Lihat ke Halaman Asli

Merelatifkan Seni Tradisi

Diperbarui: 25 Juni 2015   00:36

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Mengapa Matah Ati begitu menarik perhatian? Jawabannya macam-macam: publikasi yang berhasil, tokoh-tokoh penyaji dan kreatornya yang memang sudah dikenal publik atau karena racikan pertunjukannya yang memang menarik. Dan bisa jadi masih ada jawaban lain untuk pertanyaan itu.

Yang jelas begini, Matah Ati yang digelar tiga kali selama tiga malam di Pamedan Pura Mangkunegaran, Solo selalu penuh penonton. Tak sedikit penonton yang datang dua atau tiga kali (yang datang tiga kali berarti menyaksikannya tiap pertunjukan di gelar).

Dan saya yakin seyakin-yakinnya, mayoritas dari ribuan penonton yang hadir di Pamedan Pura Mangkunegaran selama tiga kali pertunjukan Matah Ati itu adalah orang yang awam seni, terutama seni tradisi. Faktanya, mereka begitu terpikat dengan pertunjukan yang berbasis Langendriyan khas Mangkunegaran itu.

Saya menyaksikan Matah Ati pada Sabtu malam (8 September) atau malam pertama dari tiga malam pertunjukan di Solo. Sebelumnya, Matah Ati dipertunjukkan di Esplanade Singapura dan di Teater Jakarta. Di Singapura dan Jakarta Matah Ati dipertunjukkan di dalam ruangan. Sementara di Solo, Matah Ati dipertunjukkan di Pamedan Pura Mangkunegaran alias alun-alun mini Istana Mangkunegaran.

Bisa jadi perbedaan format pertunjukan indoor dan outdoor ini berpengaruh signifikan terhadap animo penonton ketika digelar di Solo. Publikasi yang masif bisa jadi juga menjadi pendukung utama kesuksesan pertunjukan di Solo.

Saya memilih memandangnya dari sisi yang lain. Komponen utama pertunjukan Matah Ati adalah seni tradisi: langendriyan khas Mangkunegaran, tari-tarian klasik, musik gamelan dan busana yang khas tradisi Jawa (Solo, dan lebih khusus Mangkunegaran).

Cerita yang menjadi alur pertunjukannya juga bersifat "tradisional", yaitu kisah Rubiyah, istri Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa, ketika mendampingi pendiri Kadipaten Mangkunegaran itu melawan penjajah Belanda.

Rubiyah adalah gadis desa keturunan keluarga berdarah biru yang diperistri Raden Mas Said. Rubiyah kemudian memimpin prajurit wanita yang menjadi salah satu kekuatan militer pendukung Raden Mas Said ketika berperang melawan Belanda.

Bagi generasi muda sekarang, kisah tentang Rubiyah ini jelas asing. Di Solo tak banyak--bahkan bisa dikatakan tak ada--publikasi, kajian tertulis, atau artikel yang bisa diakses publik secara mudah yang menceritakan siapa Rubiyah ini.

Catatan tentang Rubiyah hanya ada di Reksapustaka Pura Mangkunegaran, perpustakaan di Istana Mangkunegaran yang menyimpan naskah-naskah kuno dan klasik peninggalan kebudayaan Jawa era kerajaan.

Mengapa ketika dipentaskan dalam wujud pergelaran seni yang cukup "berat" ternyata mampu menarik perhatian banyak orang, bahkan orang awam sekalipun?

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline