Lihat ke Halaman Asli

Hara Nirankara

Penulis Buku

Perjalanan Panjang Manusia

Diperbarui: 19 Oktober 2019   18:01

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Image via notyouraverageteens

Pada tulisan kali ini, saya akan menjawab satu pertanyaan tentang "Apa itu jati diri. Bagaimana caranya mencari dan menemukan jati diri?". Jati diri secara umum berarti suatu hal yang ada di dalam diri kita, seperti karakter, sifat, watak, dan kepribadian.

Di dalam diri setiap orang pastilah memiliki berbagai unsur dari jati diri yang berbeda. Kita mempunyai karakter yang berbeda, persepsi yang berbeda, pola pikir yang berbeda, watak yang berbeda, serta sifat yang berbeda. Saya sendiri sampai detik ini masih belum menemukan jati diri saya itu seperti apa, sampai saat ini saya masih mencari, mengeksplore segala hal yang ada di dalam diri saya.

Pada tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya sudah sering membahas mengenai kondisi alam bawah sadar, kondisi mental, serta pengendalian emosi atau anger management. Pada tulisan kali ini, saya akan menjadikan diri saya sendiri sebagai contoh.

Perjalanan saya dalam mencari jati diri teramat panjang dan rumit, serta melelahkan. Saya ingat sekali dulu, ketika saya debat dan akhirnya memarahi tiga orang penjaga minimarket. Waktu itu saya komplain karena barang yang saya beli tidak bisa saya dapatkan, padahal saya sudah membayar barang itu dan menunggunya selama kurang lebih tiga jam.

Akhirnya saya meminta uang saya kembali dan memarahi penjaga minimarket itu yang juga punya klaim, kalau barang yang saya beli sudah sukses transaksinya. Akhirnya saya memarahi mereka, saya luapkan emosi karena merasa sangat kecewa. Namun, setelah cekcok itu berhenti dan saya merasa sudah puas karena memarahi mereka, timbullah rasa bersalah saya kepada mereka bertiga. Waktu itu saya berpikir, apakah yang saya lakukan sudah benar? Kenapa saya memarahi mereka semau saya? Pada saat itu pula saya mulai sadar, bahwa saya harus menghilangkan sesuatu yang jelek yang ada di dalam diri saya.

Waktu itu saya berdiskusi dengan teman saya, ia adalah orang yang baik bernama Yudistira, akun instagramnya adalah @lajurkiri . Setelah berdiskusi hingga subuh, saya berpikir harus ada problem sloving untuk kondisi diri saya. Akhirnya teman saya itu menyarakan saya untuk belajar ilmu filsafat, walaupun sebenarnya ilmu filsafat teramat berat, dia menyarankan saya untuk mempelajarinya dari yang paling dasar, yaitu Materialisme, Dialektika, dan Humanisme.

Setelah saya mendapatkan arahan yang cukup jelas, esok malamnya saya berkunjung ke salah satu toko buku yang ada di kota saya. Pada toko buku itu saya tertarik dengan salah satu buku yang berjudul Post Madilog karya K.H Ashad Kusuma Djaya. Awalnya saya pikir, buku itu sama beratnya dengan bukunya Tan Malaka, namun dengan tekad saya yang sudah bulat, saya memutuskan untuk membeli buku itu dan membacanya.

Buku Post Madilog adalah buku yang pertama kali merubah pandangan hidup saya, membuat saya berpikir keras, dan akhirnya memunculkan banyak sekali pertanyaan tentang Agama, Tuhan, dan Manusia. Saya ingat betul saat pertama kali pandangan saya berubah tentang konsep dan ekstensi Tuhan. Di dalam buku itu ada satu bagian yang berhasil memantik otak saya untuk lebih keras dalam berpikir.

Yang saya ingat, ada sebuah percakapan yang terjadi antara kakak dan adik. Sang adik bertanya kepada kakaknya, "di manakah Tuhan?", lalu sang kakak memberikan analogi bahwa Tuhan itu seperti angin (kalau tidak salah ingat). Sang kakak berkata, kita tidak bisa melihat eksistensi Tuhan, tapi kita bisa merasakan kehadiranNya.

Sejak saat itu saya mulai berpikir bahwa Tuhan itu tidak berada di atas Arsy, tidak berada di Israel, tidak ada di tempat ibadah, tetapi Tuhan ada di dalam diri saya. Saya tidak perlu repot-repot meyakinkan semua orang kalau di dalam diri saya ini ada yang namanya Tuhan, karena mereka tidak akan percaya sama sekali kepada diri saya. Jadi saya berpikir, untuk apa saya memberitahu orang yang nantinya tidak akan percaya kepada saya? Lebih baik saya menyimpan itu untuk diri saya sendiri, karena belum tentu juga Tuhan yang ada di dalam diri saya sama dengan Tuhan yang dimiliki oleh orang lain.

Pertanyaan-pertanyaan seputar Tuhan dan agama terus muncul di benak saya, dan, saya akui, saat itu saya sempat depresi karena memikirkan sesuatu yang memang pada sejatinya merupakan sebuah misteri. Untungnya saya memiliki seorang guru spiritual, akhirnya saya memberanikan diri untuk sowan kepada beliau seorang diri.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline