Lihat ke Halaman Asli

Hasan Ismail

Pribadi yang masih haus ilmu, jadi masih terus belajar dan mengaji

Wajah Humanis Layanan SIM di Samsat Corner Malang

Diperbarui: 6 Maret 2020   15:48

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Birokrasi. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG

Dari berbagai berita di lini masa menginformasikan bahwa pelayanan publik telah mengalami banyak perbaikan dan perubahan. Maka, saat berkesempatan pulang kampung saat liburan kemarin, saya sempatkan untuk membuktikan sendiri perubahan layanan pengurusan Surat Izin Mengemudi (SIM) di Samsat. Kebetulan SIM C saya mati dan tidak sempat memperpanjangnya sebelum masa berlakunya habis saat saya sedang studi lanjut ke luar negeri.

Kebetulan tempat tinggal saya di Malang masih dalam status saya kontrakkan, sehingga selama liburan saya tinggal di Kediri. Dan karena KTP saya sudah beralamatkan di Malang, maka untuk mengurus SIM ini, saya harus datang ke Samsat Corner Malang sesuai domisili. Sehingga mau tidak mau saya harus "jalan" bolak-balik Kediri-Malang selama mengurus SIM.

Karena SIM saya sudah mati, maka permohonan SIM harus dimulai dari awal lagi. Yang artinya, saya harus mulai dari pengisian form pendaftaran, dilanjutkan dengan tes teori dan terakhir dengan tes praktik.

Prosedur ini pun juga berlaku untuk pemohon yang bahkan SIM-nya baru mati sehari (seperti yang terjadi pada seorang pemohon yang sempat saya ajak bincang-bincang).

Nah, di sinipun saya baru bisa mendapatkan layanan permohonan SIM pada hari ketiga karena dua hari sebelumnya saya datang pada saat antrian sudah di luar kuota yang bisa dilayani setiap harinya. Itupun setelah saya berangkat habis subuh dan sudah harus antri di depan pintu pendaftaran bersama yang lain sebelum jam 7 pagi.

Saat pendaftaran di buka dan pendaftar antri berbaris sesuai jenis pengajuan (permohanan baru dan permohonan perpanjangan), seorang petugas pelayanan SIM yang belakangan saya ketahui bernama Bapak Umar memberikan penjelasan dan informasi mengenai prosedur, tatacara dan hal-hal lain yang perlu diketahui oleh pemohon. 

Yang perlu saya garis bawahi adalah tidak lagi kesan kaku dalam penyampaian informasinya. Saya pribadi tidak merasa ada kesan tampang sangar sangar dan wajah menakutkan dari para petugas. Yang terlihat justru wajah ramah dan murah senyum serta sesekali diselingi "joke" segar sehingga membuat suasana semakin renyah.

Tak lupa petugas juga mengimbau agar pemohon mengurus permohonan sendiri tanpa melalui perantara yang menjanjikan kemudahan. Selanjutnya, setiap baris pemohonan masuk satu persatu ke mesin antrian sesuai dengan jenis permohonannya.

Saya yang ikut kelompok pemohon SIM baru kemudian mengambil blangko permohonan yang harus diisi dan kemudian mendapatkan nomor urut. Lalu kami dipersilahkan masuk ke ruang tunggu sebelum mengikuti ujian teori yang diselenggarakan secara bergelombang.

Di dalam ruang tunggu inipun, wajah ramah Bapak Umar kembali muncul untuk memberikan arahan dan himbauan kepada pemohon terkait ujian teori dan hal lainnya. Di sini sebelum mengikuti ujian teori, peserta akan diminta mengecek ulang data pribadi serta foto di tempat. Di ruangan tunggu juga disediakan buku materi tentang berlalu-lintas yang bisa dibaca dan dipelajari untuk menambah pengetahuan.

Khusus untuk saya pribadi, sebelum mengajukan permohonan SIM baru ini, saya juga rajin membaca-baca soal ujian teori SIM yang bisa dengan mudah dicari secara online. Hitung-hitung memanfaatkan teknologi untuk menambah pengetahuan saya, khususnya tentang berlalu-lintas. Dan akhirnya, setelah sekitar 45 menit menunggu sambil baca-baca, giliran kelompok saya yang masuk ke ruangan tes teori.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline