Lihat ke Halaman Asli

Sakit Gigi Setelah Ditambal

Diperbarui: 4 April 2017   18:31

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

1412928372408687412

[caption id="attachment_365370" align="aligncenter" width="620" caption="Ilustrasi (Sumber: health.kompas.com)"][/caption]

Pernahkah gigi Anda merasa nyeri justru setelah ditambal?

Bulan lalu gigi geraham depan (premolar) atas saya mendadak sakit, rasanya seperti panas yang menjalar ke telinga dan leher, sangat mengganggu dan membuat saya badmood seharian. Padahal gigi itu (bagi saya) terlihat normal-normal saja.

Setelah sempat menahan sakit beberapa hari dengan minum asam mefenamat, saya pergi ke dokter gigi. Ternyata setelah diperiksa dengan detil, gigi saya mengalami karies dari dalam. Saya sebenernya tidak heran, karena meskipun menyikat gigi secara rutin dan bahkan menggunakan mouthwash antiseptik, saya kebiasaan makan snack yang manis-manis sebelum tidur.

Setelah gigi saya dirontgen, ternyata ada lubang yang kecil yang cukup dalam dan hampir mengenai pulpa (saraf dan pembuluh darah gigi yang terkonsentrasi di bagian akar). Saya sempat berpikir mungkin pulpa saya harus dicabut karena radang tersebut (prosedurnya dikenal dengan perawatan akar gigi, yang melibatkan anestesi lokal dan tindakan pengangkatan seluruh jaringan di dalam akar gigi). Ternyata dokter berkata lain, beliau memilih menambal sementara gigi saya selama dua minggu untuk melihat ada pertumbuhan dentin sekunder atau tidak. Dentin adalah lapisan antara enamel dan pulpa gigi.

Selama masa observasi dua minggu itu gigi saya tidak sakit sama sekali, 100% bebas keluhan. Dengan percaya diri saya datang ke dokter pada hari yang dijanjikan untuk tambal permanen. Saat dokter membuka tambalan sementara, membor, membersihkan bagian dalam gigi, saya tetap tidak merasa sakit apa pun, bahkan saat diberikan cairan asam ke dalam gigi yang notabene terekspos sarafnya saya merasa nyaman-nyaman saja. Dokter juga tidak berkomentar apa-apa sehingga saya berasumsi bahwa dentin sekunder saya telah tumbuh lagi dan gigi saya masih vital.

Penambalan permanen pun dilakukan. Dokter menambal dengan resin komposit dan kemudian gigi saya disinar dengan ultraviolet. Seluruh proses saya lalui tanpa rasa sakit dan tentunya tanpa bius. Tambalan gigi tersebut terlihat sangat sempurna dan memiliki warna serupa gigi asli. Saya senang gigi saya normal kembali.

Dua hari kemudian saat saya di kantor, tiba-tiba gigi saya yang baru saja dirawat tersebut mendadak terasa berdenyut, kalau ditekan rasanya sangat nyeri. Anehnya rasa nyeri ini tidak terjadi saat tambal sementara dulu. Saya jadi tidak nafsu makan karena mengunyah bisa memperparah keadaan. Saya sudah berpikir negatif bahwa mungkin dokter saya ini tidak kompeten atau kurang steril. Kali ini paracetamol cukup efektif untuk meredam rasa sakitnya. Saya kesal sekali, sebab jika benar gigi saya infeksi karena perawatan barusan, maka tambal permanen saya harus dibongkar, dilakukan perawatan akar gigi, tambal sementara, lalu ditambal permanen lagi. Ah sial. Tambal permanen dengan penyinaran bukanlah perawatan murah karena bahan komposit di Indonesia masih impor. Kalau saya hitung-hitung, untuk perawatan akar gigi hingga penambalan permanen membutuhkan minimal 800 ribu hingga sejuta rupiah (dokter pribadi, kalau di rumah sakit atau puskesmas bisa lebih murah karena ada subsidi pemerintah).

Saya kemudian berkonsultasi dengan dokter gigi lain, ternyata dokter tersebut malah berkata bahwa hal itu normal, rasa sakit setelah ditambal merupakan hal yang wajar, yang disebabkan oleh salah satu atau gabungan faktor berikut:


  1. Bahan-bahan kimia yang digunakan saat proses penambalan merupakan zat asing bagi tubuh kita, sehingga menimbulkan reaksi radang.
  2. Bahan resin komposit masih dapat mengeras setelah sekitar dua hari penambalan. Saat mengeras, resin komposit akan menyusut, penyusutan resin komposit akan menimbulkan daya hisap dari dalam gigi. Sakit ini biasanya baru muncul satu hingga dua hari setelah penambalan.
  3. Saat proses pembersihan, pemboran, pengasaman, penyinaran, dan penambalan, saraf gigi mengalami berbagai trauma dari zat kimia, panas, dan gesekan. Hal ini wajar karena saraf gigi begitu sensitif. Sakit ini bisa berlangsung hingga dua bahkan enam minggu pasca tambalan dan akan hilang dengan sendirinya.

Untungnya, sekitar hampir dua minggu sejak tambal permanen tersebut, nyeri gigi saya mulai berkurang dan tidak bengkak lagi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline