Tahajud, waktunya sudah mau habis." Ujar istriku buru-buru.

                "Sebentar darling, Tahajud itu hukumnya sunnah, sementara membantu orang yang kesulitan adalah kewajiban kita sebagai makhluk sosial dan beragama".

                "Untuk Shalat Tahajud, insya Allah kita masih sempat, kalaupun tidak sempat maka Allah Tau niat kita sebenarnya. Dengan kita menolong, maka pahala beliau saat shalat akan mengalir ke kita.", ujarku sambil setengah kultum

Akhirnya kami pun menghampiri kakek tua renta itu yang ternyata asli Arab Saudi. Beliau tinggal sendirian di dekat Masjidil Haram dan selalu merangkak untuk berangkat shalat 5 waktu dari rumahnya.

                "Ya Syekh, Hayya Nadzhab ila Hunaka Jamaah", ajakku dengan bahasa Arab Fushah.

                "Masya Allah ya akhi, barakallahufik", balasnya dengan mata berbinar.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline