Lihat ke Halaman Asli

Krisis Moral Mahasiswa terhadap Pengajar

Diperbarui: 29 Maret 2024   17:29

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Dunia pendidikan yang seharusnya menjadi ladang ilmu dan akhlak mulia, kini tercoreng oleh minimnya kesopanan mahasiswa terhadap dosen. Fenomena ini bagaikan duri dalam daging, melukai hati para pengajar dan menggerus nilai-nilai luhur di dunia perkuliahan. Berbagai contoh perilaku tidak sopan mewarnai interaksi antara mahasiswa dan dosen. Keterlambatan datang ke kelas, tidak memperhatikan penjelasan dosen, bermain gadget saat perkuliahan, menganggap remeh tugas dan ujian, hingga berkata kasar dan tidak sopan kepada dosen adalah beberapa contoh yang sering terjadi. 

Apa yang menjadi akar permasalahan?

  • Lunturnya Nilai-Nilai Moral

Materialisme dan hedonisme merajalela, dalam beberapa tahun terakhir, ada kecenderungan meningkatnya materialisme dan hedonisme dalam masyarakat. Materialisme merujuk pada penekanan yang berlebihan pada nilai-nilai material dan materi fisik, sementara hedonisme adalah pencarian kepuasan dan kesenangan pribadi sebagai tujuan utama dalam hidup. Sehingga menggeser nilai-nilai moral seperti rasa hormat, sopan santun, dan penghargaan terhadap orang yang lebih tua.

Pengaruh media sosial yang tidak selalu positif, mempromosikan sikap arogan dan individualisme. Media sosial sering kali menjadi platform di mana individu dapat secara selektif membagikan momen terbaik dalam hidup mereka. menciptakan tekanan sosial untuk memamerkan kesejahteraan, keberhasilan, dan citra yang sempurna, yang pada gilirannya mempengaruhi orang lain untuk juga menunjukkan hal serupa. sehingaa dapat memperkuat sikap arogan dan memperkuat persepsi individualisme yang berpusat pada diri sendiri.

Lemahnya penanaman nilai-nilai moral dalam keluarga dan sekolah, sehingga mahasiswa tidak memiliki fondasi moral yang kuat. Kurangnya disiplin, kurangnya komunikasi yang terbuka, atau kurangnya keteladanan moral dalam keluarga dapat berkontribusi pada kelemahan fondasi moral pada mahasiswa.

  • Kurangnya Figur Teladan

Dosen dan staf pengajar yang terjebak dalam konflik kepentingan dan perilaku tidak etis. Ketika dosen dan staf pengajar terjebak dalam konflik kepentingan atau terlibat dalam perilaku tidak etis, akan dapat merusak kepercayaan mahasiswa dan mengurangi pengaruh positif yang dapat mereka berikan. Mahasiswa sering kali melihat dosen sebagai figur otoritas dan panutan, dan ketika mereka menyaksikan perilaku yang tidak etis, hal ini dapat mempengaruhi persepsi mereka tentang nilai-nilai moral.

Minimnya teladan dari pemimpin dan tokoh masyarakat. Ketika pemimpin dan tokoh masyarakat tidak mempraktikkan nilai-nilai moral yang konsisten, dapat membawa dampak negatif pada generasi muda. Mahasiswa membutuhkan figur teladan yang inspiratif dan memperlihatkan integritas moral yang kuat dalam berbagai bidang kehidupan, baik dalam politik, bisnis, maupun masyarakat umum.

Budaya senioritas yang tidak sehat, di mana senior menindas atau memperlakukan junior tanpa didasari pada nilai-nilai edukatif, dapat menghasilkan lingkungan yang tidak kondusif untuk perkembangan moral mahasiswa. Jika ada ketidakadilan, penyalahgunaan kekuasaan, atau perlakuan tidak hormat terhadap junior, maka mahasiswa dapat terpengaruh dan membawa pola perilaku yang serupa dalam interaksi mereka di lingkungan akademik.

  • Sistem Pendidikan yang Kurang Kondusif

Kurangnya ruang untuk pengembangan karakter dan pembinaan moral. Guru dan pendidik mungkin tidak memiliki pengetahuan atau keterampilan yang memadai dalam pengembangan karakter dan pembinaan moral. Banyak sistem pendidikan yang menekankan penguasaan pengetahuan akademik sementara aspek moral dan karakter seringkali diabaikan.  Dampak dari minimnya kesopanan mahasiswa terhadap dosen tidak hanya terbatas pada ketidaknyamanan dan ketidaksenangan para pengajar, tetapi juga menurunkan kualitas pendidikan. Mahasiswa yang tidak menghormati dosen akan sulit untuk menerima ilmu pengetahuan dan membangun karakter yang baik.

Lantas, apa yang harus dilakukan?

  • Membangun Kembali Fondasi Moral. 

Memperkuat pendidikan moral di semua tingkatan pendidikan adalah langkah awal yang krusial. Keluarga sebagai pondasi utama, perlu menanamkan nilai-nilai luhur seperti rasa hormat, sopan santun, dan penghargaan terhadap orang yang lebih tua sejak dini. Di sekolah, pendidikan moral harus diintegrasikan dalam kurikulum dan diajarkan dengan metode yang menarik dan interaktif. Kampus, sebagai tempat para calon pemimpin bangsa dididik, harus menjadi benteng moral dengan mengedepankan nilai-nilai integritas, kejujuran, dan tanggung jawab.

  • Penanaman nilai-nilai moral tidak akan efektif tanpa contoh teladan. 
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline