Lihat ke Halaman Asli

Hadi Santoso

TERVERIFIKASI

Penulis. Jurnalis.

4 Hikmah Idul Fitri yang Perlu Dikenalkan Kepada Anak

Diperbarui: 16 Juni 2018   21:10

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ada beberapa hikmah dari Idul Fitri yang bisa kita kenalkan kepada anak. Salah satunya saling memaafkan dan melupakan benci/Foto: Liputan6.com

Alhamdulillah, Idul Fitri datang lagi. Dari hati, saya dan keluarga tulus menyampaikan mohon maaf lahir dan batin. Selamat merayakan hari kemenangan, selamat berkumpul bersama keluarga dan selamat menikmati aneka hidangan yang ngangeni.  

Sejak tadi malam hingga sore ini, gawai saya terus meraung memberitahu ada pesan baru masuk di "ruang tamu" WhatsApp saya. Ada banyak kawan yang bersilaturrahmi lewat gawai sembari berkabar  perayaan Lebaran. Begitu juga di media sosial yang tidak kalah ramai oleh foto kawan dan keluarganya. Plus, foto anak-anak mereka dengan "hasil buruan" di hari pertama Lebaran.

Saya tergelitik oleh foto di akun media sosial seorang kawan yang memajang putranya nyang sedang menghitung uang kertas dengan narasi begini "serunya jadi bocah, saat Idul Fitri berkunjung ke kerabat dengan harapan menerima beberapa lembar rupiah baru dan begitu sampai di rumah, antusias menghitung lembar demi lembar dengan angan-angan akan dibuat beli apa".    

Ya, Lebaran memang periode menyenangkan bagi hampir semua orang. Terutama anak-anak yang mendapat "hujan rezeki". Namun, Lebaran bagi anak-anak bukan hanya tentang 'salam tempel'. Ada beberapa hikmah mulia dari Idul Fitri yang bisa kita kenalkan kepada anak-anak.  

Meminta maaf dan berterima kasih kepada orang tua

Idul Fitri adalah waktu terbaik untuk menguatkan hubungan antara anak dan orang tua. Bila sebagai anak pernah ada salah, inilah momentum terbaik untu meminta maaf serta berterima kasih dan mengenang kembali jasa-jasa orang tua. Itu hal pertama yang coba saya ajarkan kepada dua anak saya yang baru berusia hampir 7 tahun dan 5,3 tahun.

Pagi tadi, setelah mengikuti sholat Ied yang kata mereka kok seperti Sholat Jumat (karena ada hotbahnya), saya lantas mengenalkan kepada mereka tentang "sungkeman" kepada orang tua. Bahwa, dalam Idul Fitri, orang pertama yang harus mereka meminta maafnya adalah orang tua. Kalaupun tidak bisa berjabat tangan langsung dikarenakan sesuatu hal, kita bisa melakukan video call ataupun telpon seperti yang kami lakukan pagi ini karena tidak mudik ke rumah mertua di Betawi.

Menurut saya ini penting agar kelak ketika mereka besar, mereka bisa menempatkan orang tua sebagai manusia yang wajib mereka muliakan. Bukankah ridho Allah itu berawal dari ridhonya orang tua? 

Dan, sembari sungkeman khusyu, saya sampaikan harapan kepada mereka agar bisa tumbuh menjadi anak yang terus belajar memperbaiki kesalahan. Semisal lebih taat dan mendengarkan nasihat serta berbicara dengan lemah lembut kepada orang tua.  

Saling memaafkan, membuang jauh rasa benci

Setelah itu, saya lantas mengajak mereka berkeliling ke rumah tetangga yang kebetulan tahun ini tidak mudik. Termasuk bertemu dengan kawan-kawan sepermainan mereka. Tiba-tiba si kakak nyeletuk, "nggak mau minta maaf sama si A, dia kan anaknya nggak baik, suka jahat sama kakak," ujar si kakak.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline