Lihat ke Halaman Asli

Mencegah Wabah Virus Hoax

Diperbarui: 9 November 2017   22:37

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

pribadi

Hoax merupakan berita yang diramu dan dikemas seolah-olah benar. Berita hoax saat ini sangat cepat menyebar keberbagai lapisan masyarakat, seperti virus yang menyebabkan penyakit pada tubuh. Orang yang percaya akan adanya suatu berita hoax akan memunculkan sikap ketidakpercayaan pada suatu produk atau tokoh tertentu, bahkan akan mejelek-jelekkannya pada khalayak umum padahal dia belum mengklarifikasi kebenaran berita tersebut. 

Masyarakat Indonesia yang mempunyai latar belakang yang berbeda-beda tentu saja akan menjadi salah satu indikator dalam memahami tingkat kebenaran berita yang dibacanya khususnya di media sosial. Munculnya berita hoax tentu saja akan merugikan pihat tertentu yang menjadi objek pada berita tersebut. Semakin berkembangnya teknologi komunikasi serta menjamurnya media-media sosial semakin menstimulus para penyebar berita hoax untuk mengembangkan berita-berita hoaxnya keberbagai bentuk media sosial.

            Berita-berita yang bermunculan di media sosial tentu ada yang benar dan ada pula yang hoax (tidak benar). Cara mengidentifikasi kebenaran suatu berita yang kita peroleh baik di media sosial maupun media lainnya serta strategi untuk mengcounter berita hoax tersebut dapat dilakukan dengan beberapa tindakan: 

1. Menumbuhkan sikap skeptis atau tidak langsung percaya pada berita tertentu yang kita terima di media sosial, terutama konten beritanya negatif seperti menjelek-jelekkan produk, tokoh atau kejadian-kejadian yang bersinggungan dengan masyarakat umum,  

2. Mencari kebenaran berita tersebut kepada pihak yang terkait, misalnya berita tentang rekrutmen pegawai baru Angkasa Pura wilayah Airport Sumenep yang sudah tersebar di media sosial dan sudah banyak orang mengirimkan berkas lamarannya melalui email yang tertera pada pengumuman tersebut,setelah dicek ke website Angkasa Pura atau dinas terkait tidak ada perekrutan pegawai baru, maka yang dapat saya lakukan untuk mengcounter berita hoax tersebut supaya tidak bertambah korbannya yaitu menginformasikan kepada khalayak umum pada group WA atau medsos lain bahwa berita tersebut tidak benar disertai pernyataan dari pihak terkait.

3. Jika berita yang diindikasi hoax tersebut berupa gambar atau video, maka langkah yang dapat kita lakukan adalah menggunakan bantuan google image dengan memasukkan gambar yang diindikasi hoax tersebut sehingga akan muncul gambar-gambar yang sama/mirip sehingga kita dapat telusuri kebenaran informasi gambar tersebut. Jika berita tersebut berbentuk video, untuk mengetahui kebenarannya dapat kita cek di you tube atau di google dengan memilih menu video dengan mengetik judul/tema berita tersebut sehingga akan muncul beberapa video yang serupa.

Contoh berita Hoax yang pernah muncul pada beberapa group WA di HP saya yaitu peringatan tentang bahaya Aspartam pada beberapa produk minuman dengan tulisan seperti dibawah ini:

"Warning!!! Tolong disebar luaskan. Mohon ijin info Ikatan Dokter Indonesia (IDI), menginformasikan bahwa saat ini sedang ada wabah Pengerasan Otak (Kanker Otak), Diabetes dan Pengerasan Sumsum Tulang Belakang (Mematikan sumsum tulang belakang). Untuk itu, hindarilah minuman sbb: Extra Joss, M-150, kopi susu gelas, Krating daeng, Hemaviton, Neo Hormoviton, Marimas, Segar Sari shachet, Frutillo, Pop Ice, Segar Dingin Vit. C, Okky Jelly Drink, Inaco, Gatorade, Nabati, Adem Sari, Naturade Gold, Aqua Splash Fruit."
Karena ke-19 minuman tsb mengandung ASPARTAME (lebih keras dari biang gula) racun yg menyebabkan diabetes, pengerasan otak, dan mematikan sumsum tulang. Info: dr. H. Ismuhadi, MPH Mohon dishare, sayangi keluarga.

Tetapi setelah diklarifikasi IDI (Ikatan Dokter Indonesia) membantah sehubungan dengan adanya berita yang menyebar mengenai bahaya penggunaan Aspartam yang disebutkan bersumber dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dengan ini diberitahukan bahwa sesuai dengan informasi dari Sekretaris Eksekutif -- IDI bahwa IDI tidak pernah mengeluarkan pernyataan tentang hal tersebut. Aspartam dikategorikan AMAN berdasarkan Keputusan Codex stan 192-1995 Rev. 10 Tahun 2009. Codex Alimentarius Commision (CAC) adalah Lembaga Internasional yang ditetapkan FAO\/WHO untuk melindungi kesehatan konsumen dan menjamin terjadinya perdagangan yang jujur. Dalam pengaturan Codex disebutkan bahwa Aspartam dapat digunakan untuk berbagai jenis makanan dan minuman antara lain minuman berbasis susu, permen, makanan dan minuman ringan. Penggunaan Aspartam dalam makanan dan minuman sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dapat digunakan dengan batas maksimum penggunaannya masing-masing. 

Studi tentang aspartam juga dilakukan di Amerika untuk menepis isu yang menghubungkan aspartam dengan kanker. Akhirnya penelitianpun dilakukan terhadap manusia bukan pada tikus atau hewan mengenai dampak aspartame. Hasil penelitiannya dilaporkan pada 4 april 2006 dalam pertemuan American Association For Cancer Research. Hasil penelitian ini disampaikan oleh Michael Jacobsone , pemimpin dari Center For Science In the Public Interest, dimana penelitian besar ini menjelaskan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa minuman soda yang mengandung aspartame dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker. Hasil penelitian ini memperbaiki anggapan tentang resiko buruk penggunaan aspartame.

Cara mengedukasi pada siswa yang bisa dilakukan adalah menyisipkan pada materi pembelajaran, kebetulan saya mengajar Biologi. Salah satu materi dalam mata pelajaran biologi kelas XI IPA yaitu Sistem Pencernaan Makanan yang salah satu sub babnya membahas tentang zat makanan maka kita bisa menyisipkan pengetahuan tentang kebenaran informasi tentang aspartame yang sebelumnya siswa menerima informasi tidak benar (Hoax). Selain itu juga bisa dilakukan dengan memanfaatkan mading sekolah, Membuat pojok info Hoax dan Anti Hoax pada mading supaya dapat dibaca oleh semua siswa yang kurang informasi tentang kebenaran berita hoax yang merebak dimedia sosial mereka. Tokoh Monster (Hoax) dan Ultraman (Pahlawan Anti Hoax) yang ditampilkan pada info tersebut akan menarik perhatian siswa dan secara sengaja maupun tidak disengaja mereka akan membaca informasi tersebut sehingga akan merubah pemahaman mereka tentang informasi yang benar.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline