Lihat ke Halaman Asli

Teman Hidup

Diperbarui: 28 November 2023   16:01

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

pinterest.com/altasl_

Di sebuah kota kecil yang dikelilingi pegunungan hijau, hiduplah seorang wanita cantik bernama Putri. Dia adalah arsitek berbakat yang sibuk dengan berbagai proyek. Meski mengarungi lautan pekerjaan yang tak pernah reda, ada satu sosok yang selalu bersarang dalam kenangannya: Putra.

Putra, teman masa kecil Putri, adalah sahabat yang mengisi kehidupan Putri dengan tawa dan ceria. Mereka bersama-sama mengeksplorasi kebun belakang rumah mereka, merancang bentuk awan di langit biru, dan menghabiskan sore hari dengan berbagai petualangan kecil. Namun, seperti nasib kebanyakan pertemanan anak-anak, kisah persahabatan mereka berpisah ketika keluarga Putra pindah ke kota lain.

Bertahun-tahun berlalu, mengukir banyak cerita di buku hidup masing-masing. Hingga suatu hari, melalui undangan pernikahan seorang teman, takdir menyatukan kembali Putri dan Putra. Ketika Putri melangkah masuk ke ruangan pernikahan, pandangannya tertuju pada pria yang tegap dan tampan di ujung ruangan: Putra. Dalam gaun jasmin putih yang memesona, Putri menyadari bahwa teman masa kecilnya telah tumbuh menjadi pria yang mengagumkan.

Bersalaman dengan senyum yang hangat, mereka terlempar ke dalam aliran kenangan masa kecil. Ketawa ceria, rahasia-rahasia kecil, dan tawa bersama kembali hadir dalam momen-momen yang singkat namun berharga.

Setelah pernikahan berakhir, Putri dan Putra menghabiskan waktu lebih banyak bersama. Mereka membangun kembali koneksi mereka, merangkai kembali benang persahabatan yang sempat putus. Putri menemukan bahwa, di balik serba baru dan perubahan, ada keintiman yang tak tergantikan—rasa nyaman dan kehangatan yang hanya bisa ditemukan di antara teman lama.

Suatu malam, di halaman belakang rumah Putri yang dihiasi oleh lampu-lampu bercahaya lembut, keduanya duduk bersama di bawah langit berbintang. Udara malam yang sejuk dan ketenangan malam membuat suasana semakin romantis. Mereka berbagi cerita tentang perjalanan hidup masing-masing, mimpi-mimpi yang mereka kejar, dan segala hal yang terlewat selama bertahun-tahun.

Ketika cahaya bulan memancar di atas kepala mereka, Putri merasakan denyut jantungnya berdegup lebih cepat. Dengan tatapan hangat, dia menyampaikan perasaannya kepada Putra, "Putra, apakah kamu masih ingat ketika kita dulu sering bermain di sini?"

Putra tersenyum penuh kenangan, "Tentu saja, Putri. Itu adalah waktu yang indah."

Dengan ragu namun penuh keberanian, Putri melanjutkan, "Aku merindukanmu, Putra. Bukan hanya sebagai teman, tapi lebih dari itu."

Putra membalas senyumnya, "Aku juga merindukanmu, Putri. Entah mengapa, hatiku selalu menyimpan tempat untukmu."

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline