Lihat ke Halaman Asli

Achmad Nur Hidayat

Pakar Kebijakan Publik

Obat Resesi: Memperkuat BUMN sebagai Penggerak Ekonomi

Diperbarui: 2 Agustus 2020   16:47

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gedung BUMN | diolah dari idxchannel.com

Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal Agustus 2020 akan merilis data pertumbuhan triwulan kedua 2020.

Bank Indonesia dan Kemenkeu sudah mempublikasikan bahwa triwulan kedua, pertumbuhan ekonomi Indonesia ada pada level negatif -4.3% (yoy). Laju pertumbuhan negatif tersebut bila terjadi juga di triwulan III 2020 maka resesi Indonesia benar-benar terjadi.

Sebelumnya, pertumbuhan ekonomi triwulan pertama di rilis BPS hanya tumbuh 2,97 % (yoy) dimana pertumbuhan tersebut sudah turun 2 % lebih lambat dibanding pertumbuhan triwulan 4/2019  (4,97 %). Penurunan tersebut sudah merupakan indikasi akan terjadi resesi ekonomi.

Oleh karena itu rencana pembiayaan besar senilai Rp903.46 triliun diumumkan Presiden Jokowi 29 Juni 2020 untuk mengantisipasi resesi itu. Kebutuhan pembiayaan APBN yang mencapai Rp 903,46 triliun merupakan penyesuaian terhadap Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2020. Namun ternyata tidak juga dapat menghindari ekonomi tumbuh menjadi negatif di triwulan kedua ini.

Lantas apa langkah selanjutnya yang harus diambil untuk antisipasi resesi di triwulan ketiga nanti?

Sudah ada 10 negara yang mengalami resesi ekonomi akibat covid diantaranya adalah Australia, Jepang, Perancis, Singapura, Korea Selatan, Hong Kong, Jerman, Amerika, Spanyol  dan Italia. Resesi ekonomi ditunjukan dari penurunan pertumbuhan dua triwulan berturut-turut. 

Ekonomi AS anjlok ke level -32,9% di Kuartal II-2020, sebelumnya -5% pada kuartal I-2020, Ekonomi Jerman kontraksi sebesar -10,1% sebelumnya -2.2%, Singapore -41.2%, Australia -7%, Hongkong -9%, Korsel -3.3% sebelumnya -2.9%,  pada kuartal II-2020.

Solusi Resesi: Restrukturisasi Bisnis Model BUMN
BUMN memiliki peran besar di berbagai sektor usaha. Karena mayoritas pendapatan bruto Indonesia itu adalah dari BUMN. BUMN ada disemua sektor kehidupan mulai dari transportasi, kesehatan, perbankan, mineral, jasa dan sebagainya.

Aset BUMN selalu naik tiap tahunnya. Pada tahun 2004 aset BUMN sebesar  1,191 triliun, kemudian naik Rp2000 triliun (2009), Rp 5200 triliun (2014) dan terakhir meningkat menjadi Rp8092 triliun (2019). 

Peningkatan aset BUMN ini merupakan modal dasar BUMN untuk menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi. Dampak peningkatan aset BUMN tersebut adalah kontribusi langsung yang diberikan kepada APBN berupa pajak, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan dividen yang terus meningkat. 

Dividen BUMN pada kuartal 1 2020 tercatat sangat baik yaitu Rp86.94 triliun. Bandingkan sepanjang tahun 2019 dividen BUMN hanya Rp50.63 triliun dengan 10 BUMN terbesar penyumbang dividen adalah Bank BRI, Telkom, Pertamina, Bank Mandiri,  PLN, BNI, Penggadaian, Inalum, Pupuk Indonesia dan Jasa Raharja.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline